Broken Home Mencederai Kekokohan Mental Anak

19 Juni, 2016 at 12:00 am

Yudel NenoOleh Fr Yudel Fon Neno SFil
Guru SMK St. Pius X Insana, TTU, NTT, Indonesia

 

A. Pendahuluan
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga (kulawarga) yang berarti anggota kelompok kerabat. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Yang dimaksud dengan kepala keluarga adalah ayah dan beberapa orang, yakni : ibu dan anak-anak. Dalam keluarga inilah, sebenarnya anak-anak mendapat pendidikan dan pembinaan yang berakar kuat.

Karena itu, keluarga merupakan sekolah pertama dan utama. Dengan demikian, peranan orang tua sebagai pendidik dan pembina tidak dapat disangkal lagi. Keluarga sebagai sekolah pertama berarti pendidikan dan pembinaan pertama-tama dilakukan oleh orang tua ketika seorang anak dilahirkan dalam satu unit terkecil yakni keluarga. Keluarga sebagai sekolah utama berarti pendidikan dan pembinaan dilakukan oleh orang tua terhadap anak berlaku tak mengenal waktu. Hal ini berarti seluruh kehidupan orang tua sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak. Jika seorang anak, semenjak masa kecilnya mengalami kehidupan orang tua yang mengecewakan, dalam diri anak itu dapat tertanam rasa beban psikologis yang tinggi. Dikatakan demikian, karena sebenarnya orang tualah yang harus menjadi pendidik dan pembina bagai anak-anak melalui kesaksian hidup yang baik. Kesaksian hidup mengandung arti sikap dan perilaku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

B. Realitas Broken Home
Broken home berarti rumah tangga yang berantakan. Penulis sendiri menyaksikan dalam waktu yang cukup lama, bagaimana seorang ibu bergumul bersama dengan tiga orang anaknya karena ditinggalkan oleh suaminya. Sekali waktu, ibu itu menunjukkan sepotong kertas kecil yang berisi curahan hati puteri pertamanya. Curahan hati itu berupa doa dan rasa kekecewaan karena ulah ayahnya. Puteri itu berdoa supaya ayahnya kembali ke rumah dan juga kecewa hingga benci mengapa ayahnya tega melakukan perbuatan yang ia sendiri pun tidak tahu apa sebabnya. Puteri itu pun merasa minder karena sering ditanya atau bahkan diejek oleh teman-teman sekolahnya. Kalau ayahnya datang, selalu saja membentak dan memukul ibunya. Membaca sepotong kertas itu, penulis tertegun dan ibunya pun menangis karena sebenarnya ia pun tak tahu persis apa sebab suaminya dapat bertindak seperti itu.

Segala upaya dilakukan dalam perjalanan waktu. Setelah diselidiki dengan baik, ternyata yang menjadi penyebab suaminya tidak pernah ke rumah adalah sang suami selama ini memiliki Wanita Idaman Lain (WIL) dan memiliki jumlah utang yang tinggi disebabkan oleh hobby berjudi dan suka minuman keras. Walaupun demikian, setelah menempuh proses penyelesaian melalui jalur hukum dan jalur kekeluargaan, akhirnya suaminya kembali dan kini mereka hidup bersatu kembali seperti semula.

C. Penyebab Broken Home
Cerita singkat yang telah diuraikan oleh penulis, mengantar penulis untuk menemukan sekurang-kurang ada tiga alasan, mengapa Broken Home terjadi.

a. Selingkuh (PIL-WIL)
Kamus Bahasa Indonesia mengartikan selingkuh sebagai tindakan suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong.

b. Judi
Judi merupakan kegiatan taruhan uang atau materi lainnya yang bernilai uang, melalui kegiatan tertentu. Misalnya sabung ayam atau meja bola guling dengan taruhan uang yang berlebihan.

c. Asal Bapak Senang (ABS)
Banyak arti dapat dikenakan dalam pemahaman terhadap ABS. Walaupun demikian, dalam konteks tulisan ini, ABS yang dimaksudkan adalah tindakan seorang (bapak) demi memenuhi kesenangan dirinya tanpa peduli dengan rasa kasih sayang yang tulus terhadap istri atau anak.

d. Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam arti tindakan penyiksaan entah oleh suami terhadap istri maupun sebaliknya. Kekerasan ini dapat berupa kekerasan fisik dan kekerasan mental. Tindakan melakukan pemukulan terhadap istri atau suami, lama kelamaan menimbulkan penyiksaan bathin.

D. Mental
Mental berarti keadaan jiwa (batin), intelektual, kerohanian, moral, psikis. Mentalitas berarti soal karakter, personalitas, sifat, watak. Maka kekokohan mental berarti keadaan jiwa, intelektual serta perilaku yang stabil dan baik. Keadaan jiwa, intelek dan perilaku yang baik berarti seorang anak merasa nyaman, intelektualnya berkembang dan perilaku sehari-hari menyenangkan banyak orang karena keadaan keluarga yang nyaman dan tenteram. Dengan demikian, mendidik anak untuk menjadi pribadi berkarakter erat kaitannya dengan keadaan keluarga yang tentetam serta perhatian yang tulus dan penuh terhadap anak.

Orang tua sebagai pendidik dan pembina dalam mendidik anak-anak, mestinya memberi perhatian yang serius dan penuh tanggung jawab demi terciptanya anak yang berkarakter. Karakter berarti sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku yang buruk oleh seorang anak, menimbulkan stigma sosial yang tajam terhadapnya. Sikap dan perilaku anak sangat ditentukan oleh keadaan jiwa dan intelektualitasnya. Jika ia merasa beban bathin terus menerus karena perilku orang tuanya, besar kemungkinan ia mencari pelampiasan lain yang dapat menggerogoti karakter pribadinya. Misalnya terlibat dalam konsumsi narkoba, kasus kenakalan remaja, minuman keras atau bahkan perilaku seks bebas.

Sejak awal hingga sekarang ketika Ir. Joko Widodo, menjabat sebagai menjabat sebagai Presiden RI, Beliau memberi perhatian yang serius terhadap revolusi mental. Hal pokok yang penulis petik dari seruan ini adalah soal mandiri dan tanggung jawab dalam hidup sebagai rakyat Indonesia. Kalau hidup dan karya orang tua dalam keluarga berantakan, maka akan menciptakan perasaan-perasaan yang menyiksa pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak. Perasaan-perasaan itu antara lain :

a. Minder
Anak merasa minder dan bahkan selalu menghindar ketika berada bersama dengan teman lain karena keadaan rumah tangga yang berantakan.

b. Beban Psikologis
Anak merasa luka batin dalam dirinya sendiri akibat keadaan keluarga yang berantakan. Kondisi keluarga yang berantakan dirasakan ibarat pisau silet perlahan namun pasti membelah secara menyakitkan kedalaman hati anak.

c. Rasa Dendam Terselubung
Perilaku berantakan orang tua yang berlebihan dapat menciptakan rasa dendam terselubung dalam hati anak. Bahkan pantulan rasa dendam ini membuat anak untuk membenci pria atau wanita.

d. Pertumbuhan dan Perkembangan Yang Tersendat
Keadaan keluarga yang berantakan sangat mengganggu pertumbuhan biologis anak serta perkembangan intelek dan perasaan hati anak.

E. Menepis Broken Home Membangun Kekokohan Mental Anak
Menepis Broken Home penekanannya lebih pada tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya Broken Home. Dengan keyakinan bahwa tindakan-tindakan itu pun memberi pengaruh positif pada perkembangan karakter anak. Tindakan-tindakan itu antara lain :

a. Mendidik Dengan Teladan Hidup
Kesaksian hidup orang tua adalah guru utama untuk mendidik anak. Hidup dan karya orang tua yang tenteram, damai serta bertanggung penuh atas tugas yang diemban sebagai orang tua, memiliki pengaruh positif yang sangat besar terhadap perkembangan karakter seorang anak. Misalnya teladan hidup ayah dan ibu yang tenteram serta setia.. Sikap setia itu terwujud melalui perhatian yang tulus dan sepenuhnya terhadap kebutuhan rumah tangga entah dari aspek biologis maupun kasih sayang.
Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama mestinya memiliki kebijaksanaan teoretis dan kebijaksanaan praksis. Kebijaksanaan teoretis berkaitan dengan pengetahuan dan nasehat-nasehat yang bijak. Kebijaksanaan praksis berkaitan dengan sikap dan perilaku yang bijak. Sehingga mendidik dan membina berarti bertolak dari pengetahuan yang bijak menuju perilaku yang bijak.

b. Membangun Komunikasi Pertalian Batin
Komunikasi pertalian batin kata lainnya komunikasi mengena. Dikatakan komunikasi mengena karena unsur dasar yang memberi isi pada komunikasi itu adalah hati yang penuh kasih sayang. Hati yang selalu bersuara kasih sayang akan menciptakan tali batin yang erat dalam sebuah keluarga. Tali batin itu erat ikatannya karena susunannya terdiri dari pengertian yang penuh, rasa kasih sayang yang tulus dan perhatian yang intens.
Kalau suami atau istri mendengar kabar angin, dekatilah satu sama lain untuk membangun komunikasi batin yang mengena. Jika perilaku hidup anak mulai menurun, dekatilah anak dan berbicaralah empat mata.

c. Berbicara Dalam Bahasa Nilai
Berbicara dalam bahasa nilai mengandung beberapa arti yakni : (1) Membangun budaya berpikir posisif. Berpikir positif bukan berarti memikirkan yang buruk sebagai yang baik melainkan justeru dengan tegas dan tepat, berpikir dan mengatakan sesuatu yang baik untuk patut ditiru dan yang buruk untuk dihindari. Maka berpikir positif sebenarnya taat pada prinsip moral yakni lakukanlah yang baik dan hindari yang jahat. (2) Berpikir positif juga dapat berarti mengambil hal yang baik dari kesalahan yang dilakukan. (3) Memberi motivasi dan pujian. Jika suami atau istri atau anak-anak berhasil dalam suatu kegiatan, berilah motivasi untuk dikembangkan dan berilah pujian atas keberhasilan itu bila perlu dengan memberikan “hadiah mata” yang walaupun murah harganya tetapi besar nilainya.

d. Menciptakan Kondisi Berbasis Etiket
Jika suami atau istri lambat pulang dari tempat kerja atau anak lambat pulang dari sekolah, berilah ucapan dan senyuman yang menggembirakan. Ungkapkanlah rasa syukur karena tiba dengan selamat, dan bukan sebaliknya, bertanya dengan nada tinggi, disertai raut wajah atau ekspresi tubuh yang mencurigakan. Sambutlah mereka dengan perilaku yang etis sehingga menciptakan kondisi etiket di dalam kehidupan berkeluarga.

F. Penutup
Broken Home mesti ditepis dengan keyakinan bahwa situasi hidup keluarga yang nyaman dan tenteram memberikan pengaruh positif pada perkembangan karakter anak. Kokohnya karakter anak selain karena usaha dirinya tetapi juga patut didukung oleh orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan anak. Jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang menakutkan kelak ia akan menjadi pribadi yang menghidupi ketakutan-ketakutan tak beralasan. Jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang berantakan kelak ia akan menjadi pribadi yang terpecah-pecah sehingga tidak utuh. Jika terhadap seorang anak selalu ditunjukkan kekerasan dalam rumah tangga kelak ia akan merasakan kekerasan itu sebagai hal yang biasa.

Maka, tepislah broken home dan bangunlah situasi etiket untuk untuk membangun kekokohan mental anak. Bentuklah karakter anak dengan teladan hidup orang tua melalui perilaku-perilaku yang nyata. Ingatlah bahwa Broken Home menciderai kekokohan mental anak. (Email: neno.yudel@yahoo.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Pendidikan Berkarakter Utuh Belajar Berpikir Lateral (Kreatif)


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: