Tahun Pelajaran Baru: Kembali ke K-13

16 Juli, 2016 at 10:36 am

Oleh Sukemi
Pemerhati Pendidikan

Senin (18/7), dalam kalender akademik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dinyatakan sebagai dimulainya tahun pelajaran baru 2016-2017 bagi peserta didik.

Baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah, serta pendidikan anak usia dini atau lebih akrab dikenal sekolah taman kanak-kanak. Dalam tiap kali memasuki tahun pelajaran baru dapat dipastikan ada sesuatu hal baru yang menyertainya. Minimal suasana kelas dan seragam sekolah yang mungkin berganti dengan yang baru.

Tapi pada tahun pelajaran baru kali ini tidak hanya itu yang baru. Dilaksanakannya kembali Kurikulum 2013 (K-13), kiranya perlu dicatat sebagai sesuatu yang baru pula, dan menjadi momentum atas apa yang selama ini menjadi perdebatan panjang di dunia pendidikan.

Disebut sebagai momentum, karena di awal Menteri Anies Baswedan menerima amanah sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud), telah diputuskan untuk menghentikan implementasi K-13 secara menyeluruh di sekolah. Implementasi hanya dilakukan pada enam ribuan sekolah saat itu.

Itu pun, sekolah yang merasa keberatan boleh kembali ke Kurikulum 2006 (KTSP). Karena itu, jika kini kembali pada K-13, tentu sebagian masyarakat bertanya-tanya, apa yang melatarbelakanginya sehingga keputusan penghentian secara menyeluruh itu dibatalkan dan kembali kepada K-13, yang dibahasakan sebagai kurikulum nasional?

Menjadi benarkah terkait dengan konsep K-13 yang sebelumnya diperdebatkan itu? Tentusederetpertanyaanbisa muncul. Tapitulisanberikuttidak hendak memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Melainkan lebih pada mengulas sedikit terhadap konsepK- 13 sekaligus memaparkan tentang hasil evaluasi terkait dengan K-13 dan perubahan signifikan yang menyertainya, sehingga K- 13 mengalami beberapa penyempurnaan.

Substansi Tetap

Memang diberlakukannya K-13 pada tahun pelajaran ini tidak menyeluruh pada tiap satuan pendidikan atau sekolah. Melainkan baru pada 19% dari populasi sekolah yang berada di kelas 1, 4, 7, dan 10, serta 6% dari populasi sekolah pada semua kelas, dengan total sekitar 38.453 sekolah di jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan PKLK (sumber: Paparan Kabalitbang Kemendikbud ”Diamika Perkembangan Kurikulum 2013” ).

Dengan kriteria sekolah terakreditasi A, minimal B bagi kabupaten/ kota tidak memiliki berakreditasi A, tersedia guru untuk semua kelas/mata pelajaran, dan jumlah ruang kelas sesuai dengan jumlah rombongan belajar, serta representasi wilayah pada kabupaten/kota. Harus diakui, dalam hal mengalami beberapa penyempurnaan, secara substantif K-13 sesungguhnya tidak berubah.

Artinya, pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kemampuan belajar dan berinovasi pada peserta didik seperti, kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian masalah; kreatif dan inovatif; komunikasi; dan kolaborasi, tetap menjadi pijakan utama K-13. Demikian juga yang terkait dengan pendidikan karakter, tetap melekat pada hasil evaluasi K-13.

Apa artinya? Saya menerjemahkannya bahwa pertentangan sebelumnya yang begitu tajam dan bahkan ada upaya untuk melakukan penolakan, ternyata menemui pembenar dan pijakan yang diambil dalam memutuskan K-13 di awal dahulu benar adanya. Lebih dari itu, pendekatan mata pelajaran tematik-terpadu yang sebelumnya menjadi perdebatan berkepanjangan, juga tetap dipertahankan pada jenjang kurikulum SD.

Dan konon kabarnya, Finlandia yang sering dijadikan contoh sebagai salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia, perkembangan terbaru telah pula mengubah pendekatan mata pelajarannya menjadi tematikterpadu. Dalam hal pembelajaran tematik- terpadu di tingkat SD, untuk menyebutkan sekadar contoh begitu amat penting.

Karena hasil penelitian menunjukkan bahwa anak melihat dunia sebagai suatu keutuhan yang terhubung, bukannya penggalan- penggalan lepas dan terpisah. Itu sebabnya mata pelajaran (mapel) sekolah dasar dengan definisi kompetensi berbeda menghasilkan banyak keluaran yang sama.

Ke depan keterkaitan satu sama lain antarmapelmapel SD akan menyebabkan keterpaduan konten pada berbagai mapel. Dan ke depannya lagi, siswa akan terbiasa mengaitkan antar mapel untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa, sebagai modal membangun masyarakat.

Penyempurnaan yang dirasakan paling signifikan ada pada cara penilaian. Jika sebelumnya menggunakan skala angka satu sampai empat, kini penilaian menggunakan angka nol hingga seratus. Sedangkan penilaian terhadap sikap yang terdiri atas sikap spiritual dan sikap sosial yang sebelumnya menjadi beban semua guru mata pelajaran,

kini penilaian sikap itu hanya pada mata pelajaran Pendidikan Agama-Budi Pekerti dan mata pelajaran PPKn, yang penilaian terhadap sikap spiritual dan sosial dilaksanakan melalui pembelajaran langsung dan tidak langsung. Sedangkan pada mata pelajaran selain mata pelajaran Pendidikan Agama-Budi Pekerti dan mata pelajaran PPKn, pembelajaran sikap spiritual dan sosial dilaksanakan melalui pembelajaran tidak langsung.

Perlu Disambut Gembira

Tapi apa pun penyempurnaan terhadap K-13, kiranya perlu disambut gembira. Harus disadari, kondisi bangsa ini dengan segala kekiniannya, membutuhkan ”kendaraan” Kurikulum 2013 untuk menata berbagai aspek melalui sektor pendidikan. Karena begitu pentingnya K-13, kurikulum ini sesungguhnya bukan kurikulum program kementerian, tapi kurikulum yang menjadi program pemerintah.

Kurikulum yang bukan hanya untuk menyiapkan dan membangun secara personal peserta didik dalam tiga aspek yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, melainkan kurikulum yang disiapkan untuk membangun masyarakat dan membangun peradaban, sehingga menjadi bangsa yang efektif di dalam menghindari tiga penyakit sosial; kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban.

Itu sebabnya, K-13 juga menekankan betapa pentingnya penerapan pendidikan karakter, dalam kerangka membentuk insan yang bermartabat dan berwibawa. Kondisi aktual berkait dengan kekerasan seksual terhadap anak usia sekolah dan kenakalan remaja, serta maraknya praktik ketidakjujuran, telah mendorong K-13 untuk memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan karakter dan mata pelajaran agama dan budi pekerti.

Karena tiap mata pelajaran memberikan kontribusi terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan, maka pendidikan karakter dan mata pelajaran agama dan budi pekerti bukan menjadi tanggung jawab guru pengampu mata pelajaran itu, tapi tanggung jawab bersama.

Artinya, pendidikan karakter dan mata pelajaran agama dan budi pekerti tidak hanya diajarkan secara normatif, tetapi lebih ke fungsional dan implementatif, yang dalam hasil evaluasi didefinisikan sebagai ”dilaksanakan melalui pembelajaran tidak langsung”.

Yang jelas, K-13 telah disiapkan sedemikian rupa untuk mengantisipasi perubahan-perubahan terhadap kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan.

Jenlink (1995) mengungkapkan bahwa the future will be dramatically different from the present, and it is already calling us into preparation for major changes being brought to life by forces of change that will require us to transcend current mindsets of the world we know – masa depan akan berbeda secara dramatis dari masa sekarang, dan itu sudah menuntut kita mempersiapkan untuk perubahan penting yang sedang terjadi pada kehidupan kita dengan kekuatan perubahan yang akan memerlukan kita mengalihkan pola pikir kita sekarang tentang dunia yang kita ketahui.

Pendidikan dan dalam hal ini kurikulum sebagai the heart of education (Klein, 1992) harus mempersiapkan generasi bangsa yang mampu hidup dan berperan aktif dalam kehidupan lokal, nasional, dan lokal yang mengalami perubahan dengan cepat tersebut.

Sebagaimana diungkapkan oleh Oliva (1982), kurikulum perlu memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan politik. Di sinilah sesungguhnya desain Kurikulum 2013. Fakta-fakta inilah yang harus dijadikan momentum perubahan dalam implementasi Kurikulum 2013. Semoga! (Sumber : Koran SINDO, 16 Juli 2016)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Cara Bicara dan Pengaruhnya Cara Bicara dan Pengaruhnya


ISSN 2085-059X

  • 879,876

Komentar Terbaru

Roos Asih di Surat Pembaca
rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: