Mengenal Gerakan Membaca dalam Cerpen Anak

19 Agustus, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah
Ketika saya membuka halaman Opini di Kompas, 6 Agustus 2016, hal.6, saya tertarik dengan tulisan Doni Koesoema A, yang berjudul “Pekerjaan Rumah Mendikbud”. Dalam tulisan tersebut, disinggung tentang pendidikan karakter, demikian :

Isu tentang nasionalisme dan kebangsaan telah mendorong Mendikbud Anies Baswedan mengeluarkan Permendikbud tentang Penumbuhan Budi Pekerti dan mendorong gerakan publik terlibat dalam peningkatan kualitas pendidikan, seperti gerakan hari pertama orangtua mengantar anak masuk sekolah, masa perkenalan lingkungan sekolah yang anti kekerasan, serta mendorong gerakan membaca 15 menit untuk memperkaya wawasan dan menumbuhkan minat baca anak Indonesia.

Dari tulisan tersebut di atas, saya ingin fokus di kalimat “mendorong gerakan membaca 15 menit untuk memperkaya wawasan dan menumbuhkan minat baca anak Indoensia”. Mengapa saya fokus dengan kalimat tersebut ? Karena ada kata “gerakan” dan “menumbuhkan minat baca”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), yang dimaksud dengan gerakan, yaitu : perbuatan atau keadaan bergerak (air, laut, mesin); pergerakan, usaha, atau kegiatan di lapangan sosial; kebangkitan (untuk perjuangan atau perbaikan).

Dari pengertian tersebut, saya mencoba memilah-milah cerpen dan dongeng yang dimuat di majalah anak-anak “Bobo”. Akhirnya saya menemukan cerpen dan dongeng yang mengungkapkan berbagai upaya agar anak-anak mau belajar membaca, dan kemudian tumbuh minat mereka membaca. Di sinilah kemahiran penulis cerpen dan dongeng dalam menuangkan kreativitasnya agar pembaca pun tertarik untuk mengapresiasi cerpen dan dongeng bahwa belajar membaca, dan kemudian tumbuh minat membaca adalah penting bagi anak-anak.

Cerpen dan dongeng, yang saya maksud, adalah :
1.Cerpen “Mbak yang Baru”, karya Sitta M Zein, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 13 Agustus 2015, hal.22-23.
2.Cerpen “Buku-buku Andaru”, karya Gita Lovusa, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 24 September 2015, hal.26-27.
3.Dongeng “Hujan Buku”, karya Laksmi P. Manohara, dimuat di majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 29 Oktober 2015, hal.16-17.

Berikut saya ingin menunjukkan bahwa cerpen-cerpen tersebut memuat tentang gerakan membaca :

1.Cerpen “Mbak yang Baru”

Sitta M Zein, sebagai penulis cerpen “Mbak yang Baru”, ingin menyampaikan bahwa orang yang berasal dari kampung pun ada yang mampu membaca koran dan buku cerita. Bahkan mampu membacakan cerita, dan bercerita untuk orang lain. Dia adalah Mbak Ipah, seorang pembantu rumah tangga baru yang bekerja di rumah Davin. Dikatakan baru, karena Mbak Ipah menggantikan Mbak Mis (pembantu rumah tangga yang lama). Dari gerakan Mbak Ipah tersebut, Davin merasa terbantu. Gerakan Mbak Ipah tersebut, tertulis demikian :
Begitu sepinya suasana rumah sampai Davin ragu, Mbak Ipah ada di rumah. Untuk meyakinkan diri, ia pun keluar kamar dan melongok ke belakang. Mbak Ipah tampak duduk di depan dapur, di bangku yang biasa diduduki Mbak Mis. Ia sedang membaca koran.

“Ada apa, Dik?” Mbak Ipah bangkit sambil meletakkan koran begitu melihat Davin.
Davin yang tidak menyangka Mbak Ipah melihatnya, menjadi gugup. “Ehm…”
“Mbak buatkan jus tomat mau, Dik?” kata Mbak Ipah sambil berjalan mendekatinya.
“Davin mengangguk kaku. Dengan cekatan, Mbak Ipah membuatkan jus tomat untuk Davin. Begitu selesai, diulurkannya segelas jus pada Davin.

“Minumnya sambil duduk di belakang, yuk,” kata Mbak Ipah menunjuk bangku yang tadi didudukinya. “Ada cerita anak bagus, lo, di koran hari Minggu kemarin. Mau Mbak bacakan ?”
Davin menatap Mbak Ipah. Agak aneh rasanya. Mbak Mis dulu tidak pernah membacakan cerita untuknya. Melihat Davin yang tampak ragu, Mbak Ipah tersenyum dan menggandengnya menuju bangku panjang.

Sejak hari itu, hampir setiap siang Mbak Ipah membacakan cerita untuk Davin. Tidak hanya dari koran yang ada di rumah Davin. Ternyata Mbak Ipah juga membawa buku cerita anak-anak dari kampungnya. Buku itu sudah lusuh, tetapi banyak cerita bagus di dalamnya (hal.23).

2.Cerpen “Buku-buku Andaru”

Dalam cerpen “Buku-buku Andaru”, Gita Lovusa ingin mengungkapkan gerakan yang dilakukan oleh Andaru. Dia begitu semangatnya membantu anak, yang ternyata suka membaca seperti dirinya. Gerakan yang dilakukan Andaru, disampaikan seperti berikut :
Saat pulang sekolah, Andaru mampir ke Warung Kampung dekat sekolahnya. Saat sedang memilih-milih camilan, Andaru melihat dua anak perempuan di dekatnya. Dua anak itu berpakaian kusam. Rambut mereka juga terlihat kasar.

Anak yang lebih besar membawa sebuah kardus. Dari isi kardus itu, Andaru menduga mereka mengumpulkan gelas dan botol plastik bekas untuk dijual kembali. Andaru mendengar pembicaraan mereka.
“Ini apa, Kak?” tanya anak yang lebih kecil.
“Kayaknya, sih, buku cerita,” sahut kakaknya.
“Bagus.” Si adik membalik-balik halaman buku lusuh itu. Sampul buku itu juga sudah rusak.
Andaru mendekati kedua anak perempuan itu. “Adik suka baca buku, ya?”
Si adik tampak kaget disapa Andaru. Ia diam dan mendekat ke kakaknya.
“Ditanya, tuh. Nalang suka baca, nggak?” Si kakak mengulang pertanyaan Andaru pada adiknya yang bernama Nalang itu.
Nalang bersembunyi di balik bahu kakaknya. Ia mengangguk kecil sambil terus memegang buku lusuh tadi.
Wajah Andaru berubah ceria. “Pas Kakak punya buku-buku cerita untuk Nalang. Mau?”
“Mau…,” jawab Nalang dengan suara pelan.
Besok ke sini lagi, ya. Kakak bawakan buku-bukunya.” (hal.26)

3.Dongeng “Hujan Buku”

Laksmi P. Manohara, sebagai penulis dongeng “Hujan Buku”, ingin menyampaikan bahwa ada raksasa yang mempunyai koleksi buku, dan suka membacakan dongeng kepada anak-anak. Kehadirannya selalu dinanti-nanti oleh anak-anak di taman, untuk mendengarkan bacaan cerita yang dibawakan oleh raksasa itu. Laksmi P. Manohara memberi nama raksasa itu, Bilbil, dan berikut gambaran Bilbil :
Pak Lodi dan anak-anak desa Soluna sudah ramai berkumpul di taman. Namun Bilbil belum juga nampak. Bilbil adalah raksasa baik hati yang tinggal di atas bukit, tak jauh dari desa. Rumah Bilbil penuh dengan koleksi buku berukuran besar. Bilbil sangat pandai membacakan dongeng. Karena itulah, Pak Lodi sang guru sekolah, meminta Bilbil menghibur anak-anak desa.

Setiap bulan di hari kedua belas, Bilbil biasanya akan membacakan dongeng seru dari salah satu buku miliknya. Namun kali ini, ia tidak muncul. Anak-anak desa Soluna harus kecewa (hal.16).
Suatu saat, Bilbil tidak bisa membacakan dongeng kepada anak-anak, karena kacamatanya rusak. Pak Lodi, guru sekolah, memberi pertolongan dengan cara memperbaiki kacamata Bilbil. Akhirnya, Bilbil bisa melanjutkan kesukaannya membacakan cerita kepada anak-anak, seperti ini :
“Mengapa kau tidak datang ke taman hari ini? …,” tanya Pak Lodi.
“Kacamataku tak sengaja terinjak. Tanpa kacamata itu, pandanganku jadi kabur. Aku tak bisa menemukan buku yang kucari. Padahal, anak-anak pasti menunggu kelanjutan dongeng Putri Salju, kan? …. Maafkan aku,” jelas Bilbil penuh penyesalan.
“… aku akan membantumu memperbaiki kacamata yang pecah. Aku juga akan membantumu mencari buku Putri Salju. Anak-anak sudah tak sabar ingin mendengarmu mendongeng.” (hal.17).

Dari pembelajaran tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :

1.Siapa pun bisa menjadi penggerak, pembangkit, dan pejuang, agar anak-anak tumbuh minatnya untuk membaca. Dengan demikian, wawasan mereka pun menjadi kaya.
2.Cerpen adalah bagian dari sastra. Menurut Riris K. Toha-Sarumpaet (2010:2), sastra adalah cerita mengenai kehidupan yang memampukan manusia menjadi manusia. Sastra dengan cara yang khas menyampaikan peristiwa yang (menjadi) khas pula.
Sebagai tambahan, berikut saya sertakan juga catatan kecil, bahwa membaca itu banyak keuntungannya (majalah “Bobo”, Tahun XLIII, 13 Agustus 2015, hal.4), antara lain :

• Tahu lebih banyak : dengan membaca buku, kita akan mendapat banyak ilmu. Bahan bacaan itu tidak hanya dari buku saja, tetapi juga bisa dari koran, malajah, dan lain-lain. Banyak informasi dan pengetahuan tersebar dari berbagai sarana.

• Melatih konsentrasi : saat membaca, mata dan otak kita menjadi fokus dengan apa yang kita baca. Jika kita sering membaca, maka kita akan lebih sering fokus sehingga konsentrasi kita jadi lebih meningkat.

• Daya ingat meningkat : selesai membaca, cobalah kita ingat-ingat lagi dengan cara membuat rangkuman atau menceritakan kembali apa yang telah dibaca. Dengan begitu, daya ingat kita akan terus meningkat.

• Punya kosakata baru : buku pasti punya banyak kosakata. Nah, jika kita rajin membaca, kita akan menemukan kosakata yang belum kita temukan sebelumnya. Makin banyak membaca, makin banyak kosakata baru yang kita punya.

• Percaya diri untuk bicara : dengan membaca, kita mendapat banyak pengetahuan dan informasi. Dengan banyaknya pengetahuan dan informasi yang kita miliki itu, kita tidak perlu ragu untuk berbicara di depan umum.

• Jago berpikir : sebuah tulisan umumnya terdiri dari susunan kata, susunan paragraf, ide pokok, induk kalimat, anak kalimat, dan lain-lain. Dengan sering membaca buku, otak kita jadi terlatih untuk berpikir secara sistematis.

• Jago menulis : dengan sering membaca, kita jadi sering menemukan berbagai susunan kalimat, macam-macam gaya penulisan, dan kosakata baru. Dari situ, kita jadi belajar untuk membuat tulisan sendiri.

Referensi :
• Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2001.
• Sarumpaet, Riris K. Toha, Pedoman Peneltian Sastra Anak, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Cetekan Ke-2, 2010.
(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menghadapi Anak Keras Kepala dan Malas Menghadapi Anak Gagap, Gugup, dan Gemetar


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: