Pendidikan Sebagai Media Pengembangan Dialog Integral

17 Juni, 2016 at 9:40 am

Yudel NenoOleh Fr Yudel Neno SFil
Guru SMK St. Pius X Insana, TTU, NTT, Indonesia

 

Guru bukanlah subyek kebenaran dan murid bukanlah obyek pelampiasan. Guru-murid adalah sesama subyek yang sama di hadapan pencarian ilmu dan kebenaran.
(Fr. Yudel Neno, S.Fil.)

A. PENDAHULUAN
Manusia pada hakekatnya berada secara integral. Karena itu manusia merupakan ‘aku’. Aku berarti utuh. Aku bukan hanya badan; aku bukan hanya jiwa, melainkan aku adalah membadan-menjiwa. Sebagai aku integral, aku membutuhkan locus, tempus dan kronos dalam pembentukan integritas diri.

Media yang ditempuh untuk pembentukan integritas diri adalah pendidikan integral. Pendidikan integral berarti pendidikan yang peduli akan manusia sebagai aku integral. Peduli akan manusia integral berarti pendidikan berkonsentrasi pada jiwa-badan manusia. Pendidikan berkonsentrasi pada pengasahan jiwa dan pemurnian badan. Akal budi, perasaan dan kehendak bebas mnusia merupakan bagian terpenting dari jiwa yang mesti diperhatikan secara serius. Kesehatan fisik berupakan tindakan-tindakan pemeliharaan secara biologis pun tak kalah pentingnya untuk diperhatikan secara serius.

Dewasa ini dalam pertarungan era modern menghadirkan berbagai macam tawaran yang pendidikan pun ikut mendapat imbasnya. Persoalan tentang bagaimana membangun suatu metode pendidikan yang integral mulai mendapat tempatnya. Sudah sejak tahun 2010 Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkatan pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi. Hal ini dilatarbelakangi oleh realitas pendidikan yang dinilai belum bahkan tidak mampu mengantar generasi muda menuju-menjadi pribadi-pribadi yang bermartabat .

Realitas seperti ini akhirnya mendorong semua pihak untuk mulai melihat dan menekuni pendidikan karakter dengan porsi yang lebih.

B. PENDIDIKAN BERKARAKTER DIALOGIS-ETIS
Sebuah pendidikan harus sampai mengantar seseorang untuk bebas dari segala jenis keterkungkungan yang tak bernilai dan merugikan, demikian hal ini ditegaskan oleh Paulo Freire. Pendidikan harus sampai pada tingkat penyadaran yang membebaskan. Untuk mencapai pendidikan yang membebaskan ini diperlukan aktifnya metode dialogis-etis dan konsensus diantara siswa-guru, mahasiswa-dosen. Setiap peserta didik harus ditempatkan pada posisi dialog dalam tataran etis. Artinya para formator tidaklah efektif jika berdiri pada posisi menindas untuk dapat menuju pendidikan berkarakter. Salah satu kekhasan dari pendidikan karakter adalah proses pendidikan itu menghargai peserta didik apa adanya bukan ada apanya. Jika pendidikan berdasar pada ada apanya maka suatu saat pendidikan akan mengalami “kesabaran keburu” ketika berhadapan dengan mereka yang memang sangat terbatas kemampuannya.

Pendidikan dialogis-etis mengandung pengertian bahwa setiap formator haruslah menempatkan “metode berbicara dalam bahasa nilai”. Hal-hal yang baik dan bersifat konstruktif haruslah disampaikan secara dialogis dengan tetap memperhatikan etiket terhadap para formandi. Pendidikan berbasis “berbicara dalam bahasa nilai” dijelaskan dalam beberapa aspek pengembangan di bawah ini :

a. Pengembangan Koginitif
Akal budi diasah dengan cara mendialogkan hal-hal yang berat dan membutuhkan banyak usaha dan pertimbangan. Kekhasan aspek kognisi harus teruji melalui daya mengenal, menangkap, menyimpan, mengingat, memahami serta terungkap secara eksplisit melalui publik speaking dan juga public writting.

b. Pengembangan Afeksional
Perasaan diasah dengan cara mendialogkan dan menghadirkan segala metode dan realitas yang membutuhkan analisis afeksional. Terhadap peserta didik perlu dididik secara afeksional. Karena pada saat tertentu afeksionalitas dari manusia dapat menyumbangkan ilmu bagi akal budi dan membawa perlakuan praktis terhadap relasi sehari-hari.

c. Pengembangan Konatif dan Psikomotorik
Seluruh proses a priori mengalami ketertampakkannya dalam realitas hidup sehari-hari bersama dengan yang lain. Dalam keseharian, pendidikan karakter bertujuan untuk membuahkan perilaku-perilaku yang terlihat (empirik). Perilaku yang dilakukan serta peruntukkannya, menempatkan penghargaan terhadap manusia sebagai dasar dan terutama. Pengembangan aspek konatif (kehendak bebas) mestinya memiliki kontinuitas etis antara hal dengan perilaku sehari-sehari. Apa yang baik dan dikehendaki menjadi dasar pijakan atau menjadi kompas bagi perilaku sehari-hari. Perilku mestinya mencerminkan sebuah kehendak baik.

d. Ketiganya ditempuh dengan metode dialogis-etis
Bagaimana mengedepankan metode dialogis-etis terhadap keempat ketiga aspek ini dalam kehidupan sehari-hari?
• Perlu dibangun suatu komunikasi intersubjektif antara formatur dan formandi. Hal ini dapat dijelaskan dengan dialogis-etis. Bahwa metode berdialog dengan siswa akan sangat membantu mereka untuk menemukan sendiri apa yang mereka mau lakukan (self-discovery). Mereka dibimbing untuk sadar akan diri sendiri sebagai figure yang sedang dan mau belajar. Tetapi bukan berarti formatornya lepas kontrol.
• Aspek kognitif perlu dirangsang dengan diskusi-diskusi atau pengajaran yang sederhana tetapi membutuhkan daya analisis yang mendalam, kritis-logis-sistematis.
• Aspek afeksional perlu dirangsang dengan menghadirkan realitas yang membutuhkan daya afeksi yang tinggi agar formandi menjadi semakin harmonis dalam dirinya sendiri dalam dalam kaitannya dengan orang lain.
• Aspek konatif (kehendak bebas) perlu mendapat penekanan moralnya dalam proses pendidikan kognitif dan afeksional. Segala perilaku haruslah merupakan keterwujudan dari kehendak bebas formandi.

C. PENDIDIKAN BERMUARA PADA ACTUS HUMANUS
Ada perbedaan antara actus humanus dan actus hominis. Keduanya sama-sama menempatkan aspek behavioral atau perilaku manusia sebagai ukuran untuk menilai pribadi manusia. Actus humanus berkaitan dengan tindakan sadar manusia yang dapat dan harus yang dipertanggungjawabkan. Karena itu suatu tindakan disebut actus humanus jika dapat diukur dengan memenuhi persyaratan Mau-kehendak bebas, tahu, mampu dan tanggung jawab. Suatu tindakan dilakukan dengan mau atau kehendak bebas, dengan tahu, dengan mampu dan dengan penuh tanggung jawab, tindakan ini merupakan sebuah actus humanus.

Actus hominis berkaitan dengan tindakan manusia yang tidak disadari secara moral dan pada umumnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pendidikan bermuara pada actus humanus berarti pendidikan harus mampu menciptakan pribadi-pribadi yang tindakan-tindakan mereka dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan wujud yang tampak dari akal budi, kehendak bebas dan perasaan dengan mengambil bentuknya melalui mau, tahu, bebas, mampu dan tanggung jawab.

Tulisan ini akan difokuskan untuk membahas khusus tentang actus humanus. Actus humanus meliputi aspek-aspek di bawah ini :

a. Kehendak bebas-Kemauan
Antara mau dan tahu, kemauan lebih kuat. Saya tahu tetapi belum tentu saya mau. Saya tahu bahwa ada hal yang baik tetapi belum tentu saya berperilaku menurut apa yang saya tahu itu. Kemauan merupakan aktifitas kehendak. Ukuran untuk seseorang terkategori sebagai pelaku actus humanus adalah ketika seseorang dengan bebas dan mau untuk bertindak-melakukan suatu perbuatan. Wujud perbuatan itu merupakan wujud bebas (liberium arbitrium) dari kehendak (voluntar) dan wujud kemauan sesorang.

b. Tahu dan mampu
Tahu merupakan aktifitas dari akal budi. Segala yang saya tahu berupa informasi entah dari buku, pengalaman maupun diskusi belum tentu mengantar atau memampukan saya untuk sampai pada sebuah perilaku menurut apa yang saya tahu. Inilah sebuah ‘keterlepasan epistemologis.’ Walaupun demikian, akal budi dan pengetahuan yang dimiliki tetap menjadi forma atau penggerak untuk setiap apa yang dilakukan.
Apa yang diketahui tentang sesuatu yang baik dan mampu saya wujudkan pada suatu perilaku yang baik, inilah sebuah kebijaksanaan manusia. Mungkin inilah yang disebut oleh Prof. Dr. Loius Leahy, sebagai “Dari pengetahuan menuju pada kebijaksanaan.”

c. Tanggung jawab
Kehendak bebas melekat erat dengan tanggung jawab. Bertanggung jawab berarti mampu menerima kepercayaan, efektif dalam melakukan sebuah tugas sampai tuntas serta siap dan mampu menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang diberikan atau apa yang dilakukan.
Tanggung jawab berarti mampu memberikan jawaban dan siap menanggung segala akibatnya. Tanggung jawab merupakan suatu keadaan wajib untuk menanggun segala sesuatu entah itu kepercayaan terhadap tugas yang telah diberikan atau terhadap apa yang telah dilakukan.

D. PEMBATHINAN PENDIDIKAN DIALOG INTEGRAL DAN ACTUS HUMANUS
Pendidikan berbasis dialog integral dan bermuara pada actus humanus, berarti pendidikan tidak lagi menjadi ajang untuk mengutuk atau menyudutkan peserta didik. Dosa pendidikan akan muncul jika proses pendidikan diperlakukan secara sepihak dengan menciptakan beban psikologis bertingkat-tingkat pada peserta didik melalui sikap dan perilaku otoriter serta tekanan-tekanan ekstrim.
Pendidikan menjadi ruang dialog interaktif. Segala yang dicari dan segala yang dilakukan serta segala persoalan yang mau diselesaikan semestinya diselesaikan dalam ruang lingkup pendidikan berbasis dialog interaktif.

Pendidikan diaolig interaktif ini mampu mencitpakan pribadi-pribadi yang bebas dan penuh tanggung jawab terhadap tindakannya. Bebas mengandung dua dimensi yakni bebas dari dan bebas untuk. ‘Bebas dari’ berarti bebas dari segala tekanan demi melakukan sebuah tindakan dan ‘bebas untuk’ berarti bebas untuk melakukan sebuah tindakan moral. Bebas untuk bertindak pun melekat erat dengan prinsip bahwa segala tindakan yang dilakukan harus disadari terlebih dahulu apa akibatnya dan tindakan itu merupakan sarana perwujudan diri sebagai ada yang bermartabat. Hanya dalam pemahaman inilah kita dapat menjelaskan tentang ‘konsep bebas untuk’, sehingga secara otomatis terhindar dari tindakan bebas yang berlebih-lebihan.

Pendidikan sebagai media dialog interaktif berarti pendidikan merupakan sebuah proses pencarian bersama untuk saling melengkapi. Guru bukan tuan dan siswa bukan lagi hamba melainkan guru dan murid adalah sesama subyek yang sama martabat. Guru bukan subyek kebenaran dan murid bukan obyek pelampiasan. Guru dan murid adalah subyek-subyek yang sama di hadapan sebuah pencarian akan ilmu dan kebenaran. Pemberlakuan paham ini akan memudahkan pendidikan sebagai ajang untuk berdialog bersama. Walaupun demikian, tidak hanya dengan dialog tetapi dialog yang integral. Dialog yang integral berarti dalam dialog pendidikan itu diperhatikan aspek-aspek seperti yang telah dibahas. Perhatian terhadap dialog integral inipun seringkali tidak cukup karena perbedaan atau diskriminasi khusus pada aspek-aspek tertentu. Maka lebih dari dialog integral, dibutuhkan juga pertimbangan etis atau kebijaksaan dalam dialog agar semua aspek didialogkan tetapi didialogkan secara harmonis.

E. PENUTUP
Pendidikan sebagai media pengembangan dialog integral menuju penyadaran manusia. Apa maksudnya? Pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia. Proses pemanusiaan manusia berarti pendidikan mampu mengantar manusia untuk sadar akan dirinya sebagai manusia. Sehingga manusia disebut ada yang berkesadaran. Pendidikan sebagai media dialog integral berarti pendidikan menjadi ruang untuk pendidik dan peserta didik melakukan dialog-interaktif secara bersama dalam mencari ilmu dan memecahkan sebuah persoalan hidup. Dialog interaktif yang dimaksudkan adalah kerja sama sama untuk meningkatkan aspek kognitif (pengetahuan), aspek afeksional (perasaan), aspek konatif (kehendak bebas) dan aspek psikomotorik (sikap dan perilaku) peserta didik entah melalui dialog verbal maupun dialog kehidupan atau kesaksian hidup para pendidik serta peserta didik.

Jika kerja sama ini berjalan baik, maka para peserta didik akan diantar menuju pada suatu kesadaran yang bernilai tanggung jawab. Berkat kerja sama yang baik, mampu mengantar peserta didik untuk bertindak dengan sadar akan martabatnya sebagai manusia serta mampu mempertanggungjawabkan tindakannya secara sadar, tahu, mau, bebas dan mampu. Inilah maksudnya ketika mau dibicarakan tentang Pendidikan sebagai media pengembangan dialog integral menuju penyadaran manusia. Peserta didik harus diantar untuk mengalami pendidikan sebagai ruang penuh kesadaran yang membebaskan.

SUMBER BACAAN:

  • Suparno, Paul, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan,
    Yogyakarta : Kanisius, 1997.
  • Klau, Fauk Nelson, Pendidikan INTEGRAL : Pendidikan Yang Memahami Manusia, Kupang : PT. Grafika Timor Idaman, 2006.
  • Syukur, Dister Niko, Filsafat Kebebasan,Yogyakarta: Kanisius, 1988.
  • Hadis, Abdul, Psikologi Dalam Pendidikan,Bandung : ALFABETA, 2008.
  • Aunillah, Isna Nurla, Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta : LAKSANA, 2011.
  • Azzet, Muhaimin Akhmad, Pendidikan Yang Memebaskan, Yogyakarta : AR-Ruzz media, 2011.
  • Huijbers, Theo, Manusia Merenungkan Makna Hidupnya,Yogyakarta : Kanisius, 1986.
  • Driyarkara, Nicolaus, Filsafat Manusia,Yogyakarta : Kanisius, 1969.
  • Snijders, Adelbert, Antropologi Filsafat Manusia paradoks dan Seruan,Yogyakarta : Kanisius, 2004.

(Email: neno.yudel@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Mengenal Konsep Diri Anak Sekali Lagi tentang Belajar


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: