Mengenal Impian Anak Bersekolah dalam Novel dan Cerpen

11 Agustus, 2016 at 7:23 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Saya mempunyai pengalaman, ketika saya mendampingi anak-anak asuh melakukan daftar ulang pada sekolah seperti yang mereka impikan. Sambil menunggu, saya sempat mengobrol dengan beberapa orangtua yang ikut mendampingi anak-anaknya.

“Pekerjaan saya sopir. Tapi, saya ingin sekali anak saya bersekolah. Bersyukur, anak saya diterima di sekolah menengah kejuruan. Jurusan mesin, seperti yang diimpikan anak saya,” kata bapak itu penuh haru.

“Adik saya itu semangat sekolahnya tinggi. Tapi, sayang, sebagai kakak, ekonomi saya pas-pasan. Semoga saya mendapatkan keringanan untuk adik saya yang diterima di sekolah sini,” kata pemuda itu penuh optimisme.

“Saya memperjuangkan anak saya agar tetap bisa sekolah. Termasuk cari uang untuk masuk sekolah pertama kali. Pinjam uang sana-sini. Anak saya senang diterima di sekolah menengah kejuruan sini,” kata ibu itu penuh semangat.

Dari obrolan itu, saya teringat karya sastra yang mampu menuturkan kesadaran keluarga (orangtua dan saudara), bahwa betapa pentingnya sekolah bagi anak-anak, dan kemauan yang keras dari anak-anak itu sendiri yang ingin sekali bersekolah.

Adapun karya sastra yang saya maksud adalah :
1.Novel anak “Si Dul Anak Betawi”, karya Aman Dt. Madjoindo).
2.Novel anak “Si Jamin dan Si Johan”, karya Merari Siregar.
3.Cerpen “Senyum” yang terdapat di kumpulan cerpen “Hujan Kepagian”, karya Nugroho Notosusanto.

1.Novel anak “Si Dul Anak Betawi”
“Si Dul Anak Betawi” merupakan novel anak-anak, karya Aman Datuk Madjoindo, yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1964. Dialek Betawi mewarnai novel anak-anak ini.
Diceritakan, si Dul memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya. Suatu hari ketika si Dul meminta dasi dan topi seperti seragam anak sekolah, ayahnya berjanji akan membelikannya bila si Dul masuk sekolah. Betapa senangnya hati si Dul karena ayahnya akan menyekolahkannya.

Keinginan bersekolah yang sangat besar, dan janji ayahnya mau menyekolahkan diri si Dul, tampak dalam percakapan mereka, seperti berikut ini :

“Dul, lebaran kagak lama lagi, lu mau dibeliin ape ?”
“Petasan biar banyak, Be,” jawab si Dul dengan tak ragu-ragu,”lebaran dulu cuman sedikit babe beliin. Sebentaran aje udah abis.”
“Pakean kagak, Dul?”
“Pakean juga Be! Beliin yang satu setel! Sepatu juga, dasi juga, topinya yang lebar Be, …!”
“Ai, itu pakean anak sekolah, Dul! Lu kan anak kampung mestinya pakean kampung dong! Pake sarong, pake terbus merah atawa pake peci Padang.”
“Aye kepingin pake dasi, Be!”
“Anak kampung pake dasi, nanti diketawain orang!”
“Aye juga mau sekolah, Be, kayak Karto, di sebelah ni. Enak sekolah, Be, diajar lari-karian, ayun-ayunan, loncat-loncatan, baris-barisan juga kayak seradadu. Pakeannya serupe aje semue, aksi banget Be!” (hal.46).
“Baik, nanti abis lebaran lu boleh sekolah. Sekolah ape lu mau? …” (hal.46)
“Yedeh ! Sekarang tidur dulu! Babe ngantuk banget.”

Si Dul yang ingin segera bisa bersekolah, sampai terbawa ke dalam mimpinya. Pengalaman si Dul ini dapat dibaca pada bagian berikut ini :

Mereka pun tidurlah! Tetapi si Dul tak lekas tertidur, karena pikirannya melayang-layang kepada pakaian dan topi padpinder dan sekolah yang akan dimasukinya itu. Bermacam-macamlah nanti yang akan dibuatnya jika ia sudah masuk di sana. Semua angan-angan itu yang akan menggirangkan hati belaka. Setelah penat berangan-angan, akhirnya tertidurlah ia.

Si Dul masuk sekolah. Tetapi sekolahnya luar biasa. Ia diajar hanya berlari, melompat, memanjat, dan berbaris. Kadang-kadang si Dul disuruh “mengomander” kawan-kawannya baris. Wah, betapa kocaknya berjalan di sisi barisannya. Ia berseru dengan keras,”Beeersiap! Maaaju! Satu-dua. Satu-dua … ! Berhenti! Balik Satu-dua satu dua …! Berhenti!” Begitulah pelajarannya. Berlari, memanjat dia sudah kampiun, tak ada yang melawannya lagi. Tapi melompat ia masih kalah oleh Karto, tetangganya yang jangkung itu.

Dua kali beradu, dua kali ia kalah. Tapi yang ketiga kali ini tak boleh lagi, pikirnya. Sekali ini Karto kalah. Masalah dia bisa kalah terus. Dengan hati marah dianjurkannya langkah ke belakang hendak melompat jauh-jauh. Ia berlari secepat-cepatnya, lalu melompat … Bum!

“Aduuh sakitnya Nyak!” keluh si Dul di bawah kolong balai.
Ibu dan bapaknya terbangun melompat turun. Dilihatnya si Dul terguling di tanah, sambil menggeliat-geliatkan badannya dan kepalanya dipegang-pegangnya.

“Lu jatuh, Dul? Sakit kepale lu?” tanya bapaknya sambil mengangkat si Dul.

Si Dul lalu menceritakan mimpinya. (hal.47-48)
Dalam perjalanan waktu, diceritakan bahwa ayah Si Dul meninggal dunia di rumah sakit, karena kecelakaan pada waktu mengemudikan otobus (hal.50-51).

Tak lama kemudian, Mpok Am (ibu si Dul) menikah lagi dengan Marjuki, seorang duda yang ditinggal mati istrinya (hal.87)

Ternyata, ayah tiri si Dul sangat peduli dengan Si Dul. Ayah tirinya ingin agar si Dul bisa bersekolah. Hal tersebut dapat disimak dalam percakapan antara ayah tiri si Dul dan Mpok Am ibunya.

”Bagaimana pikiran engkau Am, kalau si Dul kita masukkan ke sekolah ……….?”
“Mengapa engkau diam saja? Sukakah engaku atau tidak?” tanya lakinya pula.
“Gimane yang baik pikiran Abang, aye nurut!” jawab ibu si Dul.
“Kalau pikiran saya, baik sekali si Dul disekolahkan.”
“Kalau gitu, masukin die ke sekolah!” jawab ibu si Dul (hal.88)

Niat yang baik dari ayah tirinyanya agar si Dul bersekolah, benar-benar dibuktikan dengan cara mengantar si Dul ke sekolah. Peristiwa yang menyenangkan tersebut dapat dilihat di bagian berikut.

Sesudah berpakaian, dibawalah ia oleh bapak tirinya ke sekolah. Setelah bapaknya berbicara sebentar dengan guru, pulanglah ia. Si Dul tinggal dengan kawan-kawannnya (hal.92).
Demikianlah si Dul bersekolah makin sehari makin terasa enaknya. Dan dia pun makin rajin belajar. (hal.96).

2.Novel anak “Si Jamin dan Si Johan”
“Si Jamin dan Si Johan”, merupakan anak-anak anak-anak, karya dari Merari Siregar yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1921.

Diceritakan, ada dua anak laki-laki. Mereka bersaudara. Namanya si Jamin dan si Johan. Si Jamin berumur sembilan tahun, dan si Johan berumur tujuh tahun (hal.4).
Setiap hari si Jamin menjadi pengemis kecil yang harus membiayai hidup si Johan, adiknya, dan Inem, ibu tirinya yang sangat kejam (hal.2).

Suatu saat, si Jamin bertemu dengan seorang anak yang juga menjadi pengemis (hal.41). Mereka sempat membicarakan tentang sekolah. Berikut percakapan antara si Jamin dan si anak itu.
“Belum pernah engkau sekolah?”
“Belum sekali juga. Tapi kalau ibu saya masih hidup, tentu saya dimasukkan sekolah. waktu ibu belum mati, saya masih kecil. Kerap kali ia berkata,”Kalau engkau sudah besar Jamin, engkau harus masuk sekolah. tetapi apa boleh buat! Sekarang ….” (hal.46).

Selanjutnya, diceritakan bahwa Si Jamin mengalami kecelakaan, ditabrak trem, dengan luka parah. Si Jamin masih sempat memberikan cincin permata kepada si Johan, agar segera diberikan ke Kong Sui dan Nyonya Fi. Mereka adalah orang yang baik hati, karena memberi baju kepada si Jamin. Cincin permata itu terbawa di saku. Kemudian orang-orang yang melihat si Jamin, segera membawa ke rumah sakit (hal.80)

Kong Sui dan Nyonya Fi masih sempat bertemu dengan Jamin sebelum anak itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Si Jamin memohon kepada mereka, agar mereka tidak membawa Johan kembali ke rumahnya. Kong Sui dan Nyonya Fi memenuhi permintaan si Jamin. Sejak saat itu Si Johan tinggal di rumah Kong Sui dan Nyonya Fi (hal.93).

Novel anak-anak “Si Jamin dan Si Johan” ini ditutup dengan kalimat :
Lima tahun kemudian tamatlah pelajaran si Johan di sekolah rendah, lalu ia meneruskan pelajarannya ke sekolah pertukangan di kampung Jawa. Segala ongkos tak usah disusahkannya, karena Kong Sui selalu sedia membantu bila perlu. Bertes (ayah si Jamin dan si Johan yang dahulu tidak peduli, dengan kematian anaknya si Jamin, menjadi sadar) mendapat pekerjaan yang tetap, dengan pertolongan Kong Sui juga.

Semenjak kelas rendah si Johan belajar sungguh-sungguh. Ia disayangi gurunya. Barang kelakukannya pun disukai teman-temannya (hal.95).

3.Cerpen “Senyum”
Kumpulan cerpen dengan judul “Hujan Kepagian”, adalah hasil karya Nugroho Notosusanto. Kumpulan cerpen ini merupakan kesaksian tentang revolusi. Dalam kata pengantarnya, penerbit Balai Pustaka mengatakan bahwa penulisnya sendiri terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan itu sebagai anggota tentara pelajar.

Cerpen pertama yang berjudul “Senyum”, tidak hanya menyinggung peristiwa dan tindakan yang heroik dari para pelakunya, tetapi juga menyinggung masalah betapa pentingnya anak bersekolah.

Berikut gambaran si “aku” yang mengunjungi makam teman seperjuangannya bernama Jono, yang telah gugur.
Perlahan-lahan pandangku melayang pada tugu. Padanya terlukis empat persegi panjang hitam dengan gambar “Ganeca” keemasan di tengah-tengah, pada alas tulisan putih : Brigade 17. Diu bawahnya ada sepotong marmer yang ditulisi nama Jono selengkapnya; di bawah itu tertulis “gugur di tempat ini pada usia 18 tahun”, di bawah lagi :”7 Mei 1949” (hal.4).

Angin sejuk dan lembut; hawa panas dan kering. Aku nyalakan sebatang “Wembley” lagi dan Jono berkata dari makamnya (hal.6)
Dalam percakapan antara si “aku” dan Jono, Jono mengungkapkan tentang masalah pentingnya sekolah untuk Tati (adiknya), seperti berikut ini :

Aku semakin segan untuk kembali ke pasukan. Tati mengoceh terus,”Bu, Tatik mau sekolah Bu!”
“Ya, baiklah.”
“Kapan Bu?”
“Kalau Belanda sudah pergi!”
Kalau Belanda sudah pelgi!”
“He’eh.”
“Sekolah dimana Bu?”
“Di Taman kanak-kanak, manis.”
“Kapan, Bu, Belanda pelgi?”
“Sebentar lagi manis.”
“Belanda diusil Mas Jon?”
“Ya, cempluk.”
“Belanda tidak nembak Mas Jon?”
“Hus Tatik, tak boleh kau berkata begitu!” Kemudian kudengar ibu mengcupkan “A’udzu bi’llah” biar perkataan Tadi jadi kenyataan.
“Tatik mau lekas sekolah, Bu,” si nakal itu merengek terus.
Kemudian suara ibu menyenandungkan lagu “Nina Bobok”. Dan aku ikut bernyanyi.
Aku merangkak terus. Aku harus mengusir Belanda untuk Tati, pikirku kabur (hal.15).

Keinginan Jono untuk berjuang mengusir Belanda, tidak hanya untuk kepentingan adiknya Tuti agar bisa sekolah, tetapi juga untuk kepentingan teman-teman Tati (anak-anak lainnya). Ungkapan tersebut dapat dilihat, berikut ini.

Tati sudah ingin sekolah. Aku harus meneruskan hidup begini, biar Tatiku kelak bisa sekolah dengan tenang. Tati dan teman-temannya. Untuk itu generasiku menghabiskan sebagian hidupnya di lumpur dan kotoran medan perang. Generasiku dapat panggilan untuk melaksanakan peletakan dasar-dasar zaman yang damai. Suatu zaman yang serba cukup, suatu zaman yang punya kebanggaan (hal.15-16).

Dan aku merangkak terus. Aku lupa kepada sakit, aku merangkak terus. Dan aku lihat di puncak bukit Kuwuk, Tati berdiri berpakaian putih dengan pita merah di rambut dan ikat pinggang merah melilit pinggangnya. Ia menari-nari kegirangan, ditangannya sebuah batu tulis.

“Mas Jon! Mas Jon!” serunya.
“Yaa! Seruku kembali tak bersuara. Dan aku merangkak terus. Tari sudah dekat.
“Aku sekolah, Mas Jon! Aku sekolah.”
“Tati! Tati!” Aku panggil dan belai namanya. Dan aku sampai kepadanya di tempat inbi. Dan aku tidur dengan senyum lega, Tati sedah sekolah (hal.16).
Cerpen “Senyum” ditutup dengan ungkapan si “aku”, demikian :
“Engkau boleh senyum lega, Jon,” kataku kepada makam.
“Tati sudah kelas 3 sekarang.” (hal.16).

Sebagai simpul, lewat karya sastra seperti tersebut di atas, maka dapat dikatakan, antara lain :
1.Dari pihak orangtua, saudara, atau keluarga, kesadaran tentang pentingnya aspek pendidikan bagi anak-anak diwujudkan oleh pertanggungjawaban ayah kandungnya dan ibunya si Dul, dan ayah tirinya si Dul. Juga Kong Sui dan Nyonya Fi kepada si Johan. Lalu Jono kepada adiknya Tati.
2.Dari pihak anak, si Dul, si Johan, dan Tuti, antusias sekali untuk bersekolah. Ketika bersekolah, merekapun melakukannya dengan gembira, semangat, dan rajin.
3.Jadi proses pendidikan dapat berjalan denga baik, apabila orangtua, saudara, atau keluarga menjadi inisiator (ide), dan anak-anak dalam prosesnya merasa termotivasi.
4.Ternyata sastra, dalam hal ini novel anak dan cerpen, itu dekat dengan kita, dan juga mempunyai fungsi yang mampu membuka kesadaran manusia pada aspek pendidikan.
5.Tentang fungsi sastra, saya ingat ungkapan dari Emha Ainun Nadjib, yang akrab dipanggil Cak Nun, dalam peringatan 50 tahun Horison (majalah sastra), di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Cak Nun mengatakan bahwa sastra tidak bisa dipisahkan dari manusia. Sastra ada dan menyatu dalam kehidupan. Sastra semacam energi batin yang berposisi hakiki, niscaya atau sejati, di dalam diri manusia. Dengan demikian, tak mungkin manusia menjadi manusia tanpa sastra. Apabila sastra direduksi dari keutuhan manusia, akan berlangsung ketidakseimbangan yang serius. Ada semacam lubang gelap di dalam jiwa manusia yang membatalkan keutuhan kemanusiaannya (Kompas, 27-7-2016).

Referensi :

  • Aman Dt. Madjoindo, “Si Dul Anak Betawi”, Penerbit PT Balai Pustaka, Jakarta, Cetakan Ke-38, 2013.
  • Merari Siregar, Si Jamin dan Si Johan, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, Cetakan Ke-14, 2010.
  • Nugroho Notosusanto, Hujan Kepagian, Penerbit PT Balai Pustaka, Jakarta, Cetakan Ke-24, 2011.
  • Supratman Abdul Rani dan Endang Sugriati, 115 Ikhtisar Roman Sastra Indonesia, Penerbit Pustaka Setia, Bandung, 1999.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Sekolah Membelenggu atau Mencerahkan? Motivasi dan Hasil Belajar Seni Budaya


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: