Pendidikan Berkarakter Utuh

18 Juni, 2016 at 12:01 am

Yudel NenoOleh Fr Yudel Fon Neno SFil
Guru SMK St. Pius X Insana, TTU, NTT, Indonesia

A. PENDAHULUAN
Alfred North Whitehead (Filsuf Inggris-Amerika) mengatakan bahwa berfilsafat berarti menciptakan aktivitas yang efektif dalam dunia sehari-hari agar perilaku kehidupan berkembang menuju tingkat peradaban manusiawi yang lebih tinggi. Filsafat mengandung aktivitas dengan nilai pragmatik (nilai kegunaan). Filsafat menjadi faktor esensial atau utama bagi pembentukan pola-pola hidup. Hal senada ini, mau ditegaskan bahwa pendidikan itu semakin berkarakter justeru karena semua aspek diharmoniskan dalam berjalannya proses terkait. Persoalan tentang karakter ini sudah setua usia manusia sejak lahir, walaupun perhatian intensifnya baru terjadi pada abad akhir ini.

Mencermati realitas yang terjadi; segala tutur dan perilaku yang menyimpang akan dengan sangat mudah diberikan simpulan akhir sekaligus sebagai dasar yakni problem karakter. Karakter akan dengan sendirinya diragukan keutuhannya, jika seorang mahasiswa atau seorang cendekiawan atau seorang lainnya, melakukan tindakan pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, kecanduan narkoba, miras dan lainnya. Menghadapi persoalan ini, mereka yang memiliki kapasitas analitis, dengan mudah menganalisis akar dari persoalan terkait. Jika keluarga adalah wadah pertama dan utama untuk pengembangan keprbadian berkarakter, maka apakah dalam tinjauan kembali, keluarga harus dipersalahkan? Apakah sekolah-sekolah formal, informal dan nonformal juga harus ikut dipersalahkan secara sepihak?

Pada akhirnya menjawabi segala persoalan yang marak terjadinya, banyak orang mulai mengusahakan intensifnya pendidikan karakter dalam berbagai bidang kehidupan dengan penekanan secara harmonis pada aspek-aspek yang berbeda. Dan tulisan ini merupakan salah satu cara dengan makna praktis untuk membendung segala perilaku amoral dan antihuman itu.

Berada dalam era golabalisasi dengan segala tawarannya, dibutuhkan adanya sistem yang kuat dalam satunya serta harmonis dalam relasinya. Dibutuhkan adanya figur serta proses pendidikan dalam berbagai wadah yang benar-benar menyentuh tanpa menyakitkan. Membaharui tanpa pengalaman kehilangan dan pemangkasan tanpa penghancuran. Sebuah pendidikan karakter akan terukir jika prosesnya, memang masuk melalui pintu karakter. Kita tidak pernah mencapai efektifitasnya pendidikan karakter melalui kekerasan amoral serta kekerasan psikologis serta lainnya, yang selama ini terkadang masih kuat menjadi semboyan para formator pendidikan. Dikatakan berkarakter karena prosesnya menjunjung tinggi karakter serta para formandinya merasa dikarakterkan.

B. DEFENISI ATAU PEMBATASAN MAKNA
Penulis menentukan pembatasan makna ini untuk memudahkan para pembaca agar memahami senantiasa dengan perspektif ini. Keempat kata yang dijelaskan di bawah ini merupakan kata kunci (keyword) dalam tulisan ini, yang telah disinggung dalam pendahuluan.

a. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha atau proses yang ditempuhkan untuk mengasah potensi dan kepribadian manusia. Potensi itu meliputi intelektual/kognisi (pengetahuan), afeksi (perasaan), konatif/psikomotorik (perilaku), moralitas, spiritualitas dan kejasmanian. Usaha ini dijalankan oleh berbagai figur dalam berbagai wadah. Dimulai dari pribadi terkait hingga figur lainnya dan dimulai dari dalam keluarga hingga lembaga lainnya. dan dalam tulisan ini disebutkan pendidikan berkarakter, yang dimaksdukan adalah keseimbangan yang terjadi dalam aspek serta oleh figur dan lembaga yang dimaksudkan di atas.

b. Keluarga
Ada begitu banyak pengertian tentang keluarga. Penulis membatasi diri dengan pengertian keluarga sebagai kumpulan orang yang terdiri dari seorang ayah-ibu dan anak-anak kandung atau yang dikandungkan. Sebutan keluarga harmonis dimaksudkan dengan terlibatnya figur-figur ini sesuai dengan skala atau porsi atau kepasitas mereka dalam menunjang nilai-nilai hidup yang teraplikasi melalui aspek-aspek yang telah disebutkan pada poin tentang pendidikan.

c. Karakter
Secara psikologis, karakter mengacu secara tegas pada watak dan kepribadian seseorang. Karakter ini dinilai dari perspektif etis-moral dalam relasi sosial. Karakter berotensial etis-moral, maka dari itu segala tindakan yang menyimpang atau menentang keeksisan nilai, itulah bukan berkarakter. Kita dapat menabur kebiasaan untuk menuai karakter yang baik. karakter itu terbentuk melalui kebiasaan atau habituasi. Karena karakter itu terbentuk dalam waktu dan ruang, maka itu adalah proses yang sedianya haruslah menjunjung tinggi nilai keharmonisan.

d. Globalisasi
Global artinya umum; mendunia; keseluruhan. Sering muncul ungkapan skala mondial artinya suatu ukuran yang sudah mendunia. Dari pengertian ditemukan banyak makna di dalamnya. Tentu tidak semuanya bermaksud jahat atau buruk bagi keesiksan manusia. Tetapi di balik itu, ditemukan adanya tawaran kuat, sekuat daya dorong arus global yang nyatanya telah lama tiada batasan. Karena ketiadaan batasan yang jelas, maka siapa saja boleh mendapatkan apa saja dengan apa saja.

C. REALITAS TANTANGAN PENDIDIKAN DALAM KELUARGA DAN KONSEKUENSINYA
Era global kini membawa sumbangsih positif ikut menegakan dan memudahkan ruang akses manusia tetapi di samping itu membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Pada bagian ini diuraikan beberapa problem sebagai tantangan dalam pendidikan terhadap manusia secara khusus dalam keluarga

a. Broken home (keterpecahan rumah tangga)
Keterpecahan keluarga sangat mempengaruhi psikologi keutuhan keluarga. Seorang anak akan sangat terganggu jika ayah-ibu dan keluarga terpecahan entah karena selingkuh ataupun karena persoalan lainnya. Pendidikan yang berjalan dalam situasi seperti ini menjadi sangat tidak efektif. Anak-anak justeru lebih pada tergiur dengan rasa kekecewaan mendalam akan perilaku atau kenyataan yang terjadi. Keutuhan mendidik tidak dapat diperoleh secara inetnsif karena tidak datang dari sumber yang nyaman-harmonis dan terpercaya. Jika sumber itu adalah sebuah keluarga harmonis, maka pendidikan yang integral pun mengalami ancaman serius karena faktor kejanggalan yang terjadai dalam keluarga yang dalam tulisan ini dimaksdukan adalah broken home.

b. Asal Bapak Senang
Ungkapan ABS sungguh tidak lagi asing, bahkan untuk sebagian bapak juga sangat diakrabi. Ungkapan ini mengacu pada adanya perilaku hedonis (kesenangan semata) yang figur acunya adalah para bapak; para bos; para pemimpin berjenis kelamin pria sekaligus berjiwa jantan. Asal bapak senang, entah itu melanggar kodrat atau moral atau iman, itu tidak penting. Jika terjadi demikian, maka bagaimana kita dapat memikirkan adanya pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian atau karakter anak-anak? Apa situasi ini benar memberi nilai harmonis dalam keluarga secara khusus bagi anak?

Ada begitu banyak cara keterwujudan dari ABS. Hal itu banyak dilakukan sekaligus banyak dialami secara menyakitkan. Banyak bapak suka berjudi, suka selingkuh, suka miras, suka narkoba, suka seks brutal. Tidak berarti bahwa tidak ada ibu yang demikian, tetapi hal ini memang terfokus sesuai dengan sub bab ini.

Terjadi begitu banyak erosi etika (pengikisan nilai oleh perilaku amoral-abnormal). Pelukaan terhadap nilai ini akhir memungkinkan para formandi untuk secara langsung telah tak berdaya.

c. Selingkuh
Jika kita membaca di internet atau di surat kabar harian, kita menemukan ada begitu banyak kasus perselingkuhan yang terjadi. Pernahkan adanya sebuah penelitian membuktikan seberapa dalam terganggunya psikologi etis anak jika berhadapan dengan perilaku orang tua seperti itu? Bagaimana pendidikan integral dapat berjalan, jika tak seia-sekata. Apa selingkuh itu mendidik. Apa penyimpangan moralistik relasi ini, menjamin keutuhan pribadi anak.

d. Kesibukan dengan peran dan tugas
Pendidikan dalam keluarga sering tidak efektif dan intensif karena para pendidiknya tidak memiliki banyak waktu yang berdampak secara langsung pada minimnya perhatian terhadap anak-anak. Bahwa pendidikan bukan hanya pada soal kuantitatif tetapi yang lebih utama adalah kualitatitifnya. Seberapa dalam nilai yang ditawarkan atau ditanamkan itu memang jauh lebih pentinga daripada berapa banyak yang ditawarkan. Menjadi catatan kritis bahwa mendalamnya penanaman sebuah nilai juga sangat bergantung pada luasnya peluang dan banyaknya waktu serta ketulusan para formator dan juga keteladanan hidup.

Ditemukan banyak orang tua terikat dan benar-benar melayani tugas dan peran profesi dan sebagai konsekuensinya hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian yang minim terhadap anak-anak. Dalam situasi ini, tidaklah dengan mudah dipersalahkan para orang tua. Tetapi yang pasti bahwa perhatian dan kasih sayang yang mendalam dan intensif sangat mempengaruhi kenyamanan bathin anak, yang kemudian dapat tersalurkan melalui karakter berperilaku yang membawa kenyamanan bagi pihak lain dan pihak luar.

e. Laizzes Faire (membiarkan saja berlalu)
Istilah semboyan ini sebenarnya dikhususkan bagi para pemimpin dengan gaya kepemimpinannya adalah membiarkan saja bawahan mengurus semuanya. Terdapat kepercayaan begitu besar tetapi juga membuka peluang dan ruang individualistik sesuai dengan kepentingan yang paling penting. Gaya ini dalam terapan pendidikan keluarga khususnya, lebih banyak dampak negatifnya. Anak-anak dibiarkan berkembang tanpa kontrol dengan alasan mendasarnya adalah mendidik melalui cara mereka.

Bahayanya, jika anak mengambil cara berkembangnya melalui hal tidak senonoh. Contoh anak muda era kini banyak mengukur kedewasaan melalui mampu miras-ngerokok, narkoba, seks bebas dan kenakalan remaja. Jika tidak mampu demikian, maka itu tidak jantan.

Hal demikian jika dibiarkan hingga mendarah daging sudah secara otomatis karakter moral tidak terbentuk karena musnah termakan nafsu hedonistik itu.

D. PENDIDIKAN BERKARAKTER UTUH-KELUARGA BERKARAKTER HARMONIS
Meskipun berhadapan dengan berbagai tantangan seperti yang telah diuraikan di atas, tetapi keinginan untuk terus mendidik secara utuh harus jauh lebih kuat dalam bingkai optimis. Ada tantangan tetapi yang lebih dibutuhkan itu haruslah prose menuju solusinya. Menghadapi realitas itu sambil mengikuti kehendak judul tulisan ini, akan dibahas secara mendetail dan praktis tentang pendidikan yang ideal dalam era kini.

a. Aspek-aspek pendidikan

•Kognitif
Aspek ini berkaitan erat dengan proses pembekalan yang intens terhadap akal budi atau intelektual. Di sini diuji daya kritis, logis dan sistematis. Banyaknya informasi serta daya ingat dan daya menyimpan berkaitan erat dengan aspek kognitif ini. Sering muncul pernyataan bahwa urusan seperti menjadi khas dalam pendidikan formal karena itu pada lembaga informal seperti keluarga kurang porsi perhatiannya. Hal demikian boleh dikatakan keliru karena justeru tahap perkembangan intelek anak itu secara biologis ada pada usia di mana sangat membutuhkan perhatian yang intens dalam keluarga.

Kepada anak-anak mesti diajarkan untuk memiliki sikap kritis-selektif dengan cara dan bahasa yang mudah dipahami. Sikap kognisi mesti ditanamkan sejak semula. Pengetahuan mesti ditekankan secara harmonis, bukan hanya pada sekedar banyaknya mengetahui tanpa aplikasi dalam hidup. Setiap informasi yang diketahui mesti dijadikan sebagai formasi inspirasi guna membina. Ana-anak tidak hayan diajar untuk tahu membaca, menulis, menghitung dan berbicara tetapi juga kepada mereka mesti ditanamkan adanya kebiasaan integatif-aplikatif; kebiasaan memadukan dan mempraktekkan dalam hidup keluarga dan hidup sosial.

• Afeksional
Aspek ini dapat disebut juga dengan aspek rasa atau perasaan. Dalam konteks tertentu dapat langsung diterjemahkan dengan kasih sayang. Anak-anak perlu dididik dan dibina senantiasa dalam bahasa nilai, agar rasa mereka benar tersentuh dan hidup mereka juga benar diperbaharui. Sering segala persoalan kemandegan karakter itu terjadi justeru merupakan pelampiasan secara tertentu sebagai konsekuensi dari kehilangan perhatian kasih sayang. Padahal, karakter itu sebagian besar didiami oleh afeksionalitas manusia.

Manusia secara khusus kita semua sebagai anak didik yang samanya bergumul dalam dunia perbaikan karakter ini sering saling membaharui dalam perspektif saling mengena antar rasa. Perasaan yang menyenangkan dalam keluarga atau bersama dengan teman akan dengan sendirinya memiliki daya dorong terhadap perilaku yang baik kepada mereka. Sentuhan afeksif akan lebih muda dirasakan jika dipersandingkan dengan perihal kognitif yang terkadang lebih membuthkan banyk waktu dan tenaga untuk dipikirkan dan dilakukan.

• Psikomotoric
Aspek ini berkaitan erat dengan perilaku sesorang. Dengan kembali mengulang pernyataan Filsuf Whitehead pada bagian pendahuluan, dalam kesempatan ini ingin dibahas secara khusus. Bahwa pendidikan atau penanaman nilai, harus benar berakar agar mendasari segala perilaku manusia. Apa yang diketahui secara baik dan benar mesti memiliki anak kandungnya adalah berperilaku yang juga baik dan benar.

Diakui bahwa adanya keterlepadan epistemologis atau kesenjangan antara pengetahuan ketika ingin ditransfer dalam bentuk perilaku, tetapi dengan itu tidak menjadi alasan bahwa hal senada itu dilumrahkan begitu saja. Apa pun pemahamannya, yang nama kebijaksanaan dan kebajikan hidup itu adalah ada pada satunya kata dan laku. Jiwa yang abada itu harus mampu mengerakkan tubuh ini agar dapat berperilaku sesuai dengan format tubuh dalam terang jiwa.

Dalam berperilaku dapat mengacu pada prinsip moral universal yakni lakukanlah yang baik dan hindarilah yang jahat. Dalam refleksi filosofis ditemukan adanya ungkapan yang mendalam maknanya. Misalnya aku atau engkau adalah apa yang aku atau engkau lakukan. Kita adalah apa yang kita lakukan. Kita berkarakter jika apa yang kita lakukan itu benar mengacu pada nilai karakteristik manusia.

• Spiritual
Spirit artinya kekuatan atau semangat. Siritual dalam arti praktis mengandung arti kerohanian yang menjadi kekuatan dasar dalam hidup dan setiap proses manusia. Terlalu banyak terjadi pelukaan secara kejam terhadap karakter justeru karena ruang kerohanian itu kian melemah termakan arus globalisasi dengan tawaran lebih memudahkan lagi berbaur hedonistik banget. Doa dan pelayanan sering diabaikan karena itu menjadi urusan para katekis, guru agama dan para pastor atau pendeta. Bahkan ruag rohani sering dijarangkan karena masih begitu banyak kesibukan perlu yang langsung bersentuhan dengan pertahanan kehidupan secara biologis. Anak sering diinstruksikan bahwa dijaga untuk lebih banyak belajar tanpa memperhatikan keseimbangannya dengan berdoa atau jenis kegiatan rohani lainnya.

• Jasmaniah
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefenisikan jasmani sebagai yang berkaitan dengan tubuh. Tubuh perlu diolah secara menurut caranya agar dapat berkenaan dengan jiwa manusia demi menciptakan keharmonisan dalam hidup. Pengolahan fisik yang seimbang ikut menentukan kondisi kesehatan yang dapat memungkin seseorang untuk dapat mencerna setiap ilmu. Perihal jasmani terhadapnya dapat dikenakan banyak hal. Terdapat banyak aktivitas sebagai keterwujudan dari penjamanian. Makan, minum, olahraga, kerja dan semua aktivitas fisik merupakan proses menjasmani.
Kesehatan tubuh secara utuh menjadi wadah yang subur bagi perkembangan jiwa. Kekuatan jiwa yang utuh dan dapat berlaku bagi kita, hanya dapat dipahami dan dirasakan melalui tubuh.

• Moralitas
Moral berasal dari kata bahasa latin; mores artinya kebiasaan. Kata moralitas setiap kali digunakan dimaksudkan untuk menjelaskan adanya kebiasaan baik-buruk. Kebiasaan yang baik itu dipertahankan menuju pada ditingkatkan. Sedangkan kebiasaan buruk itu dihindari menuju pada dihilangkan. Di sinilah kita dapat memahami secara baik dan benar tentang prinsip universal moral, yakni lakukanlah yang baik dan hindarilah yang jahat.

Setiap kali pembicaraan tentang karakter, justeru menjadi kuat karena moralitas menjadi pendasarannya. Karakter sering dinilai hanya berdasar pada perihal nilai etis-moral. Hal ini tidak salah tetapi juga tidak utuh semuanya. Contoh : menipu, atau mafia atau suka memprovokasi. Hal ini tentu tidak sepadan dengan kebiasaan atau moralitas hidup seharian. Tetapi bisa saja ada pertimbangan lain dari bidang yang berbeda. Mengapa menipu, atau melakukan pelanggaran manusiawi.

Secara keseluruhan terhadap aspek-aspek ini, demi menggapai keharmonisan agar pendidikan itu dari dalamnya berstatus berkarakter, maka perlu diperhatikan secara serius. Pendidikan itu berkarakter justeru karena adanya penghargaan terhadap keutuhan dan keseimbangan dalam proses penerapannya dalam berbagai bidang seperti yang telah disebutkan di atas.

b. Keharmonisan dalam Keluarga
Pada sub judul tulisan ini, ada tentang keluarga berkarakter harmonis. Harmonis atau keseimbangan. Adanya keluarga yang seimbang, mudah menciptakan suasana harmonis bagi anak-anak. Dibawah ini akan dipaparkan secara praktis tentang bagaimana memahami tentang keluarga berkarakter harmonis. Keluarga baru dikatakan keluarga harmonis, jika memang dalam kenyataannya demikian. Dalam kehidupan keluarga selalu tercipta situasi harmonis, aman, damai, tenang dan juga fleksiball.

Keharmonisan sebuah keluarga tidak pernah diukur dari sekedar banyak atau sedikitnya konflik internal yang terjadi. Lebih jauh dari itu, apa keluarga benar memperhatikan dalam pendidikan dan pembinaan anak, aspek-aspek seperti yang telah dijelaskan.

Bahwa situasi keluarga sangat berperan penting dalam pengembangan karakter anak. Jiwa akan tersapa secara akrab jika diakrabi dengan sikap dan perilaku harmonis.

E. PRIBADI INTEGRAL
Kepribadian yang utuh selalu mengutamakan atau menempatkan setiap bidang hidupnya pada tempat berbeda dengan porsi atau skala perhatian yang seimbang. Pribadi integral; utuh memiliki perhatian terhadap penjelasan aspek terkait di atas. Seorang yang mampu menyatukan atau mempolakan kata dan laku sebagai yang saling mewujudkan. Pribadi integral memiliki sikap kritis, logis, sistematis, integratif dan kompherensif. Kritis artinya tajam dalam membuat distinksi atau perbedaan. Logis artinya tajam dalam memahami persoalan kausalitas atau sebab-akibat. Jika seperti ini maka harus bagaimana.

Sistematis artinya teratur; kronologis; terpola. Segala sesuatu dalam keteraturan, semakin memudahkan untuk dicermati. Integratif artinya keutuhan; kesatuan. Pribadi integratif harus memiliki kekuatan integratif atau kekuatan untuk menyatukan. Kompherensif artinya saling memiliki hubungan atau keterkaitan.

Pribadi integratif memiliki sikap tanggung jawab, rendah hati, penuh percaya diri. Semuanya ini memiliki kaitang erat dengan aspek-aspek yang telah dijelaskan dalam sub bab tentang aspek-aspek pendidikan.

F. PENUTUP
Mengacu pada judul tulisan saya ini maka dibuatkan suatu kesimpulan singkat bahwa pendidikan semestinya memperhatikan keseimbangannya dalam penekanan terhadap berbagai bidang dan berbagai aspek. Pendidikan harus diberi porsi keseimbangan mulai dari lembaga informal (keluarga), formal (sekolah) dan nonformal (kursus-keterampilan). Keluarga sebagai wadah pertama dan utama sudah harus menyadari hal ini dan menerapkannya terhadap setiap anaknya. Karakter itu tumbuh karena terbiasa, maka setiap anak sudah harus terbiasa sejak dini untuk berperilaku berkarakter bagi dirinya sendiri dan juga bagi diri-diri yang lain.

Pendidikan itu menjadi berkarakter justeru karena penekanan yang utama terhadap keutuhan dan keseimbangannya. Keluarga pun berkarakter karena keharmonisan yang diciptakan dalam penunjangan kepribadian anak. Maka tidaklah sulit untuk menggapai pribagi yang berkarakter integral. Bahwa ada tantangan globalisasi, hal itu memang demikian. Tetapi solusi untuk membaik itu harus jauh lebih kuat daripada sikap dengan mudah saja menyerah untuk digedor.

SUMBER BACAAN:

  • Aunillah, Isna Nurla, Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta : LAKSANA, 2011.
  • Azzet, Muhaimin Akhmad, Pendidikan Yang Memebaskan, Yogyakarta : AR-Ruzz media, 2011.
  • Driyarkara, Nicolaus, Filsafat Manusia, Yogyakarta : Kanisius, 1969.
  • ________, Karya lengkap Driyarkara, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006.
  • Hadis, Abdul, Psikologi Dalam Pendidikan, Bandung : ALFABETA, 2008.
  • Huijbers, Theo, Manusia Merenungkan Makna Hidupnya, Yogyakarta : Kanisius, 1986.
  • Klau, Fauk Nelson, Pendidikan INTEGRAL : Pendidikan Yang Memahami Manusia,Kupang : PT. Grafika Timor Idaman, 2006.
  • Snijders, Adelbert, Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan,Yogyakarta : Kanisius, 2004.
  • Suparno, Paul, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Yogyakarta : Kanisius, 1997.
  • Syukur, Dister Niko, Filsafat Kebebasan, Yogyakarta: Kanisius, 1988.

KAMUS :

  • Sugono, Dendy, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
  • ___________, Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

(Email: neno.yudel@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Sekali Lagi tentang Belajar Broken Home Mencederai Kekokohan Mental Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: