Teknik Mengatasi Siswa Tidak Disiplin

29 Juli, 2016 at 8:47 am

MulyaniOleh Mulyani SPd
Guru SMP Negeri 2 Gemolong, Sragen, Jateng

 

Secara umum pendidikan di Indonesia bertujuan untuk membentuk manusia mandiri dan utuh, sehat lahir dan batin sehingga dapat menempati posisi dan perannya dalam lingkup pergaulan di masyarakat. Pendidikan merubah manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang belum dewasa menjadi dewasa, dari tidak pandai menjadi pandai. Pemahaman yang sederhana ini tentu saja tidak sepenuhnya benar, namun setidaknya dapat mudah dipahami oleh masyarakat.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , menjelaskan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahas esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Sisdiknas, 2003:15)

Menelaah lebih jauh tujuan pendidikan nasional tersebut menjadikan tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh negara, orang tua, dan masyarakat tidaklah ringan. Pada saat ini banyak keluhan tentang rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, terutama dari para pemakai lulusan sekolah dan perguruan tinggi. Oleh karena itu perlu kerja keras dari berbagai pihak dan saling membahu untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan bersama ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua pihak.

Guru SMP yang terdiri dari guru mata pelajaran dan guru pembimbing merupakan ujung tombak pelaksanaan pendidikan di sekolah. Oleh Karena itu sangat perlu untuk memperluas dan meningkatkan wawasan, ilmu dan keterampilan serta selalu menampilkan nilai-nilai dan sikap yang sesuai dengan tuntutan tugas pokoknya masing-masing dalam rangka pelaksanaan pendidikan secara menyeluruh. Hal tersebut agar hasil belajar yang dicapai siswa dapat memenuhi kriteria pencapaian tujuan instruksional.

Proses belajar mengajar akan belajar efektif apabila seluruh siswa mematuhi tata tertib dengan penuh rasa disiplin yang tinggi. Disiplin merupakan suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan atau keterikatan terhadap suatu eraturan tata tertib ( Soegeng, 1998 : 23 ). Perilaku disiplin sangat dibutuhkan dalam pembinaan perkembangan siswa untuk menuju masa depan yang lebih baik. Perilaku disiplin perlu ditanamkan terhadap siswa SMP dalam berbagai hal, terutama disiplin dalam belajar.

Diantara berbagai tugas dan peran guru tidak hanya sebagai pendidik dan bukan saja mengajar, tetapi tugas guru juga membantu siswa mengembangkan potensi dirinya bahkan lebih dari itu yaitu mengantarkan siswa menjadi manusia yang cerdas dan berbudi luhur, oleh sebab itu guru harus memperhatikan siswa terutama sikap, tingkah laku, ketertiban dan kedisiplinannya.

Sekarang ini banyak kita liat adanya tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru. Tingkah laku tersebut antara lain seringnya melanggar tata tertib sekolah. Gejala tingkah laku tersebut mempengaruhi proses belajar siswa sehingga siswa tidak mampu menyerap palajaran sacara optimal.

Faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku ketidakdisiplinan tentu tidak sepenuhnya berasal dari siswa tetapi faktor guru dalam mengajar juga bisa menjadi pemicu munculnya perilaku tersebut. Guru punya peranan penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang membuat siswa merasa senang dan nyaman dalam mengikuti pelajaran. Guru yang kurang kreatif, kurang inovatif dan kurang menyenangkan dalam mengajar akan membuat siswa jenuh dan enggan mengikuti pelajaran.

Guru pembimbing yang kurang sensitif terhadap permasalahn siswa yang muncul, kurang cepat dalam mengatasi permasalahan siswa yang ada, dan minimnya upaya pencegahan yang dilakukan akan membuat semakin berkembangnya permasalahan-permasalahan ketidaktertiban dan ketidakdisiplinan siswa.

Saat ini perilaku ketidakdisiplinan yang dilakukan siswa sudah menjadi permasalahan serius yang perlu mendapat penanganan segera dari pihak sekolah. Kebiasaan perilaku itu akan menghambat tercapainya tujuan pembelajaran dan siswa akan mengalami kesulitan belajar yang muaranya dapat menyebabkan siswa mengalami kegagalan dalam belajar. Hal ini terbukti dari sebagian siswa yang mempunyai perilaku tidak disiplin dalam belajar rata-rata memperoleh nilai di bawah standar nilai kurikulum yang ditetapkan sekolah.

Untuk mengubah perilaku tidak disiplin tersebut, maka perlu ditempuh berbagai upaya. Salah satu upaya tersebut adalah melalui konseling behavioristik. Konseling dengan pendekatan behavioristik merupakan satu bentuk upaya untuk mengubah tingkah laku tidak disiplin belajar yang merupakan kendala dalam proses belajar mengajar.

Konseling behavioristik sebagai salah satu teknik pendekatan untuk membantu individu dapat dikatakan sebagai terapi tingkah laku. Menurut Gerald Corey yang dikutip Munandir (1997: 202) menjelaskan bahwa: tujuan terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar mengajar. Penekanan belajar dalam konseling behavioristik adalah membantu proses belajar siswa dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa dan berakibat siswa dapat mengubah perilakunya, dan memecahkan masalahnya.

Dengan adanya perubahan tingkah laku dari perilaku yang mal adaptif( perilaku yang tidak sesuai) menjadi perilaku yang konstruktif akan berdampak terhadapmeningkatnya tingkat kedisiplinan siswa sehingga akan tercipta kondisi-kondisi baru dalam proses belajar yang lebih baik dan hasil belajar siswa bisa optimal.

Referensi :
• Soegeng. 1998. Mendidik Kedisiplinan Anak. Bandung : Remaja Rodakarya.
• Munadir. 1997. Bimbingan Konseling. Semarang : UNNES Press.
• Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbara.

(Kontak Person : 085201161311. Email : mulyaniica70@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Cara Merawat Buku Mengembangkan Minat Membaca pada Anak


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: