Hakikat Kemenangan Idul Fitri

9 Juli, 2016 at 9:00 am

Oleh Maswan

PADA hakikatnya, Idul Fitri adalah kemenangan bagi orang-orang beriman, yang telah menyelesaikan jihad besar melawan hawa nafsu selama bulan Ramadan. Dianggap kemenangan dalam jihad, karena bagi orang yang sedang berpuasa harus menahan nafsu makan dan minum, serta menahan nafsu syahwat untuk tidak melakukan hubungan seks pada siang hari, sekalipun kepada suami/istrinya.

Gema kemenangan pada 1 Syawal, tidak hanya dimeriahkan oleh orang-orang yang berjihad, tetapi orang lain yang tidak ikut jihad pun ikut-ikutan memperingati. Justru terkadang, orang yang tidak ikut sebagai pemeran (berpuasa), cara penyambutan kemenangan hari yang fitri ini lebih heboh, dibandingkan yang berpuasa.

Hal tersebut dapat dianalogkan, seperti kemenangan tim sepak bola, suporternya dalam menyambut kemenangan timnya lebih meriah, dibandingkan pemainnya. Ya, itulah wujud akibat dari bulan suci Ramadan, yang dapat memberi berkah kepada setiap orang yang beriman, dan dapat berimbas kepada orang yang tidak beriman.

Lepas dari itu, apakah layak atau tidak layaknya orang-orang yang tidak berpuasa ikut meramaikan kemenangan, yang jelas Idul Fitri sangat memberi nuansa keberkahan dan tersambungnya ukhuwah dan silaturahmi antarsesama. Begitu kuatnya nilai kesakralan Idul Fitri, hingga setiap orang Islam saling menyadari kekhilafan (kesalahan) untuk disampaikan kepada orang lain.

Kepedulian Sosial
Dalam konteks kehidupan sosial yang normal (tidak hari raya), orang jarang mengakui kesalahannya secara lugas. Inilah hebatnya bulan Syawal. Berakhirnya bulan Puasa, tibalah 1 Syawal (Idul Fitri). Nuansanya seolah ada sebuah misteri yang tidak dapat dinalar.

Momentum Idul Fitri mempunyai nilai yang agung, yang diwujudkan dalam suasana kegembiraan yang luar biasa, keindahan dalam bentuk interaksi sosial, kebaikan antarsesama manusia tertumpahkan saat itu. Magnet dan daya sentuh 1 Syawal, mampu menghadirkan hati yang lembut untuk bersilaturahmi, antara anak pada orang tua, handai tolan dan sanak saudara.

Orang-orang yang hiruk pikuk bekerjasa di perantauan untuk mengais rezeki di kota, dilakukan berbulan-bulan, harus rela menanggalkan pekerjaan dan pulang ke kampung, hanya satu niatan meminta maaf dan memberi maaf kepada orang tua serta sanak saudaranya.

Sekalipun biaya yang harus dikeluarkan bernilai jutaan rupiah, tetap dilakukan untuk kepedulian sosial dan permohonan maaf yang selama berbulan-bulan beku. Benar sekali, makna Idul Fitri, kembali pada kesucian (putih bersih). Antarsesama manusia saling memaafkan, membangkitkan ukhuwah dan silaturahmi.

Interaksi antarmanusia saat Idul Fitri sangat terkesan sebagai suatu kesadaran sampai relung hati. Kesadaran untuk meminta maaf dilakukan oleh setiap manusia, orang tua meminta maaf kepada anak, begitu pula sebaliknya anak meminta maaf kepada orang tuanya. Antarsesama sanak saudara saling memaafkan.

Bahkan, para birokrat dan para politikus, yang asalnya mempunyai keangkuhan untuk tidak mau disalahkan, saat hari raya ini semuanya saling memaafkan. Sekalipun sangat mungkin, setelah berlalunya bulan Syawal berakhir, akan kembali pada kondisi semula, saling menyalahkan dan tidak mau memaafkan. Ya inilah, kesempatan untuk memetik berkah dan karomah serta kemuliaan yang menggiurkan.

Setidaknya, nuansa kesucian bulan Ramadan dan bulan Syawal ini kita jadikan sebagai acuan untuk kembaali kepada Yang Maha Kuasa, mengembalikan citra keimanan. Karena dengan keimanan inilah, kita akan mendapat kenikmatan yang hakiki, untuk menjadi manusia yang terselamatkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Jika seandainya kesadaran yang kita miliki ini tetap seperti momentum Idul Fitri, suasana kehidupan sosial, kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi sangat menyejukkan. Pada bulan Syawal ini diharapkan menjadi kesadaran dari masing-masing kita, untuk kembali ke fitrah yang semestinya, menjadi orang beriman tanpa syarat.

Kita semua tahu, bahwa orang beriman adalah bersaudara, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, memerintahkan kita merawat dan memperbaiki kualitas keimanan lewat persaudaraan. Idul Fitri memosisikan kita kembali pada titik paling tepat, yakni bermaaf-maafan. (Sumber: Suara Merdeka, 9 Juli 2016).

Tentang penulis:
Maswan, dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Unisnu Jepara, wakil ketua LPTNU Cabang Jepara 2013-2015

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Tarbiyah. Tags: , .

Berkarakter Jujur Hidup, Belajar, dan Narasi


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: