Mengenal Spirit Guru dalam Cerpen Anak

16 Agustus, 2016 at 12:00 am

Oleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Saya sering mendengar dari anak-anak tentang perilaku guru-guru mereka. Ada anak yang mengungkapkan, demikian :

“Guru saya itu orangnya rajin benar. Dia selalu yang pertama datang ke sekolah”.
“Guru saya itu, kalau mengajar tampak semangat sekali”.
“Guru saya itu, selalu mengajak anak-anak agar bisa bersyukur”.

Dari ungkapan anak-anak itu, saya teringat dengan kumpulan cerpen, karya Daoed Joesoef, yang berjudul “Teman Duduk”. Dari sepuluh cerpen yang tersedia, saya tertarik dengan dua cerpen, yaitu cerpen yang berjudul “Patung Guru” dan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Kedua cerpen tersebut, jika digali, memunculkan pembelajaran tentang spirit guru.

Apa yang dimaksud dengan spirit ?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, spirit adalah semangat, jiwa, sukma, roh.

Berikut ini, saya ingin menunjukkan spirit guru yang diungkapkan dalam kedua cerpen, yaitu “Patung Guru” dan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa”.

A.Cerpen “Patung Guru”
Cerpen dibuka dengan cerita tentang letak patung guru. Melalui bangunan patung yang ada prasastinya itu, bisa diketahui siapa yang membuat patung, mengapa dibuat patung, dan dari bahan dasar apa patung itu dibuat ? Berikut ungkapan yang tertulis :
Diceritakan bahwa di pusat kota terdapat sebuah alun-alun. Di sudut pinggir alun-alun itu, agak tinggi menjulang ke atas, berdiri dengan megahnya sebuah patung, warga kota ini menamakannya Patung Guru (hal.21).

Seperti lazimnya pada setiap patung, pada fondasi di tempat ia berdiri sebenarnya terdapat sebuah prasasti yang menyebut nama orang yang dipatungkan itu serta sedikit uraian jasa-jasanya sebagai pendidik. Dari tulisan di prasasti itu dapat diketahui bahwa patung ini didirikan oleh para kakek dan nenek dari generasi siswa yang kini masih berada di bangku sekolah (hal.21).

Kemudian, bekas muridnya yang pada waktu itu berkedudukan memimpin bersepakat untuk membuatkan patungnya. Patung terbuat dari tembaga dan diberikan lapisan emas sehingga cemerlang. Emasnya berasal dari tambang yang dipimpin oleh teknisi lulusan menenangah kejuruan teknik yang pendiriannya dahulu diprakarsai oleh guru yang satu ini (hal.24).
Jika disimak, cerpen “Patung Guru” bisa dibagi menjadi dua bagian.

Bagian pertama, ketika guru masih hidup atau sebelum dibuat patung. Bagian kedua, ketika guru sudah meninggal dunia atau ketika menjadi patung. Kedua bagian itu juga mengungkapkan bahwa guru tersebut memiliki spirit yang tinggi.

Spirit guru sebelum meninggal dunia (sebelum dibuat patung), antara lain :

1.Mencintai profesi guru
Disebutkan bahwa ada guru yang begitu kuat mencintai profesinya sebagai guru. Hal tersebut dapat dilihat dari tulisan berikut :
Ketika daerah ini dikembangkan statusnya menjadi provinsi, seluruh pemimpin masyarakat sepakat untuk mencalonkan guru yang satu ini menjadi gubernur. Dengan lembut tetapi pastiu, dia menolak. Sebagai gantinya dia mengharapkan dukungan masyarakat untuk mendirikan sebuah sekolah menengah kejuruan teknik yang pertama di pemukiman ini. Usul ini disambut baik dan dia ditetapkan dengan suara bulat sebagai direkturnya (hal.23).

2.Ulet
Disamping guru tersebut mencitai profesinya sebagai guru, guru tersebut juga adalah guru yang ulet. Keuletannya dapat dibaca, seperti berikut :
Bila kesempatan memungkinkan guru yang satu ini menjalani setiap kampung dan di situ menjelaskan kepada semua orang betapa pentingnya sekolah sebagai tempat menggali ilmu pengetahuan (hal.22).

3.Mempunyai kemauan yang keras untuk belajar dan bekerja

Disamping ulet, guru tersebut juga mempunyai kemauan yang keras untuk belajar dan bekerja. Lihat ungkapan berikut :

Demikian guru yang satu ini bekerja keras dan belajar keras untuk memasayaratkan ilmu pengetahuan dan keterampilan (hal.23).
Ketika guru tersebut telah meninggal dunia, dan kemudian dijadikan patung, lama-kelamaan orang-orang sudah tidak mempedulikan lagi, seperti tertulis demikian :

Setelah selama tiga generasi Patung Guru berdiri, orang tidak memperdulikan lagi. Patung yang dahulu menjadi kebanggaan kota kini dianggap biasa-biasa saja. Bahkan, sudah ada suara-suara yang ingin menurunkan patung itu dan menggantikannya dengan sebuah patung “modern” yang dianggap lebih sesuai dengan abad XXI (hal.25).

Meskipun sudah menjadi patung, simbol-simbol yang menandakan

sebagai guru yang mempunyai spirit yang tinggi, dapat dicerna pada saat bercakap-cakap dengan seekor burung Gelatik. Percakapan yang mengandung simbol-simbol tersebut dapat disimak, berikut ini :
1.Ikhlas
Guru tersebut secara iklas mempersilahkan burung Gelatik untuk mematuk sedikit demi sedikit emas yang melapisi dirinya, dan kemudian diberikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya. Lihat percakapan mereka :

“Wahai Gelatik,” kata patung memecahkan kesunyian,”kau sebenarnya dapat membantuku.”
“Baiklah, katakanlah, bantuan apa yang kau harapkan dari‘ku!”
“Terima kasih wahai Gelatik. Kau lihat emas yang melapisi tubuhku ini?”
“Ya, lantas mesti kuapakan?”
“Kau kupas dengan paruhmu sedikit, kemudian kau antarkan kepada orang-orang yang memerlukannya … nun jauh di sana … bertebaran di berbagai tempat …!”
“Kekuatan yang kita pakai untuk melayani orang lain akan segera pulih kembali. Percayalah! Lebih-lebih kalau kau gembira dan iklhas dalam melakukan itu.”
“Baiklah, akan kucoba melakukan yang kau kehendaki… Demi persahabatan kita.”
“Sudahlah, jangan dipersoalkan dahulu keikhlasan itu. Sekarang katakan kepada siapa-siapa saja harus kuserahkan emas yang nanti berhasil kusobek dari tubuhmu itu?!” (hal.29).
2.Pengorbanan
Guru tersebut mengorbankan kulitnya yang berupa lapisan emas untuk diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan sesuatu, agar keinginannya tercapai. Lihat tulisan yang begitu trenyuh :
“Kau mulai dari orang yang sekarang sedang duduk termenung di depan jendela rumah kecil di lorong becek itu …!”
“Dia seorang gadis yang dipindahkan dari daerah lain ke kampung terpencil di tepi sungai daerah kita ini untuk mengajar di sebuah sekolah dasar kecil. Kemarin dia menerima telegram ibunya sakit keras … sudah tua ….kemungkinan sekali akan meninggal …Gadis itu sekarang sedih sekali. Dia mencintai ibunya dan dia juga mencintai murid-muridnya….”
“Lalu kepada siapa lagi?”
“Di lorong lainnya, kau lihat ‘tu, ada seorang wanita yang sedih meratap karena suaminya harus dioperasi. Aku yakin operasi akan berhasil … anaknya empat orang masih kecil-kecil …., tetapi dia tidak mempunyai uang untuk biaya operasi….”
“Siapa lagi,” potong Gelatik dengan cepat.
“Kau lihat ‘tu!” sambung patung,”seorang anak berbakat musik dengan bersusah payah telah menabung uang untuk membeli biola. Uang sudah terkumpul, biola sudah tersedia untuk dibeli, tiba-tiba uang itu diperlukan untuk mendirikan rumah orangtuanya di kampung yang turut terbakar. Dia sedih sekali dan sedang perang batin antara membeli biola atau mengirim uang itu ….”
“Siapa lagi sesudah ini?”
“Seorang anak dari keluarga miskin sedang tekun belajar menghadapi ujian guna memenangkan beasiswa. Orangtuanya di kampung, dia di sini hanya menumpang tidur pada pamannya kuli pabrik. Dia sudah mengurangi makannya karena tidak punya uang, tetapi juga memerlukan buku. Aku yakin dia pasti lulus kalau saja buku itu dibacanya ….”

Demikianlah, burung Gelatik mulai bekerja menguliti patung, kemudian menerbangkannya ke orang yang harus menerimanya.
Akhirnya seluruh lapisan emas Patung Guru telah habis terkelupas kecuali yang melapisi bagian mata.

“Teruskan, teruskanlah wahai Gelatik! Masih ada beberapa orang lagi yang memerlukan sekali kulit emasku ini. Mereka masih dapat ditolong asal saja lapisan emas mataku kau ambil juga.” (hal.29-31).

3.Mempunyai ideal yang tinggi untuk membangun peradaban
Guru tersebut meyakini bahwa kegiatan membaca sangat bermanfaat untuk membangun peradaban. Baginya, peradaban seseorang dimulai dari keinginantahuannya untuk memiliki pengetahuan. Setelah mendapatkannya, seseorang akan memberikan juga kepada orang lain. Lihat ungkapan yang mengharukan, demikian :

“Jangan, Gelatik … Jangan pergi dulu!”
“….Dekat sekali dari sini … lihat cahaya itu …. Ia datang dari kamar seorang gadis kecil. Dia biasa membaca, dengan uang sakunya mengumpulkan buku. Semua bukunya tersedia untuk dipinjam oleh teman-temannya. ….Teman-temannya pasti senang dengan meminjam buku-buiku baru. Gadis itu mempunyai ideal yang tinggi : membagi pengetahuan miliknya dengan orang lain … secara cuma-cuma.”
“Dekat fondasi tempat aku berdiri ini ada ditanam serumpun Melati. Kau petik sebuah kembang yang masih segar dan serahlanlah itu pada gadis cilik tersebut!”
“…aku yakin Melatimu pasti laksana siraman sejuk bagi pertumbuhan dan perkembangan idealnya yang baik itu ….” (hal.36).
Cerpen “Patung Guru” ditutup dengan cerita dirobohkannya Patung Guru tersebut dengan alasan keadaannya sudah tidak sedap dipandang mata. Pun, saudaranya Gelatik juga diceritakan mati, karena kehabisan tenaga. Kemirisan perjuangan guru tersebut dan burung Gelatik, diungkap demikian :

Selanjutnya, diceritakan bahwa Patung Guru dirobohkan karena Patung Guru tidak lagi kuning berkilauan karena lapisan emasnya, tetapi sudah berwarna hitam kehijauan, tak sedap dipandang mata (hal.32). Sedangkan burung Gelatik mati di kaki patung, karena telah kehabisan tenaga, sehingga tidak mampu lagi terbang tinggi (hal.38).

B.Cerpen ”Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”
Masih dalam kumpulan cerpen “Teman Duduk”, khususnya yang berjudul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, Daoed Joesoef menceritakan seorang guru yang bernama Bu Sundari. Dia bersiap-siap untuk memasuki masa pensiun sebagai guru. Untuk itu ia masih berkeinginan agar sisa waktu tiga bulan, bertepatan menjelang kenaikan kelas atau akhir tahun pelajaran. Hal tersebut disampaikannya pada kepala sekolah dan para guru ketika berapat, seperti berikut ini :

“Begitulah tadi proses dialog yang terjadi di sekolah empat bulan yang lalu, yang mengawali masa pensiunku sebagai guru SD, di tahun 2000 ini, akhir abad XX. Umurku 60 tahun dan sudah menjadi pengajar selama 44 tahun terus-menerus….” (hal.54).
Dalam cerpen “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, dapat disimak spirit Bu Sundari yang luar biasa, antara lain :

1.Senang dengan profesi guru
Sebagai guru, Bu Sundari menilai bahwa guru adalah profesi dan dia senangprofesi yang diajalani itu. Kesenangannya itu terungkap dalam kata-kata berikut :

“….Aku menyenangi profesi pekerjaanku, walaupun untuk mencapai lokasi kerjanya aku harus bertukar kendaraan umum dua-tiga kali setiap hari….” (hal.55).

2.Ikhlas
Jika diperkenankan bisa mengajar selama tiga bulan sampai akhir tahun pelajaran, Bu Sundari siap untuk tidak dibayar. Ungkapan spiritnya, tertulis :
“Saya ikhlas-ikhlas saja kok, Pak,” kataku memecah kesunyian (hal.53).

3.Siap mejadi tumpuan keluarga
Setelah bapaknya meninggal dunia, Bu Sundari menjadi tumpuan keluarganya. Dia berkata, seperti ini :
“Sejak itulah yang menjadi pencari nafkah satu-satunya dalam keluarga berlima orang. Aku anak tertua dari delapan bersaudara, empat diantaranya telah meinggal sewaktu masih balita. Yang masih hidup adalah Sunandar, adik ketiga, Sumarman, adik kelima, dan Sumaryati, ia bungsu adik ketujuh. Beban hidup memang terasa lebih berat, tetapi aku sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini….” (hal.56).

4.Mendukung pendidikan dalam keluarga
Bu Sundari berupaya keras agar ketiga adiknya (Sunandar, Sumarman, dan Sumaryati) bisa bersekolah dan sukses meraih cita-cita.

Sunandar, setelah lulus SMP, ingin masuk tentara. Tetapi, diberi nasehat oleh kakaknya, Bu Sundari. “Teruskan sekolahmu sampai SMA. Sesudah itu lanjutkan ke Akademi Polisi atau Akademi Militer. Biasakan berusaha secara sistematik.” (hal.58). “Dia sudah lama bercita-cita jadi anggota ABRI. Setelah lulus SMA dia masuk ke Fakultas Kedokteran dengan beasiswa dari TNI-AD. Stelah lulus, ya menjadi dokter tentara….” (hal.62).

Sumarman, adiknya Sunandar, menjadi pilot. “….Anaknya pendiam, namun sejak kecil dia senang sekali menatap langit, melihat burung-burung terbang yang mel;ayang-layang bebas di udara. Sebagai pilot dia terbang dan singgah di berbagai negeri ….” (hal.63).
Si bungsu Sumaryati menjadi insinyur arsitek. “….Dia insinyur arsitek, dan di samping memborong pembangunan rumah, dia menjadi dosen….” (hal.63).

5.Bersyukur dan terima kasih
Rasa bersyukur dan berterima kasih ditiru oleh ketiga adiknya. Hal tersebut diungkapkan oleh Sumaryati, demikian :
“Mbak Ndari,” kata Sumaryati,”Bulan yang lalu kami bertiga bersama-sama mengunjungi semua sekolah yang telah mendidik kami dengan membawa seperangkat buku … kami sumbangkan pada perpustakaan masing-masing sekolah … sesuai dengan yang dahulu mbak selalu pesankan … sebagai tanda terima kasih kepada almamater.” (hal.67).

Belajar dari hasil karya sastra “Patung Guru” dan “Pahlawan Tanda Jasa”, maka dapat dikatakan bahwa :

1.Spirit yang muncul dalam diri tokoh guru dalam kedua cerpen tersebut diatas menandakan bahwa kedua guru tersebut adalah guru berkarakter. M.Furqon Hidayatulah( 2010:27), mengatakan bahwa guru berkarakter adalah guru yang bukan hanya mampu mengajar saja, tetapi juga mendidik. Guru berkarakter bukan hanya mampu mentransfer pengetahuan saja, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai yang diperlukan untuk mengarungi hidup. Guru berkarakter bukan hanya memiliki kemampuan yang bersifat intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan secara emosi dan spiritual. Sehingga guru mampu membuka mata hati peserta didik untuk belajar, dan mampu hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

2.Sastra bisa membudayakan manusia. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang cepat tanggap terhadap segala apa yang ada dalam kehidupan. Manusia yang berbudaya selalu mencari nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Sastra juga bisa membawa manusia untuk berpikir, dan berperasaan luhur dan mulia (M.E.Suhendar dan Pien Supinah, 1993:18).

Referensi :

  • Basis, No.09-10, Tahun Ke-52, September-Oktober, 2003.
  • Daoed Joesoef, Teman Duduk, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2016.
  • Drs. M.E. Suhendar, M.Pd dan Dra. Pien Supinah, Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi Sastra Indonesia, Penerbit Pioner Jaya, Bandung, Cetakan Pertama, 1993.
  • Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd, Pendidikan Karakter : Membangun Peradaban Bangsa, Penerbit Yuma Pustaka, Surakarta, Cetakan Pertama, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menghadapi Anak Bohong Menghadapi Anak Keras Kepala dan Malas


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: