Menghadapi Anak Bohong

13 Agustus, 2016 at 6:52 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Pada saat kegiatan belajar-mengajar akan dimulai, tiba-tiba Sruti berucap, dengan nada yang agak keras, bahwa dia kehilangan uang sekolahnya. Akibatnya guru dan anak-anak yang lain beralih perhatiannya. Lalu, guru meminta anak-anak untuk tenang.

“Sruti, dimana kamu meletakkan uang sekolahmu itu ?” tanya guru, sambil mendekati Sruti.
“Di laci, sini, Pak !” jawab Sruti dengan wajah sedih.
“Ayo, anak-anak, siapa yang tahu, dimana uang sekolahnya Sruti ?” tanya guru, sambil melangkah kembali ke depan kelas.
Anak-anak diam, tidak ada yang menjawab
“Ayo, siapa yang bawa uang sekolahnya Sruti, tapi lupa mengembalikan,” kata guru, berusaha menyelidik.
Anak-anak masih diam, tidak ada yang menjawab.
“Nah, siapa yang mengambil uang sekolahnya Sruti ?” tanya guru, masih dengan sikap tenang.
Anak-anak tetap diam, dan menundukkan kepala.
“Ayo, anak-anak, kita tidak boleh bohong !” ucap guru, mencoba menggelitik batin anak-anak.
Anak-anak mulai saling berpandangan, tapi tidak ada yang menanggapi ucapan guru itu.
“Baiklah, mari kita mulai !” ajak guru, sambil melangkah ke meja kerja untuk mengambil buku pelajaran.

Setelah kegiatan belajar-mengajar selesai, guru mengajak Sruti ke ruang guru untuk berbicara secara pribadi. Guru mencoba menggali permasalahan tentang uang sekolahnya Sruti dengan cara yang baik, tidak dengan kemarahan, tapi kelembutan. Akhirnya Sruti menangis, dan mengakui yang sebenarnya terjadi, yaitu uang sekolahnya sudah habis untuk jajan dan beli barang-barang kesukaannya. Guru menenangkan Sruti.

Peristiwa di atas adalah sebuah ilustrasi. Sebenarnya, apa itu bohong ? Menurut Singgih D Gunarsa (1980), bohong merupakan perbuatan pemalsuan yang sengaja dilakukan dengan tujuan memperdayakan.

Ada beberapa bentuk bohong dan latar belakang yang menyebabkan anak berbohong, antara lain :

1.Berbohong sebagai hasil peniruan. Bisa terjadi orangtua atau guru tidak menyadari bahwa anak-anak telah menambah “bumbu” pada waktu bicara, ucapan, menyampaikan informasi, menerangkan sesuatu, atau bercerita tentang sesuatu peristiwa. Akibatnya mereka ingin meniru segala tingkah laku dan perbuatan orangtua atau guru, termasuk ucapan-ucapannya.

2.Berbohong untuk menarik perhatian. Apabila anak berpendapat bahwa ketika ia berkelakuakn baik, tidak dapat menarik perhatian orangtua atau guru, mereka akan mencoba untuk menarik perhatian orangtua atau guru, dengan cara berkelakuan tidak baik. Jika hal ini terjadi, maka sangat disayangkan, karena akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak tidak hanya berbohong untuk menarik perhatian, akan tetapi akhirnya betul-betul akan melakukan hal-hal yang tidak baik.

3.Berbohong sebagai pertahanan diri. Kebanyakan anak berbohong untuk menghindarkan diri dari hukuman. Anak tidak mau dihukum, disakiti, ataupun dipermalukan di depan orang lain, maka anak akan mencari alasan untuk menutupi keadaan sebenarnya.
4.Berbohong untuk mengimbangi kekurangan. Ada anak yang merasa bahwa dirinya tidak memilki kemampuan yang menonjol dibandingkan dengan teman-temannya, agar dapat dipuji atau dikagumi oleh teman-temannya, maka mereka mencoba untuk menutupi kekurangannya, dengan cara berbohong.

Selanjutnya, bagaimana orangtua atau guru menghadapi anak yang berbohong? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orangtua atau guru dalam menghadapi anak berbohong, antara lain :

1.Sebaiknya diteliti dengan cermat sumber permasalahan yang membuat anak harus berbohong. Dengan cara ini, orangtua atau guru tidak serta-merta memarahi anak atau mencap anak sebagai pembohong.

2.Orangtua atau guru perlu memberi pembelajaran tentang pengertian komitmen atau janji. Mengingat bahwa dalam hal-hal sekecil atau sesederhana pun, anak tidak boleh menggunakan kebohongan sebagai jalan keluar yang nyaman, walaupun dalam perjalanan waktu orangtua atau guru harus sering mengingatkan tentang komitmen atau janji anak.

3.Alangkah indahnya bila anak diterima sebagaimana adanya. Anak dicintai bukan karena kepintarannya, kecantikannya, keterampilannya, melainkan sebagai bagian dari keluarga. Yakinkan kepada anak bahwa ketika anak memang ketahuan berbohong, dan anak sanggup belajar untuk jujur, orangtua atau guru tetap akan mencintai mereka. Keyakinan ini bagi anak akan menenteramkan dirinya.

4.Sebaiknya orangtua atau guru berhati-hati dalam berucap, supaya tidak terselip pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sekalipun anak masih kecil dan dianggap belum tahu apa-apa, mereka lama-kelamaan akan menangkap bahwa ketika ucapan dan tindakan tidak sama, mereka pun akan mengatakan bahwa orangtua atau guru pun bisa bohong. Oleh karena itu, pendidikan dan teladan yang baik dari orang tua atau guru, menjadi sangan penting sebagai landasan pembelajaran tentang kejujuran.

Berangkat dari pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bawah guru perlu bersikap bijak (tidak mengajak bicara dengan nada kemarahan, tetapi dengan nada lembut) untuk memperoleh informasi yang jujur dari Sruti. Sruti pun akhirnya mengakui, karena dia tersentuh dengan sikap dan ucapan guru, yang menenangkan dirinya. Sruti merasa masih dihargai sebagai anak didik oleh gurunya.

Menarik juga ungkapan yang disampaikan oleh M. Furqon Hidayatullah (2010:37), adalah bahwa tidak berbohong atau jujur merupakan nilai karakter yang harus ditanamkan pada anak sedini mungkin karena nilai kejujuran merupakan nilai kunci dalam kehidupan. Pendidikan kejujuran harus diintegrasikan ke dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun sekolah.

Referensi:

  • Singgih D Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cetakan Keempat, 1980.
  • Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd, Pendidikan Karakter : Membangun Peradaban Bangsa, Penerbit Yuma Pustaka, Bandung, Cetakan Pertama, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Motivasi dan Hasil Belajar Seni Budaya Mengenal Spirit Guru dalam Cerpen Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: