Membentuk Kepribadian Anak Melalui Puasa

28 Juni, 2016 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Tugas dan tanggungjawab orangtua tiada habis selama hayat dikandung badan, di bulan suci ini lagi-lagi salah satu tugas tersebut diuji dan dituntut tanggungjawabnya. Tugas tersebut adalah untuk melatih dan mendidik anak latihan berpuasa sebagai salah satu kewajiban yang harus dipenuhi sebagai hamba kepada Sang Khalik. Terasa sangat berat menanamkan ibadah ini kepada anak-anak kita mengingat ibadah ini menunda waktu makan dan minum dalam jangka waktu yang lama, dalam kondisi yang biasanya lebih panas dari bulan sebelum atau sesudahnya, sehingga puasa terasa lebih lama dari hari biasanya.

Ketika menjelang sahur alangkah berat membangunkan anak-anak dalam kondisi tidur nyenyak, tak jarang ketika kita tinggal menyiapkan minuman ternyata si anak tertidur lagi, dan itu tak hanya sekali. Berkali-kali si anak malas bangun sehingga kita berkali-kali pula membangunkannya lagi dan lagi sampai si anak benar-benar telah siap bangun. Seringkali kita harus menggendongnya supaya mau beranjak dari tempat tidur sampai ke tempat makan, kadang kita harus menyuapainya karena si anak tetap merem saat syaur. Tak terhenti sampai disitu orangtua masih harus menjaganya lagi supaya anak tidak tertidur lagi untuk menunggu sholat subuh.

Di siang hari kita juga harus menjaga dan menciptakan kondisi agar tidak memicu si anak untuk minta makan dan minum. Seringkali anak-anak merengek untuk minum atau makan dengan berbagai alasan yang sebenarnya membuat kita tidak tega jika tidak dalam keadaan tidak berpuasa, wajahnya memelas sambil memegangi perutnya. Rengekan tersebut tidak sekali dua kali diucapkannya mulai dari matahari belum diatas kepala sekitar jam 11, atau saat adzan berkumandang dengan satu alasan puasa setengah hari. Berkali-kali pula sang orangtua biasanya ibu menenangkannya dan membujuknya dan memberi pengertian kalau puasa itu tidak setengah atau seperempat hari tetapi harus sehari penuh mulai imsak hingga magrib waktu berbuka.

Latihan berpuasa terasa berat karena memang meninggalkan segala bentuk makanan dan minuman dalam waktu sehari penuh, sedangkan lingkungan tak bisa dihindari tetap berpotensi menawarkan makanan baik dari para pedagang yang berjualan maupun masyarakat yang tidak berpuasa mengolah makanan hingga aromanya menggoda kita yang berpuasa. Hal tersebut menjadi hal yang biasa buat kita yang sudah dewasa dan menyadari bahwa puasa menjadi wajib hukumnya, tetapi bagi anak-anak yang masih dalam masa-masa latihan tentu menjadi godaan yang luar biasa. Tak sedikit anak-anak yang gugur kewajibannya karena godaan makanan dari anak-anak lain yang tidak puasa dan makan sembarangan sehingga mengganggu anak yang puasa.

Menjadi hal yang alamiah anak-anak pada saat berlatih puasa menjadi lebih rewel dari hari biasanya karena sebagai luapan emosional dari emosi makan dan minum yang tertunda. Menjadi tantangan dan ujian kesabaran dari orangtua untuk mengatasi semua itu dengan berbagai sikap penuh kesabaran dan kelembutan, agar tidak dijadikan alasan oleh si anak untuk menangis karena kita memarahinya dan selanjutnya meminta makan atau minum serta ngambek tidak mau melanjutkan puasanya. Sebagai orangtua kita dituntut untuk menciptakan kondisi yang mendukung kewajiban puasa, diantaranya dengan tidak memeperlihatkan makanan apapun di siang hari, apalagi memasak makanan yang dapat menggoda selera makan.

Peran seluruh anggota keluarga memberi andil yang sangat besar karena dari merekalah kunci terciptanya suasana yang kondusif tersebut. Misalnya ada anggota keluarga yang terpaksa tidak berpuasa karena alasan sakit atau wanita yang terpaksa tidak berpuasa karena alasan hari istimewa, sebaiknya jangan pernah menampakan makanan atau minuman dihadapan anak-anak, sebaliknya menciptakan suasana seakan semua orang sedang berpuasa adalah hal yang terbaik agar sianak mendapat pembelajaran bahwa puasa adalah wajib bagi siapapun dalam kondisi apapun karena pada masa anak-anak ini belum saatnya diberitahu siapa-siapa saja yang boleh tidak melaksanakan puasa tetapi tetap harus menggantinya dilain hari, karena tingkat penalaran mereka belum sejauh itu.

Penanaman nilai-nilai agama melalui latihan berpuasa atau kegiatan agama lainnya dari dalam keluarga menjadi dasar mental dan akhlak yang baik sebelum anak-anak kita terkena dampak pengaruh baik dan buruk, karena dalam keluarga tentu tauladan yang baik-baik yang kita tanamkan. Maka pendidikan sedini mungkin melalui latihan berpuasa adalah salah satu filter untuk menghindari pergaulan yang tidak baik, terutama dari sisi sosialnya karena melalui puasa kita turut merasakan bagaimana kaadaan yang dialami oleh orang-orang yang hidup berkekurangan, dimana untuk makan sehari-hari saja sangat sulit. Maka dengan ikut merasakan beban hidup mereka diharapkan mendorong anak-anak untuk belajar berbagi kepada sesama agar mengurangi beban hidup mereka walaupun sedikit.

Dewasa ini sulit ditemui anak-anak muda yang mempunyai kepedulian sosial, dikarenakan maraknya arus pergaulan modern yang mempunyai tingkat kepedulian memprihatinkan. Dalam pergaulan modern baik dikota-kota besar maupun imbas dari globalisasi yang dapat dilihat tanpa batasan jarak dan waktu, mereka dicontohkan kurang mempunyai respon dan kesensitifan yang besar terhadap apa-apa yang terjadi disekitarnya sehingga berlaku masa bodoh atas apa saja yang ada dilingkungannya bahkan terkesan tidak peduli. Hal tersebut tidak akan terjadi jika kita telah berusaha menanamkan nilai-nilai agama sejak dini melalui contoh dan penerapannya dalam berbagai hal dan bidang kehidupan baik kepada sesama anggota keluarga, lingkungan sosial maupun kepada diri sendiri sebagai penentu akhlak dan tingkah laku.

Diri sendiri merupakan penentu dari segala pendidikan umum maupun agama, karena sebanyak apapun usaha keluarga dan lingkungannya tidak akan berarti apapun tanpa adanya komitmen dan niat dari dalam diri individu untuk berlaku yang seharusnya. Diri sendirilah yang dapat menjadi komando teratas dari berhasil atau tidaknya menerapkan segala hasil pendidikan dalam kehidupan nyata, maka dari diri sendirilah yang dapat menentukan penilaian masyarakat terhadap akhlak dan tingkah laku karena masyarakat adalah penilai dan pemerhati yang jujur dan tak bisa dikondisikan ke arah tertentu karena mereka majemuk dengan berbagai penilaian yang beranekaragam.

Namun satu kesimpulan dari penilaian yang majemuk tersebut adalah satu, jika yang kita lakukan baik maka suara mereka baik karena penilaian mereka juga dinilai oleh masyarakat yang lainnya, dimana suatu hal tak bisa dikatakan buruk jika sebenarnya baik atau sebaliknya.

Pada akhirnya sukses atau tidaknya pendidikan agama dan pendidikan lainnya dimasa depan terletak ditangan anak-anak kita sendiri dan lingkungan pergaulannya, kita sebagai orangtua berusaha mengarahkan ke arah yang baik agar tidak salah langkah. Tugas dan peran orangtua bagai sebuah jembatan yang dipersiapkan dengan segala perhitungan yang matang dan terarah.

Namun berbagai kendala selama perjalanan siaanak yang panjang belum tentu dapat kita atasi semuanya, mengingat keterbatasan kita yang tidak selalu menemani anak dalam aktifitasnya sehari-hari. Melalui pendidikan berlatih berpuasa semoga mengarahkan anak untuk tidak pernah sedikitpun meleset dari tuntunan agama dan agar anak-anak kita menjadikan agama sebagai bagian dari jiwa raganya sehingga rasa cinta yang dimiliki terhadapap agamanya tersebut sangat mendarah daging seperti mereka mencintai jiwa mereka.

Maka harapan kita untuk menuntun mereka untuk terus belajar mengenai agamanya tersebut akan terus mengalir sepanjang hidup mereka kemudian melaksanakannya dalam kehidupan mereka. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Belajar Sejarah itu Asyik Siswa “Dimanjakan”, Orang Tua Harus Diperankan


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: