Mengembangkan Minat Membaca pada Anak

29 Juli, 2016 at 8:55 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo menilai isu pendidikan menjadi permasalahan utama yang dihadapi masyarakat. Salah satu hal yang menjadi tolok ukur pendidikan adalah minat baca. Saat ini minat baca masyarakat masih rendah. Menjadi keharusan untuk meningkatkannya (Suara Merdeka, 24/3/2013).

Ungkapan yang bernada keprihatinan seperti tersebut di atas, saya alami juga ketika saya bertemu dengan orangtua, yang mengeluh tentang anaknya dalam hal kegiatan membaca. Misal :
“Anak saya malas membaca. Sukanya nonton TV !”
“Anak saya suka baca komik !”
“Anak saya, baru saja buka halaman pertama, langsung bukunya ditutup. Katanya malas. Banyak kalimat. Tidak ada gambarnya !”

Sebelum saya menanggapi atas keluhan orangtua tersebut, saya balik bertanya kepada mereka,”Apakah bapak dan ibu suka membaca ?” Mereka menjawab, seperti berikut :

“Kadang-kadang, kalau pas longgar !”
“Saya kan sibuk kerja. Sudah lelah, kalau mau baca !”
“Suka baca sih tidak. Baca yang ringan-ringan saja !”
Kemudian, saya bertanya lagi,”Apakah yang dimaksud membaca, menurut bapak dan ibu ?” Mereka menjawab, demikian :
“Ya, pegang buku lah !”
“Cara untuk memperoleh informasi yang penting !”
“Untuk mengisi waktu !”

Nah, berangkat dari pengalaman itu, ternyata minat baca dan pemahaman tentang membaca, yang belum terangkat itu melanda tidak hanya anak-anak, tapi juga orangtua.

Untuk itu, marilah kita gali, apa yang dimaksud dengan membaca ?
Yang dimaksud dengan membaca, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu : melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis; mengeja atau melafalkan apa yang tertulis; mengucapkan.

Menurut, Mulyono Abdurrahman (2010:200) membaca merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbol-simbol bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.

Selanjutnya Mulyono Abdurrahman menyampaikan manfaat dari aktivitas membaca, yaitu : untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan; untuk menguasai berbagai bidang studi; untuk belajar; untuk meningkatkan keterampilan kerja dan penguasaan berbagai bidang akademik; untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, budaya, politik; untuk memenuhi kebutuhan emosional; untuk rekreasi atau memperoleh kesenangan.

Bagaimana cara mengembangkan minat baca ?
Berdasarkan pengalaman saya, cara mengembangkan minat baca pada anak, antara lain :

1.Dari komik ke buku yang lain.
Kepada anak yang suka membaca komik, saya memberi anak itu dua buah buku, yaitu buku komik anak-anak dan buku kumpulan cerpen anak-anak. Saya meminta anak itu untuk memilih, buku mana yang akan dibaca lebih dahulu. Anak itu memilih buku komik. Saya tunggu sampai ia selesai membaca komik. Berikutnya, anak itu membaca buku kumpulan cerpen. Sebelum membaca, saya memberi petunjuk, agar memilih salah satu cerpen yang tertera di daftar isi. Anak itu paham, lalu mulailah dia membaca. Setelah ia selesai membaca, saya memberi kesempatan untuk membawa pulang kedua buku tersebut.

Hari berikutnya, anak itu mengembalikan kedua buku itu kepada saya. Seiring dengan jalannya waktu, anak itu sedikit demi sedikit mulai senang membaca buku-buku yang lain. Saya mengetahui, karena anak itu rajin pinjam buku di perpustakaan.

Dari pengalaman tersebut dapat dilihat bahwa kesukaan anak membaca komik tidak dapat dengan serta-merta dihentikan begitu saja. Tetapi, hendaknya dilakukan melalui tahapan. Dengan cara ini, semangat membaca dalam diri anak tetap terpeliharan.

2.Dari fokus di TV ke buku.
Kepada anak yang terlalu fokus di TV, saya meminta orangtua dan anak bicara bersama untuk membuat jadwal kegiatan membaca dan menonton TV. Setelah membuat jadwal bersama, saya meminta mereka untuk komitmen, yaitu benar-benar mentaati jadwal tersebut. Pada saatnya anak menonton TV, orangtua harus menerima. Pada saatnya anak membaca, orangtua juga ikut membaca, dan TV tidak dinyalakan.

Sikap orangtua untuk tetap konsisten mentaati jadwal membaca dan menonton TV, akan dilihat oleh anak, dan hal ini menjadi tantangan bagi orangtua. Meskipun pada jam tersebut ada acara TV kesukaan orangtua, orangtua tetap bertahan untuk tidak menyalakan TV, tetapi digunakan untuk membaca. Dari pihak anak akan merasa terdukung, karena orangtua ikut membaca juga.

3.Dari jumlah halaman sedikit ke banyak.
Ketika anak sudah bisa membaca, ajaklah anak untuk mulai membaca buku yang tipis (jumlah halaman sedikit) dan ada gambarnya. Jika sudah berjalan, siapkan buku yang agak tebal (jumlah halaman agak banyak), dan seterusnya sampai buku tebal (jumlah halaman banyak). Tahap berikutnya, ajaklah anak untuk membaca surat kabar. Tuntun anak dengan menunjuk nama surat kabar, lalu tunjukkan foto yang disertai dengan keterangan. Keterangan inilah yang perlu dibaca oleh anak. Setelah anak terlatih membaca surat kabar, anak bisa dibawa untuk membaca berita yang pendek, lalu cerpen, puisi, hobi yang tercantum di halaman khusus surat kabar tersebut. Berikutnya, siapkan majalah anak atau jenis-jenis buku lainnya yang bermutu.

4.Membaca dijadikan kebiasaan.
Ketika orangtua mengajak anak-anaknya bepergian. Sempatkan meminta kepada anak-anak, kata atau kalimat yang mereka temui di jalan, lalu dibaca dengan bersuara. Jika kegiatan ini terus dilakukan, akan menjadi kebiasaan anak-anak, kemanapun mereka pergi ada minat untuk membaca.
Ketika orangtua mempunyai barang/benda dan ada keterangan/penjelasan, sempatkan meminta kepada anak untuk membaca. Misal, bungkus obat, kwitansi, data transaksi/jual-beli, dan lain-lain. Jika hal ini menjadi kebiasaan, ketika anak-anak menemui apapun sepanjang ada tulisan, maka mereka akan membaca.

Selanjutnya Mercer (via Mulyono Abdurrahman, 2010:201), ada lima tahap perkembangan membaca, yaitu : kesiapan membaca; membaca permulaan; keterampilan membaca cepat; membaca luas; membaca sesungguhnya.

Kemudian, ada faktor-faktor yang memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca, yaitu : kematangan mental; kemampuan visual; kemampuan mendengarkan; perkembangan wicara dan bahasa; keterampilan berpikir dan memperhatikan; perkembangan motorik; kematangan sosial dan emosional; motivasi dan minat.

Ada beberapa saran yang diajukan oleh Y.B. Sudarmanto (1994:37) agar minat baca pada anak-anak semakin berkembang, yaitu : membaca dengan sungguh-sungguh; mempercepat cara membaca; batinkan atau ulangi dalam batin bahan yang telah dibaca; menambah waktu membaca; konsentrasi pada saat membaca; mengembangkan pengatahuan kosa kata asing atau baru.

Masukan atau saran seperti yang diutarakan di atas, adalah modal penting untuk mengembangkan minat baca pada anak. Namun demikian, modal yang tak kalah pentingnya, adalah ketekunan. Modal ketekunan ini tidak hanya berlaku bagi anak, tetapi juga orangtua dan guru.

Referensi :

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.
  • Mulyono Abdurrahman, Dr., Pendidikan-Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Penerbit PT. Rineka Cipta dan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Cetakan Kedua, Jakarta, 2010.
  • Suara Merdeka, 24 Maret 2013.
  • Sudarmanto, YB., Tuntunan Metodologi Belajar, Penerbit PT Grasindo, Cetakan Kedua, Jakarta, 1993.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Teknik Mengatasi Siswa Tidak Disiplin Amanat untuk Mendikbud Baru


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: