Berkarakter Jujur

4 Juli, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Saya tertarik dengan ungkapan Anas Salahudin, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan (2011:211), bahwa dalam menanamkan karakter pada anak didik, hal yang paling penting adalah kejujuran, karena kejujuran bersifat universal.

Dari ungkapan tersebut, saya mencoba menggali : apa yang dimaksud dengan karakter, dan apa yang dimaksud dengan jujur ?

Istilah karakter berasal dari kata Yunani “Charassein”, yang berarti menggurat, mengukir, atau memahat. Dalam pemakaian sekarang, istilah karakter merujuk pada struktur nilai dalam diri seseorang (Kompas, 25/9/2014), baik dalam nilai estetika, nilai etika, maupun nilai synnoetika, yaitu nilai-nilai tentang kepekaan sosial (Basis, No.07-08, 2006). Oleh Dharma Kesuma dan Teguh Ibrahim, karakter didefinisikan sebagai kemampuan moral (2016:2017).

Tentang jujur, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan bahwa jujur adalah lurus hati, tidak sombong, tidak curang, tulus, ikhlas. Oleh M. Furqon Hidayatullah (2010:89), pengertian kejujuran diurai lebih lanjut, yaitu : memperoleh kepercayaan dengan melaporkan fakta yang benar; tidak bohong; lurus hati; dapat dipercaya kata-katanya; tidak khianat; suatu kebiasaan/sifat yang selalu menyerukan kebenaran; mengatakan fakta yang sebenarnya; selalu melakukan yang benar; mengatakan yang sebenarnya dengan ketulusan.

Kemudian, seberapa penting menjadi manusia yang berkarakter jujur ?
Berikut ada beberapa seruan betapa pentingnya menjadi manusia yang berkarakter jujur, yaitu :
Pertama, untuk memperoleh pemimpin, yang paling dibutuhkan adalah kejujuran, bukan semata-mata kepandaian, ketegasan, atau keberanian (Salahuddin Wahid dalam Kompas, 22/3/2013).
Kedua, kepandaian dan keahlian tanpa karakter akan membawa orang kepada egoisme individual atau kolektif, sementara karakter tanpa keahlian hanya menghasilkan moralisme tanpa kemampuan produktif (Ignas Kleden dalam Kompas, 22/9/2014).

Ketiga, kalau tak berhati-hati, korupsi alias keserakahan tanpa batas bisa melindas moralitas kejujuran. Korupsi bisa mendegradasikan manusia menjadi makhluk yang hanya menuruti naluri dan nafsu keserakahannya. Jelas, korupsi adalah ancaman bagi kemanusiaan kita (Sindhunata dalam Basis, No.09-10, 2013).

Keempat, kejujuran membutuhkan keberanian dari setiap orang untuk berpisah dari kebohongan (Franz Magnis-Suseno dalam Etika Dasar, 1993:143).

Kelima, seseorang takkan pernah menjadi pribadi jujur atau bertabiat jujur bila tidak pernah berlatih bertindak dan bertutur kata jujur (H. Dwi Kristanto dalam Basis, No.05-06, 2015:29).
Selanjutnya, bagaimana cara orangtua, guru, dan masyarakat melatih kejujuran kepada anak-anak, agar mereka menjadi manusia yang berkarakter jujur ?

Di rumah, orangtua bisa menyampaikan pendidikan tentang kejujuran, misalnya : mengembalikan uang sisa. Pada suatu saat, orangtua bisa meminta tolong kepada anaknya untuk membelikan sesuatu di warung atau di toko. Orangtua tahu bahwa setelah pembelian, masih ada uang sisa. Nah, dari proses ini, anak akan belajar tentang menyikapi uang sisa. Jika uang sisa itu dikembalikan kepada orangtuanya, maka anak itu telah berlaku jujur. Sebaliknya, jika anak itu tidak mengembalikan uang sisa, dan pura-pura tidak peduli (dengan berbagai alasan), maka anak itu mulai bermain-main dengan kejujuran.

Tentu, orangtua bisa mempraktikkan lebih lanjut tentang kejujuran.
Di sekolah, guru bisa menyampaikan pendidikan tentang kejujuran, misalnya : tidak menyontek. Ada beberapa alasan, anak-anak nekat mencontek pada waktu ulangan harian, ulangan tengah semester, atau ulangan semester, antara lain : kurang percaya diri, ingin mendapatkan nilai yang tinggi, merasa belajarnya kurang, atau mumpung ada kesempatan giuru tidak melihat. Pun masih banyak contoh yang bisa dilakukan guru berkaitan dengan kejujuran. Misal, ketika anak membeli makanan di kantin sekolah, anak membayar uang sekolah, anak yang menjadi bendahara kelas, dan lain-lain.

Di masyarakat, siapapun yang berkehendak baik bisa memberi contoh pendidikan tentang kejujuran, misal : tidak mengambil barang yang bukan miliknya. Sekarang ini, ada gejala bahwa menghargai barang milik orang lain mulai luntur, baik secara terbuka maupun secara sembunyi-sembunyi. Entah barang itu bernilai kecil atau besar. Entah dilakukan secara pribadi atau berkelompok. Entah hasilnya itu dinikmati sendiri atau bersama-sama. Kiranya, masih banyak contoh lain yang bisa ditampilkan sebagai pembelajaran kejujuran.

Jika orangtua (di rumah/keluarga), guru (di sekolah), dan siapapun (di masyarakat secara luas), mau dan mampu mendukung pendidikan tentang kejujuran, serta pihak berwajib/berwenang mau dan mampu mengambil tindakan tegas pada orang (tanpa pandang bulu) yang tidak jujur, penuh harap di masa depan anak-anak juga akan mau dan mampu belajar untuk menghindari, atau menjahui perilaku tidak jujur. Sehingga anak-anak menjadi orang yang berkarakter jujur.

Referensi:

  • Basis, No.07-08, Tahun Ke-55, 2006.
  • Basis, No.09-10, Tahun Ke-62, 2013.
  • Basis, No.05-06, Tahun Ke-64, 2015.
  • Dr. Anas Salahudin, M.Pd, Filsafat Pendidikan, Penerbit CV Pustaka Setia, Bandung, 2011.
  • Dr. Dharma Kesuma, M.Pd dan Teguh Ibrahim, S.Pd, Struktur Fundamental Pedagogik, Penerbit
  • PT. Refika Aditama, Cetakan Kesatu, 2016.
  • Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar-Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Penerbit Kanisius,
  • Yogyakarta, 1993.
  • Kompas, 22 Maret 2013.
  • Kompas, 25 September 2014.
  • Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd, Pendidikan Karakter-Membangun Peradaban Bangsa, Penerbit Yuma Pustaka, Surakarta, 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mencintai Pekerjaan Hakikat Kemenangan Idul Fitri


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: