Geliat Urbanisasi Pascamudik

12 Juli, 2016 at 8:59 am

Oleh Hendra Kurniawan MPd
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

MUDIK alias pulang kampung saat Lebaran telah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Istilah mudik berasal dari bahasa Jawa, yaitu mulih dilik yang artinya pulang sebentar. Terasa ada yang mengganjal jika saat Lebaran tidak dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar di kampung halaman meski hanya sejenak.

Kebiasaan mudik telah menjadi aktivitas kultural yang wajib dilakukan. Selama ini jumlah pemudik yang terbesar dari Jakarta menuju ke Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Jumlah pemudik ke Jawa Tengah menjadi yang terbanyak dengan rata-rata 7,5 juta orang setiap tahun. Untuk DIY saja diperkirakan sekitar 4 juta orang dari berbagai penjuru datang saat musim mudik tiba.

Kesiapan pemerintah jelas diperlukan untuk menghadapi masa-masa mudik. Selain transportasi dan kemacetan, persoalan besar yang sering dihadapi pascamudik adalah masalah demografi. Kedatangan para pemudik ke kampung halaman dibarengi dengan membawa berbagai simbol kesuksesan. Alhasil menarik minat orang lain untuk ikut merantau ke kota.

Tak heran jika pascamudik, angka urbanisasi meningkat. Sebagian besar merupakan warga desa yang memutuskan untuk pindah ke kota mengikuti saudara atau temannya yang sudah terlebih dahulu mengadu nasib di kota. Terpikat oleh manisnya cerita, banyak orang menganggap kota menjadi tempat yang tepat untuk menggapai impian sukses. Tren peningkatan urbanisasi pasca-Lebaran selalu menjadi persoalan setiap tahun.

Tidak hanya bagi Jakarta yang sering dianggap sebagai tujuan utama urbanisasi. Sekarang ini banyak warga desa yang pindah ke kota-kota industri lainnya, seperti Surabaya, Semarang, Karawang, dan Bekasi. Derasnya urbanisasi tentu akan menjadi permasalahan bagi kota, dari masalah transportasi, perumahan, kemiskinan, hingga tindak kriminalitas.

Apalagi jika pendatang tidak memiliki kemampuan dan keterampilan memadai untuk bekerja tentu akan menjadi beban tersendiri bagi kota. Pada sisi lain, kesiapan kota menghadapi arus urbanisasi juga diperlukan. Sejak abad ke-15 dan ke-16, kota-kota di pesisir Jawa telah menjadi pusat pertumbuhan penduduk. Kondisi ini terjadi karena proses urbanisasi yang berlangsung terus-menerus dalam skala besar.

Terjadinya arus urbanisasi pada masa lalu juga sudah diduga karena tuntutan ekonomi. Menurut Anthony Reid (1992), sistem agraris yang bertumpu pada teknologi persawahan di pedalaman Jawa tidak lagi menjanjikan secara ekonomi. Sistem perdagangan dan pelayaran di pesisir dianggap memiliki prospek yang lebih cerah.

Gambaran sejarah yang diungkapkan oleh Reid ini sangat beralasan, karena kala itu perniagaan di Asia Tenggara memang tengah mengalami kemajuan pesat. Para pedagang dari berbagai penjuru dunia, terutama Tiongkok, India, Arab, dan Eropa banyak singgah di Jawa untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk setempat.

Letaknya yang strategis dan kaya sumber daya pertanian seperti beras dan tebu (gula) semakin mendukung kegiatan perdagangan terutama di bandar-bandar pesisir utara Jawa. Pusat pelabuhan dagang dari Malaka mulai bergeser ke Jawa.

Membangun Desa
Jawa saat itu mengalami perkembangan perdagangan menakjubkan. Kondisi dinamis akibat watak kosmopolitan dan etos niaga yang menonjol sejak dahulu menggoda banyak insan, sehingga arus urbanisasi di Jawa senantiasa tinggi. Suasana ini sangat kental terutama di kota-kota pesisir utara Jawa yang terus mengalami perkembangan pesat.

Banyak di antaranya yang kini telah menjelma tak hanya sebagai kota niaga tapi juga industri. Wilayah pedalaman relatif tertinggal dan sulit untuk mengota. Meskipun demikian, desa tetap menjadi lumbung pangan yang tidak dapat dikesampingkan. Menyikapi arus urbanisasi yang terus terjadi setiap tahun, pemerintah perlu memiliki strategi untuk mengatasi.

Apalagi saat ini ada kementerian khusus yang fokus pada persoalan pembangunan desa. Untuk itu, perhatian terhadap pembangunan desa perlu semakin digenjot. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan lapangan kerja dalam bidang agraris, seperti industri pupuk, peralatan pertanian, dan usaha pengolahan pascapanen. Melalui upaya ini diharapkan dapat mengurungkan minat orang untuk pergi ke kota.

Desa membutuhkan pemikiran dan tenaga yang fokus pada upaya pembangunan berbasis kearifan lokal. Harapan ini bergayut dengan agenda Nawa Cita dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menuju pada kemandirian ekonomi yang dapat dimulai dari desa.

Sektor-sektor strategis ekonomi domestik harus disokong, selain juga keterampilan berwirausaha. Gagasan ekonomi kreatif juga dapat dikembangkan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha. Jika desa mampu bangkit dan bertumbuh secara mandiri, tak perlu khawatir arus balik pascamudik akan menyeret urban-urban baru. (Sumber: Suara Merdeka, 12 Juli 2016).

Tentang penulis:
Hendra Kurniawan MPd, dosen Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Sekolah yang Bertanggung Jawab Jelang Hari Pertama Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: