Sekolah yang Bertanggung Jawab

11 Juli, 2016 at 3:00 pm

Oleh Ahmad Baedowi
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

KATA belajar dan bertanggung jawab dapat dinisbatkan baik kepada individu maupun kelompok.
Belajar lebih dekat dengan tanggung jawab individual, sedangkan kata tanggung jawab, dalam konteks pendidikan kita, sebaiknya memang dinisbatkan kepada kelompok pendukung proses belajar, seperti guru, orang tua, birokrasi kependidikan, serta kelompok pembelajar atau institusi lainnya.

Namun, sebenarnya kata belajar dan bertanggung jawab lebih tepat dan berguna jika diletakkan dalam satu tarikan napas baik secara individual maupun kelompok.

Sebagai contoh, ketika seorang guru menilai performansi siswa dalam satu semester, sesungguhnya dia sedang menilai aspek tanggung jawab siswa secara individual.

Namun, ketika melihat aspek kualitas sekolah secara keseluruhan, tanggung jawab kelompok lebih dominan untuk diukur, tetapi dalam banyak kasus, dua bentuk tanggung jawab ini tidak berjalan seirama karena antara kebutuhan siswa dan kebutuhan institusi terkadang berbeda satu sama lain, setidaknya menyangkut orientasi belajar itu sendiri.

Cara masjid
Salah satu tolok ukur untuk melihat apakah sebuah sekolah mengelola tanggung jawab secara transparan dan berkesinambungan, terletak pada rutinitas pelaporan penggunaan anggaran belanja sekolah.

Saya kira banyak pihak, termasuk orang tua dan masyarakat sekitar sekolah yang tak peduli dan bahkan tak pernah tahu bagaimana cara sekolah melaporkan proses penggunaan anggaran dari waktu ke waktu.

Terpikir oleh saya, mungkin ada baiknya jika Kemendikbud meminta bantuan masjid di seluruh Indonesia untuk mengumumkan posisi keuangan sekolah setiap Jumat sebelum khotbah dan salat Jumat dimulai.

Sama persis seperti posisi saldo keuangan masjid yang selalu dibacakan takmir masjid setiap Jumat, merupakan terobosan baru jika di sela-sela waktu tersebut juga dibacakan posisi keuangan sekolah yang telah digunakan dan akan digunakan.

Setidaknya, meskipun informasi ini bersifat searah, jika dilakukan berulang kali, akan meningkatkan kesadaran dan kepedulian orang tua di sekitar sekolah tentang apa yang terjadi di sekolah anak-anak mereka berdasarkan laporan keuangan (Sumber: Media Indonesia, 11 Juli 2016)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Hidup, Belajar, dan Narasi Geliat Urbanisasi Pascamudik


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: