Jangan Ganti Kurikulum

5 Agustus, 2016 at 12:01 am

Oleh Kurniawan Adi Santoso
Peserta Diklat K-13 Edisi Revisi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merombak (reshuffle) Kabinet Kerja untuk kedua kali, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Anies Baswedan diganti Prof Dr Muhajir Effendy, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Pergantian ini menimbulkan kekhawatiran kemungkinan perubahan kurikulum pendidikan. Masyarakat hafal “lagu lama” ganti menteri muncul kurikulum baru.

Kurikulum merupakan “dokumen hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika zaman. Namun, jika berganti dalam waktu singkat, tentu akan menimbulkan kesengsaraan guru, siswa, dan orangtua. Kurikulum baru akan diikuti perubahan pembelajaran guru sebagai pelaksana.

Guru-guru muda akan lebih mudah menyelaraskan dengan isi kurikulum baru. Tetapi, yang sudah tua, lambat memahami dan stres. Mereka “tersiksa” dengan kurikulum baru dan akan bertahan dengan kebiasaan lama.

Pergantian kurikulum yang terlalu sering juga menjadi masalah guru yang juga harus memenuhi tugas administrasi. Di antaranya, membuat program tahunan, program semester, silabus, rencana pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Di sela-sela mengajar, guru akan direpotkan segudang tugas administrasi tersebut. Jika administrasinya kocar-kacir, guru akan kesulitan naik pangkat.

Sebab administrasi mengajar merupakan syarat wajib penilaian kenaikan pangkat.

Pergantian kurikulum yang cepat juga merugikan peserta didik. Mereka akan menerima materi pelajaran “setengah matang” tanpa tujuan jelas. Seperti dalam Kurikulum 2013 (K-13) siswa mengeluh kesulitan ujian nasional (UN). Setiap hari mereka mendapat materi dari K-13 berbasis tematik, tetapi nyatanya saat UN, soal-soalnya banyak dari KTSP yang berbasis mata pelajaran.

Orangtua juga menerima imbas karena otomatis buku teks pembelajaran juga berganti. Katanya disediakan oleh pemerintah, nyatanya di lapangan buku masih belum bisa dinikmati setiap anak.

Orangtua harus membeli buku. Publik berharap untuk sementara tidak lagi berganti kurikulum. Terlebih, tahun pelajaran baru 2016/2017 ini, K-13 yang sudah direvisi mulai diterapkan lagi. Jumlah sekolah yang menerapkan K13 tahun ini mencapai 38.472 unit. Perinciannya: SD (27.480), SMP (5.320), SMA (2.049), SMK (1.606), dan pendidikan khusus (2.017).

Keputusan mantan Mendikbud Anies Baswedan untuk memulai lagi implementasi K-13 secara bertahap tahun ini dinilai tepat. Revisi agar K-13 selaras antara ide, desain, dokumen, dan pelaksanaan dalam pembelajaran, sehingga memudahkan guru dalam mempelajari, memahami, dan menerapkan.

Memudahkan
Revisi mulai dari kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), silabus, pedoman mata pelajaran, pembelajaran, penilaian, hingga buku teks. Sebelumnya, pendekatan saintifik dalam bentuk 5M (mengamati, menanya, mencoba, meng-asosiasi, mengomunikasikan) wajib dilakukan dalam pembelajaran. Dalam perbaikan, lang¬kah saintifik boleh dilakukan secara acak, tidak harus rigit. Ini bisa dimulai dengan me¬ngamati, menanya, menco¬ba, mengasosiasi dan mengomunikasikan. Pada ke¬giatan tertentu bisa saja langsung me¬ngasosiasi, lalu mengamati.

Guru secara leluasa bisa memilih ber¬bagai pendekatan dan model pembe¬la¬jaran agar aktif di dalam dan luar kelas. Kompetensi (sikap, pe¬ngetahuan, dan keterampilan) tidak ter¬capai hanya dengan berceramah. Model dan pendekatan bisa berupa Problem Based Learning, Discovery Learning, Project Based Learning, Inquiry Learning, Contextual Tea¬ching and Learning.

Hasil evaluasi K-13 lainnya, penyelarasan KI dan KD dengan buku serta silabus yang juga diperbaiki. Sedang KI-1 (spiritual) dan KI-2 (social) le¬bih diarahkan untuk mata pelajaran aga¬ma dan PPKn.

Sedangkan lainnya tidak dalam bentuk pembelajaran lang¬¬sung, tapi dengan ca¬tatan-catatan guru atas sikap yang me¬nonjol (ekstrem) baik positif ataupun negatif.

Catatan dalam jur¬nal perilaku peserta didik, waktu, dan tempat kejadian. Catatan diserahkan ke¬pada wali kelas untuk disimpulkan. Sedangkan, penilaian diri tidak mesti pe¬serta didik yang melakukan. Satuan pend¬i¬di¬kan bisa menunjuk guru bimbi-ngan kon¬seling atau wali kelas.

Rentang nilai untuk aspek pe¬ngetahuan dan keterampilan berubah dari 1-4 men¬jadi 0-100 agar memudahkan guru. Untuk predikat A (sangat baik) nilainya 86-100, B (baik) 71-85, C (cukup) 56-70, dan D (perlu bimbingan) kurang dari 55. Predikat A, B, C, dan D ditentukan satuan pendidikan dengan mempertimbangkan standar pendidikan dan kriteria ketuntasan minimal. Deskripsi penca¬paian kompetensi di rapot juga makin mudah. Intinya memotivasi de¬ngan kata-kata positif berdasar pencapaian KD tertinggi dan terendah.

Sayang, pendidikan dan pelatihan (diklat) K-13 revisian untuk guru masih memakai pola lama, 5 hari atau sekitar 52 jam pembelajaran. Padahal materi diklat cukup banyak. Di antaranya, kebijakan dan dinamika perkembangan kurikulum. Kemudian, gerakan penumbuhan budi pekerti, penguatan literasi dalam pembelajaran, dan peranan keluarga dalam pembelajaran siswa.

Materi pokoknya antara lain analisis dokumen SKL, KI-KD, silabus dan pedoman mata pelajaran. Analisis materi dalam buku teks pelajaran, penerapan model pembelajaran, sampai praktik pembelajaran dan penilaian.

Diklat K-13 yang terlalu mepet waktu masuk tahun ajaran baru membuat guru kurang persiapan, sehingga penataran tidak maksimal. Ke depan diharapkan ada pola baru diklat agar lebih efektif sehingga guru bisa mudah memahami dan menerapkan.

Selain itu, saat K-13 diterapkan di sekolah seharusnya buku teksnya sudah ada di dalam kelas karena begitu vital sebagai panduan pelaksanaan secara baik dan benar. Untuk itu, pendistribusian buku harus diperbaiki juga. (Sumber : Koran Jakarta, 05 Aug 2016)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Amanat untuk Mendikbud Baru Mengembangkan Minat Menulis pada Anak


ISSN 2085-059X

  • 839,764

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: