Proses Pembelajaran yang Humanis

13 Juli, 2016 at 8:05 am

Oleh Edi Subkhan

BELAKANGAN ini dunia maya menonjolkan topik tentang orang tua siswa yang melaporkan guru ke polisi karena telah mencubit anaknya hingga memar. Netizen tampak sudah melampaui batas dengan mem-bully anak itu dan menyatakan orang tuanya tidak tahu diri. Wajah bapak-anak dijadikan meme, disebar, lalu dijadikan viral di media sosial.

Publik terprovokasi, sebagian besar memihak guru. Akibatnya, anak itu ditolak di semua sekolah yang dia tuju setelah hengkang dari sekolah lama. Hal yang saya takutkan dari fenomena ini adalah pembenaran terhadap kekerasan terhadap anak. Apalagi dalam proses pembelajaran di sekolah yang mestinya dilandasi semangat dan nilai-nilai humanis.

Di tengah semangat Anies Baswedan yang membatasi agar masa orientasi siswa di sekolah tidak diisi dengan berbagai macam intimidasi dari para senior, arus legalisasi hukuman fisik oleh para guru tampak sebagai kontradiksi yang patut dipertanyakan dasarnya. Pertanyaan pun muncul: bolehkah hukuman fisik dikenakan pada siswa? Sejauh mana seorang guru boleh melakukan hukuman fisik?

Apa bentuk- bentuk yang diperkenankan dan tidak diperkenankan? Sebenarnya sejak dahulu Ki Hadjar Dewantara tak pernah setuju dengan tucht atau kekerasan dalam mendidik siswa. Ki Hadjar menyatakan praktik mendidik dengan kekerasan itu warisan pendidikan ala kolonial Hindia Belanda yang merupakan bentuk pemerkosaan batin siswa.

Kelak mereka akan sulit menjadi masyarakat dewasa dan dapat menentukan sikap hidupnya secara mandiri, karena telah terbiasa berbuat sesuatu jika ada hukuman (regering) atau hadiah. Teori psikologi pembelajaran menekankan, logika itu dalam satu aliran dengan psikologi behaviorisme.

Paham yang mengkaji aktivitas belajar dilihat dari dimensi perilaku manusia dan hasil akhir serta yang perlu dibentuk dari aktivitas belajar adalah perilaku. Intinya, agar siswa berperilaku tertentu (respons), guru harus memberi stimulus tertentu pula. Stimulus itu berwujud iming-iming hadiah dan serangkaian hukuman. Saya dahulu pun korban dari para guru yang beraliran behaviorisme ini.

Jadi saya mengerjakan pekerjaan rumah (PR) bukan karena motivasi intrinsik agar pintar, rasa ingin tahu tinggi, dan kasmaran belajar, melainkan agar terhindar dari cubitan maut guru. Tapi bukan berarti psikologi behaviorisme tidak penting. Ia tepat jika digunakan sebagai basis paradigmatik untuk pelatihan yang lebih mengandalkan fisik ketimbang aspek afektif dan kognitif.

Misalnya untuk berlatih sepak bola, balap mobil, bela diri, bulu tangkis, dan sejenisnya behaviorisme kuat sebagai pijakan paradigmatik. Namun jika tujuannya membangun daya kritis, kreativitas, rasa ingin tahu, empati, simpati, ada paradigma lain yang lebih tepat, antara lain paradigma kognitif, humanis, dan konstruktivis.

Metode Humanis
Jadi, mencubit siswa bukan pilihan utama untuk membangun kesadaran jangka panjang siswa. Siapa yang dapat menjamin siswa tak mengalami trauma psikologis di alam bawah sadarnya? Siswa setelah dicubit atau ditempeleng berhenti nakal, ya faktanya begitu. Namun saat itulah hasrat balas dendam lahir di dada. Kalau tak bisa membalas guru, adik kelas bisa jadi sasaran.

Bukankah banyak kasus para psikopat dan kriminal yang dahulunya korban kekerasan? Namun, tentu tak mudah bagi guru mengajar dengan cara pandang dan metode humanis. Apalagi yang dihadapi adalah murid-murid bandel yang suka melanggar tata tertib sekolah.

Pasti para guru yang dahulu pernah dididik secara keras oleh guruguru lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) setingkat SMA cenderung akan memakai kekerasan sebagaimana guru-gurunya melakukan hal serupa pada mereka. Toh, pada akhirnya dengan mendidik secara keras sekarang terbukti banyak muridnya yang sukses.

Kiranya perlu dipahami mengapa rata-rata guru zaman dahulu cenderung menggunakan kekerasan dalam mendidik siswa. Jelas ideologi yang dipegang bukan dari Ki Hadjar Dewantara, melainkan dipengaruhi didikan ala militer pada masa kolonialisme Hindia Belanda dan Jepang yang penuh dengan hukuman dalam membentuk kedisiplinan.

Jika memakai Ki Hadjar tentu pendidikan kita akan memegang teguh sistem asrama, metode among, dan coraknya lebih humanis. Anak-anak bandel memang butuh perhatian khusus. Film Freedom Writers yang diangkat dari kisah nyata seorang guru di Amerika Serikat pada 1990-an dapat menjadi contoh. Dia memperhatikan problem pribadi siswanya satu per satu yang nakal di kelas dan berusaha menyelesaikan sebelum mengajak mereka untuk belajar dengan baik.

Namun bagaimana mungkin guru-guru kita di Indonesia dapat melakukannya ketika dihadapkan pada kelas besar dan tuntutan menyelesaikan materi dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam satu semester? Hambatan terbesar paradigma dan metode pembelajaran humanis adalah pada sistem dan kebijakan pendidikan formal. Bila sistem dan kebijakan tidak ditata ulang, maka tetap saja pemerintah menempatkan guru pada posisi yang cenderung mendorong mereka berpikir singkat: yang penting anak kapok, tak lagi bandel, dan KKM tercapai. (Sumber: Suara Merdeka, 13 Juli 2016)

Tentang penulis:
Edi Subkhan, dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: .

Jelang Hari Pertama Sekolah Kembalikan MOS, Negasi Kekerasan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: