Belajar Mendengar Aktif

23 Juni, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah
Perjalanan kata-kata, dari orang yang menyampaikan kata-kata sampai pada orang yang menerima kata-kata, dibutuhkan proses yang sangat menarik, yaitu bagaimana agar kata-kata yang disampaikan itu bisa diterima dengan baik oleh si penerima kata-kata ? Pun, si penerima kata-kata itu siap untuk menangkap pesan yang terkandung dalam kata-kata itu. Hal ini dibutuhkan suatu proses yang namanya “mendengar”.

Pertanyaan kita, baik sebagai orangtua atau guru, adalah sejauhmana kita siap mendengar dan mampu menangkap pesan, ketika anak-anak kita sedang berkata, berucap, bercakap-cakap, atau sedang mengungkapkan sesuatu tentang pikiran, atau perasaan mereka ?

Kita akui bahwa yang namanya aktivitas “mendengar” itu sulitnya bukan main. Mengapa ? Karena yang sering terjadi adalah kita maunya “berbicara terus”, tanpa peduli apakah anak-anak kita siap untuk “mendengar”, dan akhirnya mampu menangkap pesan.

Namun demikian, kita tidak perlu khawatir, artinya jika kita mau belajar tentang “mendengar”, kita perlu memahami lebih dahulu, apa yang dimaksud dengan “mendengar” ?
“Mendengar”, menurut Sumadi Suryabrata (2007), adalah menangkap bunyi (suara) dengan indera pendengar atau telinga. Dalam kehidupan seharti-hari bunyi berfungsi sebagai tanda (signal) dan lambang. Oleh karena itu yang ditangkap atau didengar adalah artinya, bukan bunyi atau suaranya.

Selanjutnya, menurut Thomas Gordon (1997), pengertian “mendengar” harus dibedakan dengan “mendengar aktif”.

Yang dimaksud dengan “mendengar”, adalah mengkomunikasikan penerimaan kita terhadap anak apa adanya. Mendengar tidak hanya sekedar memberi pesan, nasehat, fakta, peringatan, simpati, pencerahan, pemecahan masalah, pertanyaan, evaluasi, dan pertimbangan. Mendengar artinya juga mengajak anak untuk membicarakan apa yang mengganggunya. Dengan mendengar, maka memudahkan terjadinya pelepasan perasaan dan emosi.

Sedangkan pengertian “mendengar aktif”, adalah cara mendengarkan dengan sungguh-sungguh untuk mengerti apa yang dikomunikasikan oleh anak. Dengan mendengar aktif, maka melibatkan interaksi dengan anak.

Dengan cara belajar “mendengar aktif” , ujungnya adalah anak merasa didengarkan oleh orangtuanya atau gurunya, dan kemudian mereka akan merasa penting dan berguna. Pun, dengan cara belajar “mendengar aktif”, kita tidak perlu bicara dengan suara keras, ketika kita ingin berbicara dengan anak.

Misal :

“Dengarkan saya !”

“Awas ! Kalau kamu tidak mendengar !”

“Pasang telinga, dengarkan saya !”

Bicara dengan kata-kata tersebut di atas, membuat anak tidak dapat menangkap pesan dengan baik, karena anak merasa tidak aman dan nyaman.

Mari kita simak, jika kita bicara dengan kata-kata seperti di bawah ini dan pesan yang terkandung :

“Dengarkan saya !” mengandung pesan tuntutan.

“Awas ! Kalau kamu tidak mendengar !” mengandung pesan ancaman.

“Pasang telinga, sengarkan saya !” mengandung pesan perintah.

Pesan yang mengandung tuntutan, ancaman,dan perintah, itulah yang kemudian dirasakan oleh anak sebagai pesan yang tidak membuat dirinya aman dan nyaman. Untuk itu, agar pesan dapat ditangkap dan dirasakan oleh anak dengan aman dan nyaman, maka kita perlu meng-create ketika bicara dengan kata-kata, misalnya :

“Dengarkan saya !” dapat di-cerate dengan kata-kata “Saya ingin bicara sebentar, semoga kamu mendengar !”

“Awas ! Kalau kamu tidak mendengar !” dapat di-create dengan kata-kata “Aku khawatir kalau kamu tidak mau mendengarkanku !”

“Pasang telinga, dengarkan saya !” dapat di-create dengan kata-kata “Saya ingin duduk dekat denganmu, supaya saya enak bicaranya !”

Ketika kita bicara dengan kata-kata yang sudah di-create seperti tersebut di atas, kata-kata itu akan ditangkap oleh anak dengan aman dan nyaman, karena mengandung permohonan dan pengharapan.

Untuk mencapai tataran agar kita bisa mewujudkan “mendengarn aktif”, kita perlu latihan terus-menerus, lebih-lebih ketika kita mau bicara dan sekaligus mau mendengar.

Ada keuntungan apabila kita bisa mewujudkan “mendenegar aktif”, seperti yang dikatakan oleh Thomas Gordon (1997), antara lain : membantu anak melepaskan perasaan-perasaan yang berat; membantu anak mengerti bahwa mereka tidak perlu takut dengan emosi-emosi mereka; memudahkan anak memecahkan masalah; membantu anak belajar untuk menganalisis dan memecahkan masalahnya sendiri; membuat anak lebih mau mendengarkan juga; mempererat hubungan.

Referensi :

  • Sumadi Suryabrata, Drs, B.a, M.A, ED.S, Ph.d, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Edisi Kelima, Jakarta, 2007.
  • Thomas Gordon, Menjadi Guru Efektif, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
    (Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Belajar Berpikir Lateral (Kreatif) Belajar Sejarah itu Asyik


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: