Cara Bicara dan Pengaruhnya

17 Juli, 2016 at 6:46 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Sepulang dari sekolah Rakai tampak sedih. Ia bercerita kepada orangtuanya tentang cara bicara gurunya pada waktu pelajaran Matematika.

“Dasar anak bodoh ! Soal Matematika segampang ini, kamu tidak bisa !” kata Rakai, menirukan cara bicara gurunya.

Lain dengan Rina, sepulang dari sekolah, ia kelihatan gembira. Ia bercerita kepada orangtuanya tentang cara bicara gurunya pada waktu pelajaran IPA.

“Nah, ternyata kamu bisa mengerjakan. Tinggal cara menjawab saja yang belum mantap !” kata Rina, menirukan cara bicara gurunya.

Ternyata cara bicara guru tersebut mempengaruhi mentalitet Rakai dan Rina. Pengaruhnya adalah Rakai jadi malas belajar Matematika lagi. Tetapi, Rina semakin bertambah semangatnya belajar IPA.

Ungkapan pengalaman dari Rakai dan Rina tersebut menunjukkan bahwa cara bicara guru mempunyai pengaruh yang besar terhadap mentalitet anak. Cara bicara yang bernada membangun, akan membuat anak-anak menjadi gembira dan terangkat mentalitetnya. Sedangkan cara bicara yang bernada melemahkan, akan membuat anak-anak menjadi sedih dan jatuh mentalitetnya.

Tentang cara bicara dan pengaruhnya, Thomas Gordon (1977), mengatakan bahwa kata-kata yang mengandung pesan yang disampaikan pada hari ini, akan menjadi konsep diri anak-anak di kemudian hari. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa berbicara (menyampaikan pesan melalui kata-kata) dapat membangun atau melemahkan image diri anak-anak.

Banyak peristiwa di sekolah, yang kadang membuat guru mengeluarkan kata-kata, entah disadari atau tidak disadari berpengangaruh terhadap mentalitet anak. Peristiwa tersebut bisa terjadi pada saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung atau pada saat di luar ruang kelas.

Di dalam kelas, pemicunya bisa berawal dari anak-anak yang tidak mengerjakan tugas, nilai anak kurang atau jelek, anak tidak memperhatikan pada saat guru menerangkan, anak saling bercanda dengan teman-temannya, dan lain-lain. Sedangkan pemicu di luar kelas, bisa berawal dari anak-anak yang menggunakan jam istirahat tidak dengan tertib, anak-anak saling mengejek, anak-anak bermain dengan curang, dan lain-lain.

Melihat perilaku anak-anak yang mungkin dianggap oleh guru kurang sedap dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, dan tanpa bertanya lebih dahulu kepada anak-anak, guru langsung berbicara dengan cara yang kurang menyenangkan. Padahal peristiwa yang terjadi itu, jika ditilik secara mendalam, belum tentu mengandung masalah yang besar, dan belum tentu juga mengakibatkan efek yang besar pula.

Misalnya, ketika guru sedang menerangkan pelajaran, guru melihat ada anak yang duduknya tidak tenang. Bagi guru hal tersebut sangat menganggunya. Tiba-tiba guru membentak.
“Saya minta kamu keluar dari ruangan ini !” kata guru dengan suara keras, dan anak tersebut kaget, lalu segera keluar dari ruang kelas.

Pulang dari sekolah, anak itu bercerita bahwa dia dikeluarkan dari ruang kelas oleh gurunya. Karena kelihatan tidak tenang pada waktu mengikuti pelajaran. Anak itu berterus terang kepada orangtuanya, bahwa dia sebenarnya menahan buang air kecil. Dia takut untuk minta izin ke toilet.

Dari peristiwa tersebut, sebaiknya apa yang harus dilakukan oleh guru ketika melihat anak yang duduknya tidak tenang ? Sebaiknya guru mendekati anak tersebut, dan berbicara kepadanya, misalnya :

“Saya perhatikan, kamu kelihatan gelisah sekali. Ada apa, ya ?”

“Apakah ada yang menganggu di kursimu ?”

“Mungkin kamu ingin menyampaikan sesuatu kepada saya ? Jika ada, silahkan, saya tidak akan marah !”

Apabila cara bicara guru dengan cara yang “enak”, penuh harap anak-anak juga akan menanggapi dengan “enak” pula. Mereka akan merasa terbangun di depan gurunya dan teman-temannya.

Yang harus diingat oleh guru, adalah bahwa seorang guru yang sedang mengajar di satu ruang kelas dengan sekian jumlah anak, tentu ada sekian anak yang kuat mentalitetnya, dan ada sekian anak yang belum siap mentalitetnya terhadap cara bicara guru. Oleh karena itu guru harus berhati-hati ketika sedang berbicara, agar anak-anak yang belum siap mentalitetnya tetap merasa terjamin.

Ilustrasi di atas, juga bisa dilakukan oleh orangtua kepada anak-anaknya di rumah. orangtua harus berhati-hati ketika berbicara kepada anak-anaknya, agar hubungan keluarga tetap terjaga. Jangan sampai hubungan orangtua dan anak-anaknya retak, hanya karena ketidakhati-hatian dalam berbicara.

Jika orangtua cara berbicaranya bermuatan pesan yang baik, maka anak-anak akan belajar cara berbicara yang baik pula.

Sebagai penutup, saya mempunyai catatan kecil dari hasil mengikuti Seminar Smart teaching With Hypnoteaching (2010), yaitu : orang bisa dinilai kualitasnya dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Referensi:

  • Thomas Gordon, Menjadi Guru Efektif, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
  • Seminar “Smart Teaching With Hypnoteaching, di Universitas Negeri jakarta, 10 Oktober 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Tahun Pelajaran Baru: Kembali ke K-13 Gerakan Mengantar Anak Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: