Sekali Lagi tentang Belajar

18 Juni, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Sebagai guru, saya sering mendengar keluhan dari orangtua tentang anak-anaknya yang sulit diajak belajar. Pada saatnya belajar, mereka harus dikejar-kejar. Setiap sore atau malam hari orangtua mulai pasang muka ketika melihat anak-anaknya belum juga belajar. Setelah anak-anaknya ditegur, baru mereka beranjak untuk belajar.

Namun, baru beberapa menit, anak-anak sudah melakukan hal-hal lain selain belajar. Misalnya, menonton TV atau bermain. Pada saat itu juga orangtua langsung menegur kembali, agar anak-anaknya segera meneruskan belajar. Sebaliknya, anak-anak tetap bertahan tidak mau melanjutkan belajarnya, dengan berbagai alasan. Misalnya, sudah membaca buku pelajaran, sudah mengerjakan PR, sudah menghafal, dan lain-lain.

Saya sempat bertemu dengan beberapa orangtua, dan saya juga mengajak bercakap-cakap.
“Menurut bapak dan ibu, apa yang dimaksud dengan belajar ?” tanya saya.
Mendengar pertanyaan itu, orangtua diam, dan kemudian muncullah beberapa jawaban, seperti berikut :

“Belajar itu suatu cara untuk mendapat nilai yang bagus”.
“Belajar itu menghafal teori dan rumus-rumus”.
“Belajar itu membaca dan menulis”.
“Belajar itu cara untuk mencapai cita-cita”.

Ketika malam hari saya belajar bersama dengan anak-anak, saya sempat bertanya kepada anak-anak tentang arti belajar bagi mereka. Ada beberapa jawaban dari anak-anak, seperti berikut :

“Belajar itu mengerjakan PR”.
“Belajar itu usaha untuk mendapatkan pengetahuan”.
“Belajar itu menghafal rumus-rumus Matematika”.
“Belajar itu membuat saya jadi pandai”.

Dari pengalaman tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya orangtua dan anak-anak mempunyai konsep tentang belajar.

Untuk menambah atau melengkapi konsep tentang belajar, berikut konsep yang disampaikan oleh Albert Einstein, Ki Hajar Dewantara, dan Andrias Harefa.

Menurut Albert Einstein, seorang ilmuwan Fisika yang mengemukakan Teori Relativitas, dan telah menjadi inspirasi bagi banyak pemikir besar Fisika, belajar adalah : memikirkan sesuatu, mempertanyakan sesuatu, berinovasi, memperbaiki kesalahan/kegagalan, selalu ingin tahu, penasaran untuk mencari sampai kedalaman, tekun.

Dari ungkapan Albert Einstein tersebut, dapat kita lihat bahwa ketika anak-anak banyak bertanya kepada orangtua atau guru, itu artinya anak-anak sedang belajar. Perlu diingat bahwa keingintahuan anak-anak itu sangat tinggi. Maka orangtua harus siap menanggapi/nerespon, ketika anak-anaknya selalu dan terus-menerus bertanya tentang apa yang mereka lihat, dengar, atau menarik hatinya.

Kemudian menurut Ki Hajar Dewantara, seorang pendidik yang mampu menyampaikan konsep pendidikan bagi bangsa Indonesia, mengatakan bahwa belajar bukan sekadar teori dan praktek di sekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Oleh karena itu, diharapkan para guru mengajarkan teori dan praktek di sekolah, sekaligus mengenalkan realitas hidup di luar sekolah (dunia).

Para siswa juga diharapkan untuk berani bertanya tentang hal-hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru. Dengan cara ini, para siswa setelah lulus sekolah, mampu menghadapi hidup dan bisa berbuat banyak untuk sesamanya (lingkungannya).

Berikutnya, menurut Andrias Harefa, yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Menjadi Manusia Pembelajar, menguraikan bahwa seorang pembelajar adalah seorang yang senantiasa belajar tentang (learning about), belajar melakukan (learning to do), dan belajar menjadi (learning to be).

Dari ungkapan para tokoh pembelajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar memunculkan banyak dimensi, yang tidak hanya sekadar untuk mendapat nilai pelajaran yang bagus, hafal teori dan rumus. Tetapi, belajar itu membawa anak masuk ke kedalaman dirinya agar mampu menjadi manusia yang semakin manusiawi. Yang menjadi impian semua orangtua adalah anak-anak mereka menjadi anak pintar, baik pintar intelektualnya maupun pintar hatinya, sehingga menjadi manusia yang manusiawi. Manusia pembelajar adalah “manusia” (human being) yang belajar “menjadi manusia” (being human).

Referensi :

  • Andrias Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar, Peneribit Kompas, Jakarta, 2000.
  • Jujun S. Suria Sumantri, Filsafat Ilmu-Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2000.
  • Suparta Rahardjo, Ki Hajar Dewantara-Bigrafi Singkat 1889-1959, Penerbit Garasi, Cetakan Pertama, Yogyakarta, 2009.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Pendidikan Sebagai Media Pengembangan Dialog Integral Pendidikan Berkarakter Utuh


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: