Membangun Mental Anak Berani Bicara

20 Agustus, 2016 at 8:18 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Geliat pembangunan mental anak melalui pendidikan non formal khususnya di taman bacaan masyarakat dewasa ini nampak terus bergaung di seluruh wilayah tanah air kita. Hal tersebut nampak terlihat disalah satu komunitas pengelola dan pengurus taman bacaan masyarakat yang tergabung dalam satu wadah 1001 buku, dimana setiap pengelola dapat saling berinteraksi dan bertukar informasi mengenai berbagai hal tentang taman bacaan yang dikelolanya. Sementara dari pihak 1001 buku yang merupakan satu komunitas sukarelawan yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap taman bacaan masyarakat, mempunyai satu kegiatan rutin mengedepankan perkembangan dan kemajuan TBM karena selalu mendonasikan sarana taman bacaan masyarakat berupa koleksi buku untuk menambah koleksi TBM yang menjadi anggotanya setelah melalui regristasi terlebih dahulu.

Suatu langkah yang patut diapresiasi dan ditiru oleh semua kalangan yang mempunyai kelebihan dalam materi. Sekecil apapun donasi dari para dermawan pendidikan selalu ditunggu dan diharapkan oleh pemustaka yang tersebar di seluruh wilayah tanah air, agar langkah mencerdaskan bangsa ini dapat benar-benar terwujud suatu hari kelak. Karena langkah mencerdaskan bangsa ini bukan hanya tanggungjawab pendidik, orangtua, ulama tetapi merupakan tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat.

Masyarakat yang beragam harus berperan serta dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Meskipun sekelompok masyarakat tersebut tidak memiliki kelebihan dalam materi atau intelektual, tetap harus ikut berperan aktif setidaknya dengan menciptakan suasana yang aman dan nyaman untuk proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah ataupun di lembaga nonformal yang ada. Bahkan setiap orang/individu harus turut memberi ilmu atau menjadi guru setidaknya bagi diri sendiri dan orang lain disekitarnya dengan cara memberi contoh tingkah laku yang baik.

Menjadikan TBM sebagai salah satu tempat belajar adalah suatu langkah yang tepat karena anak-anak mempunyai berbagai keunikan dan kelebihan yang berbeda satu dan lainnya. Seorang anak yang mempunyai kelebihan dibidang akademik belum tentu unggul dalam bidang kemandirian dan keberanian untuk menyampaikan sesuatu didepan orang lain atau sebaliknya. Anak yang nampak percaya diri menghadap bapak ibu guru bukan berarti tak memiliki rasa minder dengan teman-teman lainnya, atau anak yang kelihatannya super culun dan kuper jangan dipandang kekurangannya. Marilah kita gali dari berbagai sudut karena mereka pasti memiliki salah satu kelebihan sebagaimana anak-anak lainnya.

Berbagai penggalian di sekolah mungkin membuatnya malu karena harus menyampaikan kepada guru atau didepan kelas. Seperti kita ketahui pada masa anak-anak bahkan untuk mengeluarkan pendapat atau menjawab pertanyaan saja alangkah malu dan takutnya. Sehingga melalui TBM barangkali anak akan mempunyai keberanian daripada sebelumnya karena lebih sedikit masyarakat sekolah yang dihadapi dan pengelola TBM yang biasanya merupakan warga sekitar akan menambah keberanian untuk menanyakan segala sesuatu hal dengan suasana yang tidak formil.

Salah satu penggalian karakter tersebut dapat dilakukan melalui pengenalan dunia baca melalui berbagai cara, misalnya dengan pelan-pelan mengajak bermain ke TBM, tidak harus membaca, bisa membiarkan anak sesukanya mau duduk-duduk saja atau langsung melihat isi buku. Beberapa kali diajak ke TBM akan memunculkan perasaan penasaran terhadap apa yang ada di balik tumpukan buku-buku tersebut.

Dari melihat tumpukan buku akan timbuk niat untuk mengambil salah satunya karena mungkin melihat gambar sampulnya yang menarik. Pelan-pelan anak akan membuka-buka isi buku, mengembalikan buku, mengambil lagi, berganti buku lagi adalah hal yang biasa. Satu nilai yang cukup tertanam adalah tanpa disadari anak telah melihat dan membaca judul buku yang telah diambilnya.

Bermula dari situ tanpa kita sadari telah terekam di memori anak bahwa kelak di suatu saat anak akan mengingat telah mengenal salah satu buku yang telah diambilnya sehingga menjadi pengetahuan yang sangat berharga dan takan terlupakan. Sebagai contoh anak mengambil buku dengan judul Bung Tomo pahlawanku, setelah diambil ternyata anak tidak mau membacanya karena didalamnya tidak bergambar atau terlalu banyak tulisan, lalu anak mengembalikannya, maka anak menjadi tahu kalau Bung Tomo bukan sembarang orang tetapi seorang pahlawan, kemungkinan suatu hari sang anak akan menanyakannya kepada guru di sekolah. Kemungkinan suatu hari anak akan mencari buku tersebut setelah guru mengajari pelajaran sejarah. Biasanya anak akan memiliki kebanggaan telah mengenal terlebih dahulu pahlawan yang diceritakan oleh gurunya.

Membentuk karakter tidak semata-mata menciptakan anak menjadi suatu bentuk pribadi yang kita inginkan, karena apa yang kita lakukan akan selalu berbenturan dengan pribadi anak/semua individu yang sudah pasti memiliki kemauan dan keinginan yang sangat berbeda dengan orang lain, termasuk dengan kita orangtuanya. Lingkungan juga menjadi sebab perbenturan keinginan kita dengan anak karena pergaulannya tak dapat kita hindari akan menjadi salah satu faktor pembentuk kepribadiannya. Sehingga menjadi hal yang pasti terjadi saat kita melalui proses pembentukan terhadap anak-anak kita adalah pertentangan karena masing-masing anak/pribadi memiliki alasan dan kesenangan yang kuat meskipun masih anak-anak, mereka pastilah dapat menjawab dengan alasannya sendiri jika kita tanyakan mengapa tidak mau ini tidak mau itu, maka orangtua harus menjadi pihak yang paling mengerti bahwa mereka memang belum mengerti.

Hal tersebut menunjukan bahwa siapapun sejak lahir sudah memiliki kekuatan untuk meyakini sesuatu yang menurutnya benar meski itu tak selamanya baik atau benar. Hal tersebut dilandasi oleh sifat dasar manusia yang pasti ingin dihargai, diakui, dan dipakai pendapatnya oleh orang lain sesuai dengan diinginkannya dengan berbagai argumen yang kuat, baik itu alasannya bisa diterima oleh orang lain atau tidak, sesuai dengan logika yang ada atau tidak. Alasannya tersebut akan terus dipertahankan meski orang lain tak pernah menyetujuinya dan ia akan terus berusaha untuk meyakinkan orang lain bahwa apa yang dipertahankanya tersebut benar, agar orang lain menyetujui apa yang disampaikannya.

Kembali ke pembangunan mental anak melalui taman baca, setelah anak-anak kita perkenalkan kepada koleksi ia akan mempunyai satu pandangan terhadap bagaimana taman baca, meskipun hanya setitik dibandingkan kegemarannya terhadap hal lain. Hal tersebut akan menjadi bekal yang suatu saat kelak menjadi awal langkah dalam menempuh pendidikan di lembaga formal atau nonformal selanjutnya.

Mungkin saja di sekolah formal hal tersebut kurang menonjol karena banyaknya materi dari berbagai pelajaran yang ada, sementara waktu istirahat biasanya digunakan untuk jajan. Banyak anak-anak tak pernah datang ke perpustakaan yang ada di sekolah, entah karena sibuk jajan waktu istirahat atau memang tak mempunyai minat terhadap bacaan, atau karena belum adanya pendidikan suka membaca secara khusus, sehingga tidak adanya petugas yang secara khusus mempunyai jam khusus untuk mengajak akan membaca, khususnya di sekolah dasar.

Sementara waktu yang memang tak seberapa di taman baca tetapi hal ini adalah waktu yang secara khusus sehingga manfaatnya menjadi lebih fokus untuk mengetahui apa yang ada di taman baca. Suatu hari kelak akan mengantarkan anak ke dunia yang sungguh menyenangkan karena anak yang suka membaca akan memiliki wawasan yang luas dan dapat mengambil sikap dalam setiap masalah yang dihadapinya karena meski kehidupan ke depan belum dilaluinya tetapi berbagai permasalahan yang dihadapai manusia dalam kehidupan beserta solusinya yang beranekaragam dengan berbagai resiko yang ditimbulkannya telah diketahuinya dari membaca, maka ia akan sangat mudah menyesuaikan diri dalam semua pergaulan baik dengan seusianya maupun dengan orang yang lebih dewasa. Bahkan orang yang gemar membaca akan dapat memberikan pendapat terhadap berbagai permasalahan yang terjadi sehingga orang lain akan sangat menyukainya sebagai sahabat, teman bicara atau berbagi masalah karena ia akan memberi saran-saran yang bermanfaat.

Seyogyanya orangtua mengambil peran dalam pengembangan anak-anak dan pendidikannya, baik melalui lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Di lembaga nonformal waktu yang diperlukan tidak terlalu banyak sebagimana di lembaga formal sehingga orangtua dapat menyesuaikan dengan waktu dimana orangtua mempunyai waktu libur walaupun hanya satu atau dua jam untuk mengantarkan anak ke taman baca, dan hal tersebut bisa dilakukan tidak terikat waktu, bisa dilakukan di hari libur saat lembaga formal libur. Melalui media suara guru ini kami mengajak kepada pengurus dan pengelola TBM jika ingin bergabung dengan 1001 buku bisa regristasi melalui karena dapat menambah informasi dan bersahabat dengan pengurus TBM lain. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Menghadapi Anak Gagap, Gugup, dan Gemetar Mengenal Hubungan Interpersonal yang Positif dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: