Kembalikan MOS, Negasi Kekerasan

14 Juli, 2016 at 8:27 am

Oleh Tri Pujiati
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

SEBENTAR lagi tahun pelajaran baru 2016/2017 segera dimulai. Ini artinya, peserta didik baru akan menaiki satu tangga jenjang pendidikan lebih tinggi sebagai bagian dari proses transformasi ilmu pengetahuan. Selain itu, hal yang sangat menggembirakan bagi mereka adalah sekolah baru, guru baru, teman baru, dan suasana baru.

Mungkin itulah sekelumit potret menyenangkan pada tahun pelajaran baru. Namun, dibukanya kran tahun ajaran baru juga tidak luput dari rasa gelisah, cemas, khawatir, dan tidak nyaman yang sulit dibendung. Perasaan menggelisahkan tersebut tidak hanya menghinggapi mental peserta didik baru.

Bahkan, orang tua pun ikut cemas dan khawatir. Mengapa di dunia pendidikan menampilkan fakta yang menggelisahkan? Inilah potret buram pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) atau yang sekarang akrab disebut Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB). Banyak kisah tragis dalam penyelenggaraan MOS dari tahun ke tahun. Aksi perploncoan, kekerasan, dan penganiayaan seakan menjadi habitus di dunia pendidikan kita. MOS yang sejatinya sebagai laboratorium pengenalan lingkungan sekolah, bagaimana kegiatan belajar mengajar di sekolah, dan wawasan keilmuan yang lebih tinggi bagi peserta didik baru justru melenceng jauh dari harapan.

Alhasil, MOS beralih sebagai momentum yang sangat mengerikan dan menyeramkan. Penindasan datang silih berganti dari senior kepada junior. Alasannya, hanya satu yaitu motif balas dendam turun-temurun yang harus dibayar tuntas oleh senior kepada junior. Pada momentum MOS, setiap hari peserta didik wajib mengikuti semua agenda kegiatan yang telah tersusun rapi.

Mereka juga harus membawa barang-barang perlengkapan MOS yang tidak masuk akal. Misalnya, membawa tas dari karung beras, sapu tangan sebagai dasi, dan topi kardus berbentuk kerucut. Entah apa makna dari perilaku irasional tersebut. Yang jelas atribut tersebut tidak mendidik. MOS justru dijadikan sebagai ajang untuk mempermalukan bahkan melakukan bullying terhadap peserta didik baru.

Dalam pandangan Olweus (1993), bullying dapat terjadi melalui kekerasan fisik (menendang, memukul, menganiaya), verbal (mengejek, mengolokolok, memaki, mencemooh), dan psikis (mengancam, mengintimidasi, mengucilkan) atau gabungan antara ketiganya. Selanjutnya, bullying dapat berujung pada tindakan kekerasan (violence) bahkan pembunuhan. Inilah yang kerap menimpa peserta didik baru ketika MOS berlangsung. Kendati, sejak 2015 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan telah melarang aksi perploncoan dalam MOS di seluruh jenjang pendidikan. Namun, imbauan tersebut tidak digubris oleh pihak sekolah.

Ironisnya, untuk menutupi aksi plonco tersebut, pihak sekolah melarang peserta didik baru mengenakan atribut MOS yang sangat aneh dari rumah. Untuk mengelabui publik, peserta didik diwajibkan mengenakan atribut tersebut di sekolah. Hingga saat ini MOS berkarakter pendidikan belum ditransformasikan sebagaimana mestinya. Sangat menyesakkan dada menyaksikan pendidikan sebagai sarana untuk memanusiakan manusia justru beralih sebagai ajang penindasan dan penyiksaan. Meminjam bahasa Paulo Freire, inilah gambaran utuh dari pendidikan kaum tertindas.

Beban Psikologis
MOS yang kini beralih layaknya pendidikan militer dapat memupuk subur beban psikologis peserta didik baru. Aksi bullying dan kekerasan yang terjadi dalam MOS secara masif melukai mental peserta didik. Rasa takut berlebihan, kehilangan rasa percaya diri, dan trauma berkepanjangan melekat kuat pada mental peserta didik.

Dalam psikologi, tentunya keadaan seperti ini sangat membahayakan bagi kesehatan mental peserta didik menyongsong tahun pelajaran baru. Imbasnya, mereka takut masuk sekolah, malas belajar, dan lebih suka diam serta menyendiri. Inilah kekerasan psikis (verbal) yang tidak boleh berulang- ulang. Kasus di atas merupakan bukti riil bahwa peserta didik mengalami kekerasan yang tidak semestinya bergumul di dunia pendidikan.

Dalam pandangan Ted Robert Gurr (2000), kekerasan yang timbul akibat deprivasi relatif. Untuk itulah, MOS harus dikembalikan sebagaimana fungsi dan khitahnya sebagai sarana pengenalan sekolah bagi peserta didik baru. MOS konvensional harus segera ditinggalkan. Agenda bullying, penindasan, dan kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior harus berganti kulit dengan kegiatan menyenangkan.

Misalnya, MOS diisi dengan bakti sosial, peduli lingkungan, berbagi kasih, dan kegiatan keagamaan. Selain itu, MOS cukup mengenakan seragam almamater dan baju olahraga. Tidak perlu mempermalukan peserta didik baru dengan atribut yang sangat aneh. (Sumber : Suara Merdeka, 14 Juli 2016)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Proses Pembelajaran yang Humanis Cara Bicara dan Pengaruhnya


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: