Sekolah Membelenggu atau Mencerahkan?

11 Agustus, 2016 at 12:00 am

Oleh Rakhmat Hidayat

Pengajar Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Saya kembali teringat sosok dan pemikiran Ivan Illich (1996-2002) yang tertuang dalam karya monumentalnya Deschooling Society (1971) sebagai kritik keras terhadap institusi sekolah yang dianggap mengekang murid-muridnya.

Sekolah menjadi ruang yang tidak memberikan kebebasan dan kehilangan nilai-nilai humanisnya. Apa yang mengingatkan saya tersebut? Tidak lain karena perdebatan tentang gagasan full day school yang dilontarkan mendikbud baru, Muhadjir Effendy. Ingatan tersebut rasanya relevan untuk menggambarkan sejauh mana gagasan Mendikbud diuji di lapangan dan penuh dengan problematik yang mengitarinya.

Gagasan Mendikbud menjadi penting kita uji, sekaligus kita perdebatkan dalam ruang publik karena itu menjadi bagian dari dunia kita sehari-hari. Sekolah adalah entitas yang tak bisa lepas dari individu dan masyarakat.

Problematik

Gagasan Mendikbud memiliki beberapa sisi masalah yang prinsipiil. Pertama, ini adalah (rencana) kebijakan baru Mendikbud setelah reshuffle jilid kedua. Kebijakan yang terkesan instan/ spontan dan tidak melibatkan pemangku kepentingan pendidikan. Buktinya, gagasan ini disampaikan Mendikbud kepada Wapres. Proses ini justru sangat lemah dari segi dukungan publik.

Sejatinya, program ini bisa dibahas atau digodok dalam sebuah tim ahli atau diujipublikkan dalam forum seperti Focus Group Discussion (FGD). Kedua, gagasan ini dilontarkan secara parsial dalam berbagai pernyataan Mendikbud di media massa secara terpotongpotong. Tidak utuh apa yang menjadi tawaran dan konsepnya. Sekolah mau apa dan bagaimana juga tidak jelas.

Publik yang disuguhkan dengan repetisi pernyataan yang terpotong-potong dan tidak menjawab akar permasalahannya. Misalnya, publik malah memaknai pernyataan Mendikbud bahwa full day school membantu kedua orang tua yang sama-sama bekerja. Ini pernyataan yang bias ekonomi dan tidak pada tempatnya. Hal ini menyebabkan gagasan itu kehilangan konteksnya dan lagi-lagi terkesan, tidak jelas apa orientasinya.

Ketiga, yang menjadi kekhawatiran saya adalah Mendikbud sibuk dan terlena dengan gagasan yang sangat prematur ini sementara abai dengan agendaagenda penting lainnya. Sebut saja bagaimana penguatan kapasitas dan kompetensi guru atau masa depan Kurikulum 2013 yang justru itu menjadi lebih penting. Kompetensi guru adalah keniscayaan untuk membangun sekolah seperti apa pun. Kekhawatiran saya tentunya beralasan, karena Mendikbud baru terkesan ingin memiliki ”pembeda” dengan pendahulunya.

Tetapi ia lupa bahwa kompetensi guru adalah elan vital pendidikan yang harus terus ditingkatkan terlepas dari pergantian menteri atau rezim. Inilah yang kemudian menjadi lebih problematik karena tak ada keberlanjutan program dari pergantian Mendikbud ini. Mendikbud baru berpegang teguh dengan alasan pendidikan karakter dapat diejawantahkan dengan penerapan full day school.

Tetapi dia luput bahwa yang berada di depan kelas dan yang menyambut murid-murid di depan pintu gerbang adalah guru yang harus terus disegarkan kapasitasnya. Keempat, setali tiga uang dengan penjelasannya sebelumnya. Kenapa gagasan ini sangat prematur karena yang harus dilihat adalah ”Indonesia” bukan Jakarta.

Bukan pula Jawa. Pendidikan adalah milik ”Indonesia” bukan sekadar Jakarta atau Jawa. Bayangkan, jika sekolah-sekolah di pedalaman Indonesia Timur juga dipaksakan menerapkan kebijakan ini, apa yang akan terjadi? Sementara di pelosok-pelosok pedalaman, masalah utamanya masih berkutat dari keterbatasan guru. Saya berpikir, jangan-jangan hal ini belum dipikirkan secara lebih jauh karena seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tidak memiliki bangunan argumentatif yang memadai.

Di balik argumentasi di atas, dengan wacana ini, saya kembali bertanya: apakah terjadi kontinuitas atau diskontinuitas pembangunan pendidikan setelah reshuffle jilid kedua? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Penjara Sekolah?

Tanpa konsep dan visi yang jelas apalagi dengan kesiapan yang matang, gagasan ini hanya akan menjadi wacana kosong. Yang ada hanyalah sebuah kebijakan yang dipaksakan dan sekolah harus siap menerimanya. Apa yang terjadi? Warga sekolah (guru dan murid) hanya menjadi robot-robot mekanis yang digerakkan oleh negara. Anak-anak kita akan kehilangan waktu bermain dan bersosialisasi dengan keluarga atau lingkungannya karena waktunya habis di sekolah.

Yang perlu diperhatikan adalah pendidikan karakter sebagaimana menjadi turunan dari Nawacita tidak selamanya dilakukan dengan ”melokalisasi” anak-anak bertahan di sekolah lebih lama. Pendidikan karakter bisa lebih ditanamkan/ difokuskan baik secara formal dalam kurikulum maupun nonkurikulum, yang disebut dengan hidden curriculum seperti melalui kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler.

Justru Mendikbud baru ditantang lebih kreatif mengeluarkan kebijakan terkait dengan pengembangan pendidikan karakter, seperti yang sudah dilakukan pendahulunya yaitu penghapusan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang berbau perploncoan. Atau misalnya kewajiban membaca selama 15 menit yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 21/ 2015. Kegiatan ini adalah salah satu bentuk literasi bahasa. Para siswa dibiasakan membaca dan memahami isi bacaannya serta mampu menjadikan bacaan sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi.

Biarkanlah anak-anak berinteraksi di sekolah pada proporsionalnya waktunya sesuai dengan perkembangan sosial dan psikologis mereka. Sejak pagi hingga siang hari, anakanak sudah terkuras tenaga dan pikirannya untuk belajar. Sementara guru-guru juga sudah lelah dengan tugas mengajar, administratif ,dan tugas-tugas tambahan lainnya.

Guru-guru juga perlu ruang interaksi dengan keluarga dan lingkungannya. Mereka perlu menyegarkan pikiran dan energinya untuk kesiapan mengajar esok harinya. Memaksakan gagasan ini bagi perkembangan sosial dan psikologis murid hanyalah memuaskan hasrat pemerintah, bukan kepentingan warga sekolah. Pada gilirannya, jika ini terjadi di lapangan, sekolah kehilangan nilai-nilai humanisnya.

Sekolah tercerabut dari kekuatan filosofisnya untuk mencerahkan manusia. Sekolah malah hanya menjadi belenggu bagi murid dan guru-gurunya. Inilah yang dikatakan Ivan Illich bahwa sekolah sebagai penjara akan menjadi ancaman bagi kita. (Sumber: Koran Sindo, 11 Agustus 2016).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Upaya Berhasil dalam Mengajar Mengenal Impian Anak Bersekolah dalam Novel dan Cerpen


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: