Mengembangkan Minat Menulis pada Anak

7 Agustus, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

Tentang pembelajaran tulis-menulis pada anak-anak, saya mempunyai pengalaman yang sangat menarik. Ada orangtua datang kepada saya. Mereka mengeluh berkaitan dengan tulisan anak-anaknya. Hal itu terjadi, tidak hanya anak-anaknya yang tingkat SD, tapi juga yang SMP. Keluhan orangtua itu, misalnya :

“Anak saya itu tulisannya jelek. Sehingga sulit dibaca !”.
“Anak saya itu tulisannya kecil-kecil. Kalau baca, harus dekat sekali !”
“Anak saya malas menulis. Katanya, banyak menulis itu tangan jadi pegal-pegal !”

Mendengar keluhan orangtua seperti tersebut di atas, saya tergelitik untuk menggali lebih jauh, apakah anak-anak paham tentang tulis-menulis. Untuk itu, saya sempatkan untuk bertemu dengan beberapa anak yang tingkat SD dan SMP. Ketika belajar malam bersama dengan anak-anak, saya mengadakan percakapan dengan mereka.

“Apakah anak-anak bisa menulis ?”
“Bisa !” jawab mereka serempak.
“Apakah yang dimaksud dengan menulis ?”
Mendengar pertanyaan itu, anak-anak diam. Mereka kelihatan sedang berpikir keras. Saya melanjutkan pertanyaan berikutnya.
“Apakah anak-anak pernah mendapat tugas menulis atau mengarang dari sekolah ? Misalnya, membuat surat, laporan, cerpen, atau karya tulis ?”
“Pernah !”
“Wah, menulis itu sulit !”
“Bingung menyusun kalimatnya !”

Jikalau demikian, apa yang dimaksud dengan menulis ?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis adalah membuat huruf (angka, dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya); melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; menggambar, melukis, membatik (kain).

Menurut Mulyono Mulyono Abdurrahman (2010:224) menulis, yaitu salah satu kompunen sistem; menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa grafis; untuk keperluan mencatat dan komunikasi.
Bagaimana mengembangkan minat menulis pada anak-anak ?
Saya mempunyai pengalaman berkaitan dengan mengembangkan minat menulis pada anak, seperti berikut :

1.Bagi yang baru belajar menulis.
Lebih dahulu saya meminta seorang anak untuk menulis di selembar kertas. Sambil saya memperhatikan caranya menulis, saya ajak dia ngobrol. Setelah menulis, saya minta anak itu untuk membaca hasil tulisannya. Dia diam agak lama. Lalu, saya minta lembar kertasnya itu. Saya memperhatikan hasil tulisannya. Benar, hasil tulisannya tidak bisa dibaca. Bentuk tulisannya kecil-kecil, dan dalam satu kalimat, antara kata yang satu dengan kata lain jaraknya sangat rapat.

Dengan tenang, saya memegang bollpoint, dan anak itu saya minta untuk menaruh tangannya di punggung telapak tangan saya yang pegang bollpoint itu. Lalu, saya menulis sebuah kalimat pendek. Ketika tangan saya bergerak menulis, praktis tangan anak itu juga bergerak mengikuti tangan saya. Setelah saya menulis, anak itu saya minta membaca hasil tulisan. Ternyata, dia bisa membaca dengan baik.

Selesai menulis, gantian anak itu saya minta pegang bollpoint, dan telapak tangan saya di atas punggung telapak tangannya yang pegang bollpoint itu. Saya minta anak itu untuk membuat kalimat yang sederhana. Mulailah anak itu bergerak menulis, dan praktis tangan saya juga ikut bergerak. Setelah menulis, saya meminta anak itu membaca hasil tulisannya. Anak itu bisa membaca hasil tulisannya dengan baik.

Hal itu saya lakukan bersama anak itu beberapa kali. Bersyukur anak itu mau menanggapi dengan baik. Terakhir, saya bertanya tentang perasaan yang muncul dalam diri anak itu ketika proses belajar menulis berlangsung. Anak itu menjawab dengan sederhana sekali, “Saya senang, karena tangan Bapak terasa hangat”.

Dari pengalaman tersebut, dapat dikatakan bahwa mengembangkan minat menulis pada anak, ternyata melibatkan emosi, baik dari pihak orangtua atau guru maupun anak. Suasana hati yang senang dan hangat itulah yang menjadi kata kunci bagi anak-anak untuk terus belajar apapun, termasuk tulis-menulis.

2.Bagi anak-anak yang sudah pandai menulis.
Pada waktu belajar malam bersama, saya sempatkan untuk mengajak anak-anak menulis. Sebelumnya saya menyiapkan selembar kertas kecil (ukurannya hanya separuh lembar kertas).

Lalu, saya bagikan kepada anak-anak, dan kemudian saya minta mereka membuat cerita, dengan pertanyaan arahan : apa yang kamu lakukan dari pagi sampai sore ?

Mulailah anak-anak menulis. Mereka menulis dengan cepat tentang yang mereka lakukan dari pagi sampai sore. Tidak berapa lama ada anak yang meminta tambahan lembar kertas untuk melanjutkan tulisannya. Tetapi ada juga anak yang merasa sudah cukup. Setelah itu hasil tulisan mereka dikumpulkan. Saya membaca hasil tulisan mereka. Hari berikutnya saya kembalikan hasil tulisan itu kepada mereka, dan saya beri catatan kecil yang isinya berupa dukungan positif.

Langkah berikutnya, saya membagikan lembar kertas lagi (kali ini satu lembar penuh). Saya minta mereka membuat cerita, dengan pertanyaan arahan : coba, kamu tulis pengalaman yang paling menarik selama seminggu ini !

Mulailah anak-anak menulis dengan cepat, tapi masih ada juga yang berpikir. Ada anak yang minta tambahan lembar kertas, tapi ada yang cukup satu lembar kertas saja. Setelah dianggap cukup, hasil tulisan mereka dikumpulkan. Hari berikutnya, saya kembalikan lagi hasil tulisan mereka, dan saya beri catatan kecil sebagai bentuk dukungan yang positif.

Dalam satu bulan, tidak terasa, anak-anak sudah bisa mengumpulkan hasil tulisan mereka. Mereka tampak senang dengan hasil tulisannya.

Dari pengalaman tersebut, dapat dikatakan bahwa mengembangkan minat menulis pada anak, membutuhkan ketekunan, baik dari pendamping (orangtua, fasilitator, atau guru) dan anak itu sendiri. Anak-anak semakin terdukung, apabila pendamping pun tekun mau menulis.

Berikut ada beberapa catatan yang dapat digunakan untuk patokan agar upaya mengembangkan minat menulis pada anak tercapai, antara lain :

1.Proses belajar menulis melibatkan rentang waktu yang panjang. Proses belajar menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan proses belajar berbicara dan membaca (Mulyono Abdurrahman, 2010:224).

2.Tanpa tulisan kesadaran manusia tak dapat mencapai potensinya yang lebih penuh, tak bisa menghasilkan karya-karya indah dan kuat lainnya (Budiawan Dwi Santoso dalam Basis, No.09-10, 2014:48).

Referensi :

  • Basis, No.09-10, Tahun Ke-63, 2014.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.
  • Mulyono Abdurrahman, Dr., Pendidikan-Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Penerbit PT. Rineka Cipta dan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Cetakan Kedua, Jakarta, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Jangan Ganti Kurikulum Kembalinya Mapel Pancasila


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: