Lingkungan Pendidikan Anak Nirkekerasan

23 Juli, 2016 at 12:00 am

Oleh Nur Hayati MPd
Dosen Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) FIP Universitas Negeri Yogyakarta.

ANAK Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) pada Sabtu, 23 Juli 2016 ini. Tema HAN kali ini “Akhiri Kekerasan pada Anak”. Puncak peringatan akan diselenggarakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Rangkaian acara antara lain kegiatan Forum Anak yang berlangsung pada 19-22 Juli 2016 di Mataram, NTB. Acara dihadiri 545 anak dari utusan Forum Anak Provinsi.

Kekerasan merupakan musuh bersama dan menjadi penyakit bagi proses pendidikan anak. Kenyataannya sampai saat ini belum semua orang tua dan guru konsisten menyiapkan kondisi lingkungan kondusif (nirkekerasan) bagi perkembangan anak. Pengenalan informasi atau pengetahuan baru pada anak perlu strategi yang sesuai dengan kondisi anak. Penciptaan iklim yang mendukung (supportive climate) penting dilakukan guna melejitkan potensi anak. Lingkungan merupakan sumber belajar yang berpengaruh kuat pada proses tumbuh kembang anak.

Anak belajar di dalam lingkungan berbagai hal yang dapat memfasilitasi kebutuhannya untuk berkembang optimal. Anak sejak usia dini telah memiliki kecerdasan jamak. Perkembangan anak mengantarkan kondisi yang cenderung didominasi satu atau dua kecerdasan serta ada yang tetap berkembang semua kecerdasan jamaknya. Konsep supportive climate atau membangun suasana mendukung dapat mengembangkan semua kecerdasan anak. Tujuannya, agar dapat menghadapi tantangan hidup yang lebih kompleks pada usia dewasa.

Menciptakan suasana mendukung berpihak pada kebutuhan anak. Anak belajar aktif, fokus pada minat dan inisiatifnya, mencoba ide, bicara tentang apa yang dilakukan, dan memecahkan masalahnya sendiri. Metode ini menstimulasi, menguatkan perkembangan anak dalam percaya diri, autentik dalam berkarya, inisiatif dan empati (Sudono, 2003).

Dalam proses pembelajaran, guru dan anak berbagi peran dan pengalaman. Suasana yang mendukung keaktifan anak akan memberi kesempatan seluas-luasnya agar anak bereksplorasi. Pada waktu bersamaan guru dapat menciptakan suasana aman satu anak dengan anak lain. Lingkungan belajar yang dirasakan anak penuh dengan pilihan sesuai dengan kebutuhan anak. Upaya mempersiapkan suasana kondusif bukan berarti tanpa peraturan. Aturan dalam bermain sebaiknya disepakati bersama oleh guru dan anak.

Kesepakatan itu perlu dibangun demi tercipta rutinitas belajar yang menyenangkan dan bermakna. Beberapa hal penting diperhatikan guru atau orang tua guna membangun suasana yang mendukung pendidikan anak. Pertama, guru penting memahami suasana pada anak sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menggugah semangat anak. Kedua, memahami cara belajar anak menggunakan pancaindranya, mengungkapkan bahasanya, ketika menemukan jawaban dari eksplorasi sesuai dengan gaya belajarnya, ketika konsep dirinya positif dan berhasil menyelesaikan sesuatu. Ketiga, memahami tingkat perkembangan anak didik yang berbeda- beda agar anak berkembang tanpa beban.

Mendukung Pendidikan
Strategi lain, memahami segala sesuatu sebelum, saat, dan sesudah terjadi pada anak. Hal ini perlu dipahami pendidik karena setiap kompetensi anak belum dapat ditentukan sepenuhnya dalam suasana sama. Pendidik perlu mencermati secara kontinu agar penguasaan terendah dan tertinggi anak dalam suatu pembelajaran dapat tercapai.

Guru memfasilitasi perkembangan kecerdasan anak. Guru menyediakan kegiatan dan media yang dapat memunculkan kecerdasan bahasa, logika matematika, musik, kinestetik, visual dan spasial, naturalis, intrapersonal dan interpersonal. Strategi terakhir dapat dilakukan dengan mengoptimalkan stimulasi kegiatan pendukung bagi kecerdasan jamak anak.

Pertama, anak dengan kecerdasan logika matematika dapat distimulasi melalui permainan berupa pemecahan masalah, permainan berhitung dengan berbagai media. Kedua, anak dengan kecerdasan visual-spasial dapat distimulasi dengan sering menggunakan gambar untuk belajar, membuat coretan dan simbol, menggunakan pemetaan pemikiran. Ketiga, anak dengan kecerdasan kinestetik-gerak tubuh dapat distimulasi melalui latihan fisik yang menggerakkan anggota tubuh, gerak atau tarian untuk belajar, bermain peran.

Keempat, anak dengan kecerdasan musik (ritmikirama) dapat distimulasi dengan bermain alat musik, belajar lewat lagu, atau bergabung dengan paduan suara. Kelima, anak dengan kecerdasan verbal-linguistik dapat distimulasi dengan bercerita, bermain permainan ingatan tentang nama dan tempat. Keenam, anak dengan kecerdasan interpersonal antarpribadi dapat distimulasi dengan belajar bersama-sama, memberi banyak waktu bersosialisasi.

Ketujuh, anak dengan kecerdasan intrapersonalintrapribadi dapat distimulasi dengan perbincangan dari hati ke hati, aktivitas tanya jawab. Kedelapan, anak dengan kecerdasan intrapersonal-intrapribadi dapat distimulasi dengan kegiatan pengamatan lingkungan, bermain bercocok tanam. Supportive climate menjadi strategi yang penting direncanakan dan diwujudkan dalam setiap pembelajaran anak. Arahan serta dukungan dari guru atau orang tua menjadi kunci mengoptimalkan pemahaman belajar anak. (Sumber: Suara Merdeka, 23 Juli 2016).

Iklan

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Makna Seragam Sekolah dan Atributnya Ubah Paradigma Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 839,764

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: