Belajar Sejarah itu Asyik

27 Juni, 2016 at 10:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Ada pendapat dari anak-anak bahwa mata pelajaran Sejarah itu kaku, tidak menarik, dan membosankan. Kata mereka, jika materinya tentang kerajaan, mereka bisa menebak bahwa isinya tidak jauh dari tahun berapa kerajaan didirikan, siapa yang memerintah kerajaan itu, dan kapan berkahirnya kerajaan itu. Jika materinya tentang peperangan atau perjuangan, mareka pun bisa mengatakan bahwa paling isinya tahun berapa peperangan itu terjadi, siapa pemimpinnya, dan tahun berapa berakhirnya perang itu.

Berangkat dari ungkapan tersebut, saya mencoba mengupayakan cara mengajar mata pelajaran Sejarah dengan cara yang luwes, dan menyenangkan. Pengalaman ini saya peroleh, ketika saya mendampingi anak-anak belajar bersama pada malam hari. Saya menawarkan materi tentang peninggalan sejarah yang berupa candi-candi yang bernafaskan budha dan hindu. Metode yang saya gunakan untuk mengurai masalah candi-candi tersebut dengan pendekatan holistik.

Tentang pembelajaran holistik, saya peroleh ketika saya membaca buku yang berjudul Pendidikan Holistik. Buku tersebut ditulis oleh Ratna Megawangi, Melly Latifah, dan Wahyu Farrah Dina (2008).
Dalam buku tersebut, saya tertarik dengan ungkapan bahwa proses pendidikan harus mampu membentuk manusia utuh (holistic, whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole). Oleh karena itu, potensi manusia yang harus dikembangkan melalui pendidikan, adalah : aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual, dan intelektual (kognitif).

Setelah saya membaca buku itu, saya berpikir bahwa ada alternatif cara menyampaikan mata pelajaran Sejarah agar tidak ditangkap oleh anak-anak sebagai mata pelajaran yang kaku, tidak menarik, dan membosankan, yaitu dengan cara kunjungan langsung ke tempat-tempat yang bernilai sejarah, atau dengan cara pendekatan holistik.

Berdasarkan pemikirian itu, saya memutar film tentang candi-candi yang ada di Jawa Tengah, dan kemudian saya memasang gambar Candi Borobudur yang besar di papan tulis. Saya gunakan kedua sarana tersebut sebagai materi pendukung pada mata pelajaran Sejarah.

Sementara anak-anak memperhatikan Candi Borobudur, saya mencoba mengamati anak-anak. Mereka kelihatan tertarik dengan Candi Borobudur itu. Berikutnya saya mengajak anak-anak membentuk kelompok kecil, terdiri dari tiga anak, untuk menyampaikan pendapat mereka tentang Candi Borobudur.

Tentang Candi Borobudur, anak-anak menjawab, seperti berikut :

“Candi Borobudur itu candi budha”.

“Candi Borobudur itu bangunan candi yang indah”.

“Cando Borobudur itu peninggalan nenek moyang kita”.

“Candi Borobudur itu bangunan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh”.

“Candi Borobudur itu bangunan yang spektakuler”.

Saya mengiyakan jawaban dari anak-anak tersebut. Lalu, saya menyampaikan bahwa Candi Borobudur itu dikerjakan secara holistik. Mendengar kata “holistik”, tentu mereka heran. Mereka ingin tahu lebih jauh pengertian holistik yang dihubungkan dengan Candi Borobudur.

Keingintahuan anak-anak, saya tanggapi dengan mengurai Candi Borobudur, peninggalan sejarah yang dasyat itu, dengan pendekatan holistik. Pendekatan holistik itu mengandung aspek spiritual, intelektual, emosi, fisik, sosial, dan kreativitas.

Aspek spiritual, para pekerja yang mengerjakan Candi Borobudur, mengerahkan segala keahlian untuk mempersembahkan karya cipta yang terbaik kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan mereka bukan untuk keuntungan finansial, tetapi betul-betul persembahan total mereka. Mereka mengerjakan dengan disiplin, tanggung jawab, tertib, semangat, dan dengan rasa syukur.

Aspek intelektual, mereka mencurahkankan pikiran untuk mewujudkan karya agung yang berupa candi. Mereka berpikir mulai dari bahan dasar untuk bangunan candi, yang berupa batu. Lalu berpikir, apa jenis batu yang baik untuk bangunan candi, dimana mendapatkan batu itu, bagaimana mengangkut batu itu, membelah batu yang besar, memahat batu, menyusun batu dari pondasi candi, kaki candi, badan candi, sampai puncak candi, dan seterusnya.

Aspek emosi, mereke mengerjakan bangunan candi dengan motivasi yang tinggi. Tanpa motivasi yang tinggi, tentu bangunan candi itu tak akan pernah selesai atau tuntas.

Aspek fisik, mereka memiliki jasmani yang sehat dan daya tahan tubuh yang kuat. Mengingat mereka harus siap dengan segala cuaca yang tiba-tiba menerpa mereka, dan tentu mereka terlatih untuk tidak mudah menyerah.

Aspek sosial, mereka melakukan dengan kerjasama. Tentu, tanpa kerjasama bangunan Candi Borobudur yang megah itu tak akan terwujud dan berdiri kokoh sampai sekarang.

Aspek kreativitas, mereka memahat batu dengan teknik yang tinggi, sehingga hasil pahatan dapat dinikmati dengan cita rasa tinggi. Keindahan dan keagungan memancar dari hasil karya cita mereka.

Dari pengalaman saya mengajar Sejarah tentang Candi Borobudur seperti tersebut di atas, maka dapat diambil kesimpulan :

Pertama, mengajar mata pelajaran Sejarah dengan menggunakan gambar, foto, atau film, ternyata lebih efektif. Karena anak-anak mudah menangkap pesan, kesan, dan belajar beimajinasi, yang seolah-olah mereka merasa berada di sekitar candi tersebut.

Kedua, pembelajaran Sejarah dapat di-create. Artinya, belajar Sejarah tidak hanya mengungkap : apa nama candi, siapa yang mendirikan candi, pada tahun berapa candi itu didirikan, dimana letak candi itu, apa fungsi candi, dan sebagainya. Jika kebiasaan ini masih berjalan, maka tidak aneh anak-anak merasa tidak senang atau bosan dengan mata pelajaran Sejarah. Oleh karena itu guru Sejarah harus berani keluar dari frame yang sudah menjadi kebiasaan untuk mencoba ke cara lain, misal mencoba mengajar degan pendekatan holistik. Karena materi yang diajarkan dapat dilihat secara menyeluruh (beberapa aspek).

Referensi :

  • Ratna Megawangi, Melly Latifah, Wahyu Farrah Dina, Pendidikan Holistik, Penerbit Indonesia Heriage Foundation, Cetakan Kedua, Jakarta, 2008.
  • Film tentang Candi-Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Belajar Mendengar Aktif Membentuk Kepribadian Anak Melalui Puasa


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: