Gizi Anak Sekolah

8 Agustus, 2016 at 12:01 am

Oleh Arif Satria
Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB

Saat berkunjung di sebuah SD di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) minggu lalu, pertanyaan yang seolah basa-basi tapi serius adalah, ”Apakah adik-adik sudah sarapan?” Serentak mereka pun menjawab, ”Belum, Pak.”

Begitu pula saat berkunjung ke SD di sekitar Tangerang. Apa yang terjadi di kedua SD tersebut bukanlah fenomena aneh. Ternyata hasil berbagai studi yang direviu Hardinsyah dkk (2012) menunjukkan bahwa 17-59% siswa tidak sarapan. Data Hardinsyah yang diolah dari Riskesdas (2010) juga menunjukkan 23.7% hanya sarapan dengan pangan karbohidrat dan minum serta 44.6% sarapan berkualitas rendah. Isu sarapan ini tidak saja terjadi pada masyarakat menengah ke bawah, tetapi juga untuk masyarakat menengah ke atas.

Mereka tidak sarapan karena beragam faktor. Untuk kasus masyarakat menengah ke bawah bisa jadi faktor ekonomi penyebabnya sehingga mereka pun tidak seperti orang mampu pada umumnya yang makan tiga kali sehari. Namun untuk masyarakat menengah ke atas bukan faktor ekonomi, tetapi karena merasa tidak sempat akibat berburu dengan waktu untuk menghindari macet yang sudah terjadi di mana-mana.

Juga faktor orang tua yang bekerja dan berangkat pagi-pagi hingga tidak sempat menyiapkan atau mendampingi anak untuk sarapan. Akibatnya anak membeli makanan jajanan di sekitar sekolah yang belum terjamin tingkat keamanan pangannya. Mengapa sarapan begitu penting sehingga data nasional pun harus merekamnya? Ternyata sarapan tidak saja menentukan tingkat kesehatan, tetapi juga konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir siswa.

Inilah yang menyebabkan munculnya Permenkes Nomor 41/2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang yang juga menyebut pentingnya sarapan sebagaimana tertuang dalam pesan keenam dari 10 Pesan Gizi Seimbang. Isu sarapan ini hanyalah salah satu isu dari sekian banyak isu gizi. Data Riskesdas menunjukkan bahwa balita yang berukuran pendek naik dari 35,6% (2012) menjadi 37,2% (2013). Untuk yang mengalami gizi kurang dan buruk naik dari 17,9% menjadi 19,6%.

Sementara itu untuk status gizi orang dewasa pada tahun 2013, yang berbadan kurus 11%, obesitas 14,76%, dan berat badan lebih 11,48%. Ahli gizi mengatakan siapa kita adalah apa yang kita makan. Kini lebih maju lagi, siapakitaadalahapayangibu kita makan. Artinya pola makan sangat menentukan masa depan tubuh kita dan anak-anak kita. Bayangkan, apa yang terjadi bila anak-anak kita di kemudian hari bila sejak TK atau SD mengonsumsi pangan dengan kualitas gizi rendah atau bahkan mengonsumsi pangan tidak aman atau beracun?

Di sinilah saya sepakat dengan Anies Baswedan bahwa kesuksesan pendidikan tidak sekadar karena faktor belajar mengajar di kelas, tetapi juga faktor ekosistemnya sehingga pendidikan keluarga, lingkungan permukiman, dan asupan gizi anak juga berperan penting. Karena kesuksesan anak di masa depan juga ditentukan kualitas kesehatan dan gizinya. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi ini semua?

Pertama, perlu penguatan program nasional untuk gerakan gizi anak sekolah (GAS) yang kini diinisiasi lagi oleh Kemdikbud bekerja sama dengan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB dan Pergizi Pangan. Dulu di Era Orde Baru ada program Pemberian Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah (PMTAS), tetapi berhenti karena era Reformasi dan otonomi daerah yang menuntut peran pemerintah daerah dan ternyata mereka memiliki keterbatasan baik secara teknis maupun finansial. Tentu program GAS ini sekaligus penyempurnaan dari PMTAS masa lalu.

Program GAS tidak hanya memberi makanan tambahan, tetapi juga edukasi gizi. Operasionalnya bervariasi, tergantung pada konteks masalah setiap wilayah. Bagi sekolah dengan kondisi tingkat ekonomi orang tua siswa kurang mampu, perlu intervensi pemerintah dengan program GAS berupa pemberian makanan untuk sarapan. Namun bagi sekolah perkotaan dengan kondisi ekonomi orang tua siswa yang mampu, sekolah bisa mengelola program sendiri baik untuk edukasi gizi maupun saat pemberian makanan.

Di Jepang, pemberian makanan untuk anak sekolah dilakukan sekolah. Ada makan siang bersama di kelas. Di setiap sekolah ada koki yang memasak, tetapi siswa juga terlibat dalam pelayanan. Kalau di kita ada jadwal piket kelas untuk bersih-bersih, di Jepang ditambah dengan jadwal piket untuk melayani makan siang teman- temannya. Bangladesh juga sudah memulai program ini. Masa kita kalah sama Bangladesh?

Kedua, program GAS di atas perlu melibatkan multipihak, baik kementerian lain maupun swasta. Di KKP, misalnya, ada program”Gemarikan” yangmendorong masyarakat meningkatkan konsumsi ikan. Himpunan alumni IPB juga punya gerakan Ayo Makan Ikan. Kini konsumsi ikan per kapita kita sudah meningkat sekitar 38 kg/ kapita/tahun. Tentu konsumsi ikanbagusuntukperkembangan kecerdasan anak, pertumbuhan maupun kesehatan.

Perpaduan program GAS dan Gemarikan akan penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah melalui konsumsi ikan. Di Jepang, pengenalan gemar makan ikan dimulai dari keluarga hingga sekolah- sekolah. Budaya makan ikan meningkatkan cinta laut. Cinta laut merupakan pilar kebudayaan maritim dan kebudayaan maritim merupakan pilar poros maritim. Jadi gemar makan ikan dan poros maritim Jokowi sangat berhubungan.

Ketiga, perlu segera pengembangan kantin sekolah sehat dan bergizi serta pembinaan pedagang makanan sekitar sekolah. Ini penting karena ternyata ketergantungan siswa terhadap makanan di kantin maupun di sekitar sekolah sangat tinggi. Selama ini kita kurang peduli pada makanan jajanan yang dikonsumsi anak-anak kita di sekolah. Padahal dari sisi keamanan pangannya belum terjamin.

Ketiga agenda tersebut adalah pekerjaan semua pihak: pemerintah pusat, daerah, orang tua, swasta, LSM, dan perguruan tinggi. Ini penting karena menyangkut masa depan generasi mendatang. Karena kualitas generasi mendatang akan juga ditentukan oleh apa yang mereka makan hari ini. (Sumber : Koran Sindo, 8 Agustus 2016)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menghadapi Anak Melamun, Berfantasi, dan Berimajinasi Upaya Berhasil dalam Mengajar


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: