Menghadapi Anak Melamun, Berfantasi, dan Berimajinasi

8 Agustus, 2016 at 12:00 am

Oleh Lucas Formiatno
Lucas FormiatnoEducator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Pada saat jam istirahat sekolah, Wita menggunakan kesempatan pergi ke perpustakaan sekolah. Ia segera mengambil sebuah buku. Ia duduk, dan mendekap buku itu. Ia tidak membaca buku itu. Yang ia lakukan adalah duduk diam, kepalanya sebentar ditengadahkan ke atas, dan sebentar kemudian ia menundukkan kepalanya. Selanjutnya ia diam. Petugas perpustakaan sekolah yang melihat perilaku Wita, kemudian mendekatinya, dan mengatakan bahwa Wita suka melamun.

Di rumah, orangtua Utari juga sering melihat Utari senang duduk diam. Kadang ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, dan diselingi dengan ucapan-ucapan yang berkalimat pendek. Seolah-olah ia sedang bicara dengan orang lain. Padahal orang lain yang dimaksud itu tidak ada. Orangtuanya sering menegur bahwa Utari suka berfantasi.

Ketika ada pelajaran menggambar, gambar yang dibuat oleh Budi dipuji oleh guru, bahwa hasil gambarnya sangat bagus. Guru bertanya tentang gambar itu, dan Budi menjawab bahwa gambar itu sebenarnya telah tersimpan lama di dalam pikirannya. Lalu guru meyakinkan bahwa gambar yang dibuat itu adalah hasil imajinasinya.

Dari pengalaman ketiga anak tersebut di atas, kita simak, sebenarnya apa yang dimaksud dengan melamun, fantasi, dan imajinasi ? Bagaimana kita menyikapi anak yang suka melamun, berfantasi, dan berimajinasi yang berlebihan ?

Melamun merupakan kegiatan yang memberi kesenangan. Demikian ungkapan Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya Perkembangan Anak- Jilid 2. Selanjutnya ia menegaskan bahwa melamun merupakan hiburan favorit bagi anak, ketika mereka merasa bosan. Hampir semua anak mempunyai lamunan bertokoh pahlawan. Anak melihat dirinya seperti yang diinginkannya dalam kehidupan nyata. Misal, ketika anak merasa dirinya diperlakukan tidak baik oleh guru, orangtua, saudara, atau teman, maka anak itu mengangkat dirinya sebagai sosok pahlawan yang akan bertanding dan menang.

Bahaya melamun, seperti yang ditulis dalam buku Tantangan Membina Kepribadian (1989), antara lain ; bisa digunakan sebagai pelarian; mengganti sukses yang sejati dengan bayangan atau pemuasan semu; membuang waktu dan tenaga; tak tahu mengarahkan pikiran dan menggunakan waktu untuk sesuatu yang berharga; merusak pandangan hidup dan menghalangi perkembangan kepribadian.

Masih tentang melamun, dalam buku Ensiklopedi Populer Untuk Orang Tua (1978), dijelaskan bahwa lamunan merupakan pulau-pulau kecil tempat melarikan diri. Di sana anak menyendiri untuk menjauh sebentar dari kenyataan. Apa yang dialami dalam lamunan begitu “nyata” bagi anak, sehingga ia mengalami kesulitan untuk membedakannya dengan kenyataan sebenarnya.

Untuk mencegah agar anak tidak melamun yang berlebihan, yang perlu diperhatikan oleh orangtua dan guru, adalah mengamati perilaku anak. Caranya, ketika anak terbiasa menghabiskan berjam-jam menyendiri, tanpa melakukan apapun, dengan pandangan kosong, dan tampak sangat menikmati, itu berarti melamun sudah tidak sehat lagi.

Tentang fantasi, M.Huasaini B.A dan M. Noor Hs (1981) memerincinya ke dalam beberapa pengertian, yaitu :

1.Fantasi aktif, adalah fantasi yang menciptakan sesuatu yang baru.
2.Fantasi cipta, adalah suatu kemampuan jiwa untuk menciptakan suatu bentuk yang nyata. Misal, seorang pelukis menciptakan sebuah lukisan.
3.Fantasi kombinasi, adalah suatu fantasi yang bersifat menghubungkan suatu bentuk dengan bentuk lain, sehingga terwujud bentuk yang baru.
4.Fantasi pasif, adalah fantasi yang bergerak tanpa arah.
5.Fantasi terpimpin, adalah kemampuan berfantasi berdasarkan suatu tuntunan tertentu. Misal, orang mendengar cerita yang sedih, ia turut menangis.

Tentang imajinasi, Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya Perkembangan Anak-Jilid 2, mengutarakan bahwa anak yang tidak mempunyai teman, sering menciptakan seorang teman imajiner.

Anak yang pemalu atau anak yang pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan, mungkin lebih menyukai teman bermain imajiner daripada teman sesungguhnya. Teman imajiner itu bisa berupa manusia, hewan, atau benda yang diciptakan oleh anak untuk memainkan peran sebagai sorang teman.

Dari pengertian tentang melamun, fantasi, dan imajinasi seperti tersebut di atas, yang perlu diperhatikan, adalah bahwa jangan sampai hal tersebut menjadi berlebihan, dan tempat pelarian bagi anak-anak (Sumadi Suryabrata, 2007).

Referensi:

  • Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak-Jilid 2, Penerbit Erlangga, Edisi Keenam, Jakarta.
  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Sumadi Suryabrata, Drs, B.a, M.A, ED.S, Ph.d, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Edisi Kelima, Jakarta, 2007.
  • Tantangan Membina Kepribadian, Yayasan Cipta Loka Cara, Cetakan Kesepuluh, Jakarta, 1989.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: .

Kembalinya Mapel Pancasila Gizi Anak Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: