Mencintai Pekerjaan

3 Juli, 2016 at 12:00 am

Yudel NenoOleh Fr Yudel Fon Neno SFil
Guru SMK St. Pius X Insana, TTU, NTT, Indonesia

 

A. Kisah
Ayahku adalah seorang petani. Setiap pagi hari terjaga dari tidur malam, selalu saja ayah sudah berangkat ke kebun. Ketika matahari terbenam, Ayah kembali ke rumah. Suatu waktu, saya bangun lebih awal dengan niat untuk mengikuti ayah ke kebun. Akhirnya niat itu terlaksana. Di kebun, saya memperhatikan ayah menebang pohon-pohon yang menghalangi sinar matahari terhadap tanaman-tanaman kebun. Yang mengherankan, ayah selalu berhenti sejenak untuk mengasah parang bahkan frekuensinya lebih banyak daripada aktifitas menebang. Selain itu, Ayah juga membersihkan rumput-rumput liar yang merampas humus tanah karena menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman-tanaman kebun.

Melihat ayah yang bekerja seolah-olah tidak peduli terhadap saya, lalu saya pun mengikuti aktifitas ayah dengan membersihkan rumput. Saya mengikuti ayah melakukan pekerjaan yang sama tetapi saya tidak tahu apa pikir ayah tentang kerja. Yang penting; yang saya lakukan adalah ikut kerja karena merasa ayah tak peduli dengan saya, selain itu, untuk mengambil hati ayah demi menghindari kalau-kalau ayah marah.

Tiba waktunya, kami kembali ke rumah. Mengisi perjalanan yang cukup jauh, Ayah memberi nasehat bahwa kalau dalam bekerja menggunakan parang, asahlah parang lebih banyak. Sebab, terus menebang pohon tanpa berhenti untuk mengasah parang, banyak waktu terpakai tetapi hasilya sedikit. Kita bekerja menghargai proses untuk mencapai hasil yang maksimal. Mengabaikan proses berimbas pada hasil yang tidak maksimal. Tiba di rumah, saya bercerita penuh semangat karena hari ini saya bersama dengan ayah ke kebun dan lebih dari itu karena saya telah melakukan suatu pekerjaan bersama ayah. Yang mengherankan adalah ayah selalu diam. Ternyata ayah diam karena pekerjaan belum selesai dan lebih dari itu karena saya belum memahami martabat kerja dan visi kerja.

B. Cinta

a. Unsur pokok dan aktifitas hati
Kunci hati adalah cinta. Aktifitas jiwa untuk mengungkapkan diri. Ungkapan ini dapat melalui perasaan dan perbuatan, sehingga ada perasaan cinta dan perbuatan cinta. Cinta jika ditinjau dari obyeknya, maka terdapat tiga obyek utama yakni cinta akan Tuhan, Cinta akan manusia dan cinta akan lingkungan. Cinta akan Tuhan terungkap melalui iman untuk berdoa. Cinta akan manusia terungkap melalui penghargaan yang sadar akan martabat manusia cinta akan lingkungan terwujud melalui aktifitas pelestarian dan pemberdayaan terhadap lingkungan. Aktifitas inilah yang disebut sebagai kerja.

b. Cinta mengatasi alasan-alasan
Kalau dengan akal budi kita menanyakan alasan-alasan, dan seringkali pekerjaan yang mulia korban hanya karena alasan-alasan yang diberikan tidak masuk akal. Atau bahkan dengan akal budi, kita merasionalisasikan alasan untuk menghindari pekerjaan. Maka ketika akalbudi bersoal dengan alasan-alasan, aktifitas lain yang harus terjadi pada hati adalah mengatasi alasan-alasan. Mengatasi alasan-alasan bukan berarti bersoal dengan akal budi, melainkan lebih kepada aktifitas nyata yakni melakukan suatu pekerjaan.

c. Cinta berarti melakukan sesuatu terus menerus
Kalau akal budi dapat berhenti karena tidak mengerti, cinta justeru terus-menerus karena hati. Mencintai pekerjaan melekat erat dengan hidup. Hidup ini hanya dapat dipertanggungjawabkan melalui kerja, jika kerja dimengerti dalam arti yang paling umum yakni sebagai sebuah aktifitas pengungkapan diri manusia. Maka ketika manusia berhenti melakukan pekerjaan, sama halnya dengan ia ingin mematikan hidupnya secara perlahan. Dalam konteks ini, kita dapat memberi arti kepada aktifitas terus-menerus sebagai sikap ketekunan. Tekun akan pekerjaan menghasilkan banyak buah. Ketekunan sebenarnya tidak mengacu seutuhnya pada kekuatan dalam melakukan pekerjaan, sebab tetesan-tetesan air membobol tegarnya batu karang bukan karena kekuatan melainkan karena keseringan.

d. Mencintai merupakan aktifitas yang selalu mendahului bukan menunggu. Kalau kita selalu mencinta maka semuanya akan berkelimpahan karena cinta. Kalau kita menunggu untuk dicintai maka bisa terjadi kita membuang banyak waktu. Dengan mencintai mengantar kita untuk menjadi pemenang. Kita menjadi pemenang dengan melakukan suatu pekerjaan yang berprestasi. Seorang pemenang membuat sesuatu terjadi tetapi seorang pecundang membuat sesuatu terjadi. Seorang pencuri bukan membuat sesuatu terjadi melainkan membiarkan sesuatu perilaku amoral menimpali dirinya.

e. Setia akan proses kerja
Ada dua konsep utama dalam bekerja yakni efektifitas kerja dan efisiensitas kerja. Efektifitas kerja mengacu pada proses dan efisiensitas mengacu pada hasil, dan hasil itu merupakan wujud dari proses. Proses dalam kerja berarti tahapan-tahapan kerja. Kalau ingin menggapai ketinggian pohon tuak untuk memperoleh air arennya, lewatilah dahulu tangga-tangganya. Tanpa tangga air aren hanya menjadi bahan tontonan dan terpeleset dari tangga menimbulkan kecelakaan bagi diri. Ikutilah tangga air dapat mencapai puncak pohon tuak.

f. Mengapa mencitai pekerjaan bukan memahami pekerjaan
Akal budi terlalu kecil untuk memahami dan ingin menguasai dunia pekerjaan yang begitu banyak dan luas cakupannya. Kita tidak dapat memahami dan menguasai semua pekerjaan. Tetapi kita dapat mencintai setiap pekerjaan. Karena dengan mencintai pekerjaan, kita didorong untuk terus melakukan pekerjaan itu. Maka mencintai merupakan sebuah aktifitas bercorak motivatif..

C. Kerja

a. Kerja Menunjang Hidup
b. Kerja Bagian dari Diri
c. Kerja Aktifitas Bermartabat
d. Kerja sebagai media untuk memiliki

D. Cinta Kerja

a. Cinta akan kerja berarti kerja merupakan bagian dari hati
b. Selama manusia memiliki hati, ia keliru jika ia membenci pekerjaanya sendiri. Membenci pekerjaan sama halnya dengan membenci diri

E. Seruan Makhluk Pekerja (Homo Laborans)

a. Unsur pembeda yang membedakan manusia dari binatang dan tumbuhan adalah akal budi dan kehendak bebas. Akal budi dan kehendak bebas melekat erat dengan tanggung jawab. Akal budi dan kehendak bebas dikaruniakan sebagai dasar pijak untuk bertanggung jawab mempertahankan hidup. Dan cara yang paling tepat untuk mempertahankan hidup adalah melalui kerja. Maka dengan akal budi, kerja harus dipahami secara benar, dengan kehendak bebas, kerja mesti dilakukan secara bebas dan sebagai wujud tanggung jawab kerja mesti dilakukan dengan tepat.

b. Akal budi dan pekerjaan
1. Cerdas dalam bekerja
2. Kreaif dalam bekerja
3. Inovatif dalam bekerja
4. Kerja keras demi hidup

c. Kehendak bebas dan kerja
1. Kerja dilakukan dengan bebas. Bebas dari dan bebas untuk
2. Bebas membutuhkan inisiatif kerja
3. Bebas membutuhkan komitmen kerja
4. Bebas membutuhkan tekun bekerja

d. Tanggung jawab kerja
1. Tanggung jawab kerja melekat erat dengan tindakan nyata
2. Tanggung jawab kerja melekat erat dengan kesetiaan akan kerja
3. Tanggung jawab membutuhkan inisiatif kerja
4. Tanggung jawab membutuhkan komitmen kerja
5. Tanggung jawab membutuhkan tekun bekerja

e. Akal budi, kehendak bebas dan tanggung jawab kerja memberi arti.
Akal budi, kehendak bebas dan tanggung jawab kerja memberi arti kepada kerja sebagai aktifitas bermartabat, sebagaimana manusia menjadi bermartabat justeru karena akal budi, kehendak bebas dan tanggung jawabnya.

F. Kerja Sebagai Aktualisasi Diri
Diri manusia adalah aku yang membadan dan menjiwa. Disebut diri karena memiliki jiwa-badan, yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Jiwa adalah forma terhadap badan. Badan adalah sarana untuk mewujudkan jiwa. Badan tanpa jiwa adalah mayat; jiwa tanpa badan adalah hantu. Manusia yang hidup, bukan mayat; bukan hantu sebab ia memiliki jiwa-badan yang bekerja sama menurut porsinya masing-masing untuk mempertahankan hidupnya. Kerja sebagai aktualisasi diri berarti kerja merupakan wujud dari kerja sama antara jiwa dan badan.

Dalam konteks ini media jiwa adalah akal budi dan kehendak bebas dan media badan adalah tanggung jawab melalui aktifitas nyata yang terlihat. Kerja sebagai wujud kesatuan jiwa dan badan berarti kerja mesti dipahami secara benar dengan akal budi, dilakukan secara bebas dengan kehendak bebas dan diwujudnyatakan secara tepat dalam kehidupan sehari-hari secara bertanggung jawab. (Email: neno.yudel@yahoo.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Belajar Ugahari Berkarakter Jujur


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: