Upaya Berhasil dalam Mengajar

9 Agustus, 2016 at 12:00 am

Oleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Pulang dari sekolah, wajah Sisri tampak muram. Ia mengeluh kepada orangtuanya bahwa ia merasa bosan, tidak bersemangat, dan lama-kelamaan cenderung menjadi ogah-ogahan untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru. Mengapa sampai terjadi demikian ? Sisri mengatakan bahwa cara guru dalam mengajar dirasakannya monoton, tidak menarik, dan tidak menyenangkan.

Masih menurut Sisri, guru kadang meminta kepada murid-muridnya untuk mencatat di papan tulis secara bergantian, dan murid-murid yang lain menyalin. Padahal, buku pegangan sudah ada. Guru kadang juga menyuruh murid-muridnya secara bergantian untuk membaca buku, halaman demi halaman, dan murid-murid yang lain mendengarkan. Lain waktu, guru memberi tugas kepada murid-muridnya untuk membuat ringkasan atau rangkuman per bab.

Dari ilustrasi tentang ungkapan Sisri seperti tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa guru tersebut cara mengajarnya terkesan asal-asalan, hanya sekadar mengajar, atau tidak bersungguh-sungguh dalam mengajar. Guru tersebut tidak mengindahkan murid-muridnya sebagai subyek yang sedang belajar. Guru tersebut lupa bahwa muird-muridnya memperhatikan caranya mengajar. Guru tersebut agaknya juga tidak mempunyai target dalam mengajar murid-muridnya.
Jikalau demikian, apa yang dimaksud dengan mengajar ? Bagaimana cara mengajar yang menarik, menyenangkan, dan dikatakan berhasil ?
Menurut Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi (2006), mengajar adalah cara sederhana untuk mendapatkan hasil. Mengajar adalah membantu murid-murid untuk menemukan sesuatu.

Dari pengertian tersebut, bisa jadi Sisri merasa bosan mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru, karena ia tidak mendapatkan sesuatu atau hasil. Jika direnungkan, ada benarnya juga. Ketika guru hanya memerintah murid-muridnya untuk menulis di papan tulis, tanpa diulang kembali isinya, apa hasilnya ? ketika guru hanya menyuruh murid-muridnya untuk membaca, tanpa diurai isinya, apa hasilnya ? Ketika guru memberi tugas membuat ringkasan tanpa pernah digali isinya, apa hasilnya ?

Oleh karena itu guru harus mampu meng-create cara-cara mengajar, sehingga menjadi menarik, menyenangkan, dan berhasil. Sehingga anak-anak menjadi tertarik dan senang mengikuti proses pembelajaran, dan menemukan sesuatu (hasil) yang bermakna. Hal tersebut dipertegas oleh J.Mursel dan S.Nasution (2008) dengan mengatakan bahwa guru hendaknya mempunyai kecakapan, pemahaman, inisiatif, dan kreativitas, agar berhasil dalam mengajar.

Selanjutnya, guru dikatakan berhasil dalam mengajar, apabila :

1. Anak-anak sungguh-sungguh belajar sesuatu. Kemudian, hasil belajar dengan sungguh-sungguh itu dapat dipergunakan dalam hidup mereka.

2. Hasil belajar itu meresap ke dalam pribadi anak, dan membentuk perkembangan mental anak.

3. Anak mendapat kesempatan belajar berpikir secara kritis dan kreatif.

4. Anak mendapat kesempatan belajar bekerja sama untuk memecahkan masalah-masalah.

Referensi :

  • Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi, Accelerated Learning For The 21st Century-Cara Belajar Cepat Abad XXI, Penerbit Nuansa, Bandung, Cetakan Keenam, 2006.
  • J.Mursell dan S.Nasution, Mengajar dengan Sukses, Penerbit Bumi Aksara, Cetakan Kelima, Jakarta, 2008.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Gizi Anak Sekolah Sekolah Membelenggu atau Mencerahkan?


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: