Belajar Ugahari

3 Juli, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Seorang pelajar SMP ditangkap polisi karena menodong dan meminta paksa ponsel korban. Namun, karena korban tidak mau menyerahkan barang miliknya, pelajar tersebut langsung membacok korbannya hingga mengenai kepala bagian kanan (Suara Merdeka, 25/2/2013).

Sebagai orangtua atau guru, tentu peristiwa itu membuat hati tersentak, karena pelajar SMP itu tidak menyadari bahwa dengan perilakunya yang kriminal, dan cenderung bersifat kejam itu telah meruntuhkan nilai-nilai hormat terhadap dirinya, yaitu sebagai pelajar. Harga diri jatuh hanya karena ingin memiliki ponsel.

Secara logika, siapapun memiliki ponsel harus siap dengan pulsa. Sementara pelajar SMP itu agaknya belum bekerja. Lalu, bagaimana cara ia membeli pulsa ? Selanjutnya, keinginan yang tidak bisa dibendung, acapkali membuat seseorang berbuat nekat. Agaknya, pelajar SMP itu juga tidak bisa menahan diri untuk memiliki ponsel yang lebih bagus, maka ia mengambil tindakan pintas dan buruk, yaitu menodong dan meminta paksa pemilik ponsel.

Dalam kerangka pendidikan, orangtua atau guru bisa memberi pembelajaran tentang sikap ugahari, agar anak-anak kita mampu menghargai orang lain, dan menghargai barang milik orang lain.

Apa yang dimaksud dengan ugahari ?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia, ugahari adalah sedang, pertengahan, sederhana, sahaja. A. Setyo Wibowo (Basis, No.05-06, 2013:14) mengatakan bahwa kualitas orang yang berkeutamaan ugahari tampak dalam sifat-sifat : sopan, penuh kendali, rendah hati, lembut hati, sabar, taat, susila, dan mampu melakukan segala sesuatu pada saat dan tempat yang tepat. Pun, keugaharian itu tampak pada orang yang mampu mengatur hasrat-hasrat naluriahnya secara arif (H. Dwi Kristanto dalam Basis, No.05-06, 2015:28).

Bagaimana cara menggugah kesadaran agar terbangun sikap ugahari ?
Pertama, mengangkat nilai guna barang . Tidak dapat dihindari bahwa zaman sekarang, penghargaan akan nilai barang sudah berbeda. Sindhunata (Basis, No.01-02, 2014:9) mengutarakan bahwa orang zaman kini ingin menggunakan barang-barang yang menarik, eksotik, nge-trend, eskklusif, dan tidak ketinggalan mode. Pendek kata, nilai guna saja tidak lagi cukup. Dalam arti inilah nilai guna sudah digantikan oleh nilai simbolik. Maka, yang lebih penting adalah merk dagang (trade mark), citra, popularitas, sehingga nilai simboliknya jauh lebih penting daripada kegunaannya. Maka yang bergerak dalam kesadaran orang bukanlah realitas barang-barang itu secara material, melainkan simbolik abstrak yang mengatasi realitas.

Berkaitan dengan pengertian tersebut, alangkah baiknya anak-anak diajak untuk mau belajar untuk bersikap sederhana atau sahaja. Wujudnya, dengan cara menahan diri untuk tidak segera mempunyai ponsel. Apabila anak-anak sudah memiliki ponsel, seharusnya bersyukur, karena bisa digunakan untuk berkomunikasi. Jangan hanya karena semata-mata ingin memiliki ponsel yang “keren” atau lebih bagus tampilannya, lalu melakukan tindakan yang melukai dan mencelakakan orang lain.

Kedua, mengangkat ikatan sosial. Christina Siwi Handayani (Basis, No.01-02, 2010:15) memaparkan bahwa dalam masyarakat masa kini, ikatan sosial terwujud dari penanda-penanda material yang dimiliki dan dikenakan oleh individu. Perbedaan status juga dibentuk dari kepemilikan benda. Seseorang lebih dihargai dan dinilai dari apa yang dikenakan daripada apa yang dilakukan. Individu diarahkan untuk berfokus pada penampilan.

Paparan tersebut mau mengajak kita semua agar semakin memperkuat ikatan sosial, yang melampui penanda-penanda material. Diharapkan dengan pembelajaran ini anak-anak akan menghargai orang lain. Anak-anak juga akan belajar memperesentasikan diri bukan dengan penanda material (yang berlebihan), tetapi dengan kematangan berpikir dan bertindak.

Ketiga, mengikis iri hati. A.M. Hardjana (1992:40) menguraikan bahwa iri hati adalah perasaan tidak puas kerena keberuntungan orang lain. Iri adalah perasaan sedih karena kebahagiaan orang lain. Perasaan iri terbentuk manakala orang berpikir bahwa keberuntungan dan kebahagiaan orang lain mengurangi atau menurunkan kehormatannya. Perkara yang membuat iri dapat berupa keberhasilan, penampilan, kebaikan, harta-benda, kedudukan, dan kekuasaan. Iri hati dapat tetap tersembunyi di dalam batin, tatapi juga dapat terungkap keluar dalam sikap, kata-kata, perbuatan terhadap orang yang membuat iri.

Uraian tersebut menginspirasi, agar anak-anak diperkuat mentalitetnya untuk tidak mengumbar iri hati, apalagi yang berhubungan dengan harta-benda dan hak miliki orang lain. Jikalau iri hati terhadap harta-benda (dan ingin merebut hak milik orang lain) tidak terkontrol, dikhawatirkan anak akan melakukan tindakan yang mengakibatkan orang lain cedera, celaka, atau terluka.

Tentu, setiap orang tidak mau dilukai dan dicelakai oleh orang lain. Kalau anak-anak dilukai, dan merasa sakit, tentu mereka tidak akan melukai orang lain, apalagi dengan membacok tubuh orang lain hanya untuk mendapatkan barang milik orang itu. Jadi setiap orang butuh aman dan nyaman.

Keempat, bertemu dengan suara hati. Sebagai orangtua atau guru hendaknya senantiasa mendidik anak-anak untuk bisa bertemu dengan suara hati. Apa itu suara hati ? Franz Magnis-Suseno (1987:53-94) mengutarakan bahwa suara hati adalah kesadaran moral kita dalam situasi konkrit. Suara hati adalah pusat kemandirian manusia. Suara hati selalu harus ditaati. Tandanya ialah bahwa kita merasa bersalah apabila kita mengelak dari suara hati. Suara hati memuat tuntutan mutlak untuk selalu bertindak dengan baik, jujur, wajar, dan adil. Untuk mencapai kematangan ini, kita terus-menerus bersikap terbuka, mau belajar, mau mengerti seluk-beluk masalah-masalah yang kita hadapi, mau memahami pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya membaharui pandangan-pandangan kita.

Pemikiran tersebut, dapat dijadikan bahan pembelajaran oleh orangtua dan guru dalam kerangka mengajak anak untuk selalu bertemu dengan suara hati. Mengingat suara hati adalah alat penimbang, pengendali, atau alat kontrol diri yang baik untuk mengajak anak dalam menyikapi sesuatu. Penuh harap, jika anak mampu bertemu dengan suara hati, anak anak mampu belajar ugahari, dan tindakannya tidak akan “bablas” ke arah yang negatip.

Referensi :

  • A.M. Hardjana, Perusak Pribadi Manusia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1992.
  • Basis, No.01-02, Tahun Ke-59, 2010.
  • Basis, No.05-06, Tahun Ke-62, 2013.
  • Basis, No.05-06, Tahun Ke-64, 2015.
  • Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar-Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1987.
  • Suara Merdeka, 25 Februari 2013.
    (Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menggugat Generasi Muda Bermental Facebook Mencintai Pekerjaan


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: