Gerakan Mengantar Anak Sekolah

18 Juli, 2016 at 7:59 am

Oleh Safrudin MPd
Guru MAN 2 Pati, alumnus Pascasarjana UPI Bandung

AWAL tahun pelajaran baru telah tiba. Dalam rangka menyambut hari pertama masuk sekolah pada tanggal 18 Juli 2016 (hari ini) Kemdikbud mendorong para orang tua untuk mengantarkan anaknya pada hari pertama masuk sekolah.

Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud No 4 Tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah yang diperkuat lagi dengan Surat Menteri PANRB No. B/2461/M.PANRBN/ 07/2016 tentang izin bagi PNS di hari pertama masuk sekolah. Surat kedua menteri itu ditujukan kepada bupati, gubernur, menteri dan seluruh pimpinan lembaga pemerintahan lainnya agar PNS diizinkan mengantarkan anak ke sekolah.

Surat edaran tersebut meminta seluruh kepala daerah untuk turut mendukung penyebaran pesan hari pertama sekolah atau hari pertama masuk sekolah dengan mendorong para PNS/karyawan untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama sekolah. Mendorong sekolah untuk menyambut siswa baru dan melakukan interaksi komunikasi intensif dengan orang tua.

Meski PNS/karyawan diajurkan mengantarkan anak ke sekolah, mereka harus tetap kembali masuk kerja setelah selesai kegiatan tersebut. PNS/karyawan juga harus menyampaikan pemberitahuan resmi kepada pimpinan mengenai kegiatan mengantarkan anak sekolah. Pada awalnya gerakan ini dinilai skeptis bahkan resistensi.

Gubernur Ahok adalah contoh pejabat yang menolak edaran ini meski pada akhirnya dia mengizinkan PNS di Jakarta untuk mengantarkan anak ke sekolah. Mengantar anak ke sekolah adalah kesempatan untuk membangun hubungan baik antara keluarga dan sekolah.

Kegiatan ini diharapkan mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan cara mendidik anak di sekolah dan di rumah. Mengantar anak sekolah berarti menemani dan membangun komunikasi dengan guru dan orang tua murid lainnya.

Hari pertama sekolah adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang anak selama di bangku pendidikan. Sekolah merupakan rumah kedua bagi anak. Gerakan mengantar anak sekolah yang diinisiasi oleh Anis Baswedan memberi banyak manfaat bagi anak sekolah.

Membangun Komunikasi
Adapun manfaatnya antara lain: Pertama, kebijakan pemerintah agar orang tua mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah itu memberikan dampak psikologis yang baik bagi anak sekolah yang baru saja masuk ke lingkungan baru.

Pendampingan orang tua ketika anak berada di tempat yang baru lebih efektif menumbuhkan sikap percaya diri. Sehingga anak merasa nyaman dan aman di lingkungan baru. Secara psikologis anak sering takut di hari pertama sekolah karena mereka masuk ke tempat dengan suasana baru.

Suasana baru itu belum tentu nyaman bagi setiap anak didik. Idealnya kegiatan mengantar anak pada hari pertama itu jangan hanya mengantar sampai depan gerbang sekolah tetapi harus sampai ke kelas.

Kedua, orang tua dilatih untuk meluangkan sedikit waktu demi kepentingan pendidikan anaknya. Orang tua dapat meluangkan waktunya dalam bentuk mengantar anak sekolah pada hari pertama masuk sekolah dan mendampingi anak belajar di rumah.

Dampak negatif masyarakat modern yaitu naiknya kesibukan masyarakat. Orang tua seperti tidak ada waktu untuk mencurahkan perhatiannya kepada pendidikan anak. Orang tua terjebak ke dalam paradigma berpikir yang sempit tentang pendidikan.

Urusan mencerdaskan anak adalah tugas sekolah. Ketiga, memunculkan kesempatan dialog antara orang tua dan guru ketika mengantar anak paada hari pertama sekolah.

Sekolah harus menyediakan ruang yang cukup bagi orang tua untuk mendapatkan informasi mengenai pendidikan di sekolah tersebut. Orang tua mendapatkan informasi sekolah tidak hanya dari anak tetapi juga dengan berkunjung secara langsung ke sekolah anak.

Dialog orang tua dan guru diharapkan dapat memperkaya informasi tentang pendidikan dan kebijakan sekolah bahkan dapat digunakan sebagai media klarifikasi dan promosi sekolah. Orang tua diharapkan dapat membangun komitmen bersama dengan sekolah mengenai tanggung jawab pendidikan terhadap anak.

Orang tua tidak lagi menganggap bahwa sekolah adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas proses terbentuknya karakter dan perilaku anak. Orang tua harus semakin sadar bahwa anak di sekolah hanya 7-8 jam sehari selebihnya anak lebih banyak berada di rumah dan masyarakat.

Orang tua dan sekolah harus bekerja sama untuk membangun tujuan yang jelas terhadap pendidikan anak. Masing-masing pihak memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak. Kesuksesan dan kegagalan pendidikan anak tidak dapat ditimpakan sepenuhnya kepada sekolah.

Orang tua dan masyarakat juga ikut bertanggung jawab. Orang tua dan sekolah harus dapat berkolaborasi mendidik anak mengikuti program pembelajaran di sekolah. Orang tua itu tidak hanya memikirkan biaya pendidikan anaknya tetapi juga membantu sekolah untuk mendidik anaknya. Sekolah bukanlah tempat penitipan anak untuk belajar di sekolah. (Sumber: Suara Merdeka, 18 Juli 2016).

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Cara Bicara dan Pengaruhnya Makna Seragam Sekolah dan Atributnya


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: