Belajar Berpikir Lateral (Kreatif)

20 Juni, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Ada anak mengeluh bahwa ketika ia sering bertanya kepada gurunya, justru anak tersebut mendapat jawaban yang kurang baik atau kurang memuaskan dari gurunya. Karena pertanyaan yang disampaikan anak itu dianggap aneh, lucu, atau tidak bermutu oleh guru. Misalnya :

”Mengapa bulan kelihatan bulat ?”

“Mengapa saya duduk di bawah pohon, lama-kelamaan saya ngantuk ?”

“Mengapa besi jatuh tidak patah, sedangkan kaca pecah ?”

Ada guru yang sangat bagus dalam membawakan materi pelajaran yang berhubungan dengan keluarga anak-anak. Guru memberi pertanyaan arahan tentang : siapa nama ayah, apa pekerjaan ayah, dimana alamat pekerjaan ayah, siapa nama ibu, apa pekerjaan ibu, dimana alamat pekerjaan ibu, siapa saja nama saudara-saudaranya, apa nama sekolahnya, dan kelas berapa. Ternyata, ada anak yang mampu menjawab atau menanggapi lebih dari pertanyaan arahan yang diberikan guru. Misal, anak itu mengungkapkan perasaannya tentang hubungannya dengan ayah, ibu, dan sauadara-saudaranya, bahkan termasuk dengan kakek-neneknya.

Kedua ilustrasi di atas, menunjukkan bahwa belajar berpikir lateral atau kreatif itu sangat penting sangat penting bagi siapapun, termasuk orangtua, guru, maupun anak-anak.

Berpikir lateral (Nusa Bali, 28 Maret 2010), adalah cara berpikir secara divergen (banyak alternatif jawaban, pilihan, atau kreatif). Keuntungan apabila anak diberi kesempatan untuk berpikir lateral, antara lain :

Pertama, ketika anak menghadapi persoalan, anak memiliki cara berbeda dalam mengatasi masalah.

Kedua, anak belajar berempati (mampu merasakan apa yang orang lain rasakan).

Ketiga, anak akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tipe orang yang ditemuinya.

Keempat, anak mampu memahami hal yang tersirat dalam suatu percakapan.

Kelima, anak akan kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Keenam, anak selalu mengekpresikan atau mencari tahu lingkungan sekitarnya dengan kontak langsung.

Ketujuh, anak selalu mengajukan pertanyaan yang kritis.

Kedelapan, anak senang melakukan eksperimen dengan benda-benda sekitarnya.

Berpikir kreatif (Majalah Psikologi Populer-Anda, No., 67, Juni 1982), ialah menemukan suatu cara baru untuk memecahkan suatu masalah. Cara belajar berpikir kreatif, antara lain :

Pertama, mencari jalan untuk menyedehanakan persoalan dan menjadikannya bukan suatu masalah lagi.

Kedua, hapuslah kata “tak mungkin” dari pikiran dan pembicaraan.

Ketiga, menerima gagasan-gagasan baru.

Keempat, singkirkan penghalang-penghalang pikiran, seperti : “tak akan bisa,” “tak bisa dilaksanakan”, “tak ada gunanya”.

Menurut Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi (2006), anak perlu belajar berpikir kreatif dalam memecahkan masalah. Karena pikiran bukan buah sebuah bejana untuk diisi, tetapi api untuk dinyalakan.

Berangkat dari pembelajaran di atas, maka guru seharusnya semakin senang, jika ada anak yang sering bertanya atau memberi jawaban yang meluas. Karena dengan demikian, tandanya anak itu tidak padam atau mundur pikirannya. Pun guru akhirnya juga belajar untuk mengelola emosinya agar tidak mengedepankan ketersinggungan, kejengkelan, dan meremehkan cara berpikir anak (yang mau mengarah ke berpikir lateral atau kreatif).

Sebagai langkah praktik, ketika ada anak bertanya, guru bisa menimbang dengan cepat. Jikalau pertanyaan anak itu mudah, guru bisa segera menjawab. Jika pertanyaan anak itu sulit, guru bisa menunda jawaban agar ada kesempatan untuk mencari referensi. Sehingga tersedia jawaban alternatif dan luas. Selanjutnya, jikalau guru memberi pertanyaan, dan anak memberi jawaban pendek, karena memang hanya dibutuhkan jawaban pendek, tentu guru akan menerima dengan baik. Sebaliknya, jikalau pertanyaan guru, dijawab oleh anak mengandung jawaban alternatif atau luas, tentu guru juga akan menerima dengan baik.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa belajar berpikir lateral atau berpikir kreatif mengandung juga pembelajaran komunikasi efektif antara orangtua, guru, dan anak.

Referensi:

  • Colin Rose dan Malcolm I. Nicholi, Accelerated Learning For The 21st Century-Cara Belajar Cepat Abad XXI, Penerbit Nuansa, Bandung, Cetakan Keenam, 2006.
  • Harian Nusa Bali, 28-3-2010.
  • Majalah Psikologi Populer-Anda, No. 67, Juni, 1982.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Broken Home Mencederai Kekokohan Mental Anak Belajar Mendengar Aktif


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: