Mengenal Konsep Diri Anak

17 Juni, 2016 at 9:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Secara fisik, Brata mempunyai bentuk tubuh yang dianggap oleh teman-temannya kurang ideal. Namun, Brata merasa dirinya mempunyai kemampuan dan kepercayaan diri yang tinggi. Setiap ada kegiatan di sekolah yang berupa lomba atau pertandingan, baik di bidang akademika maupun olahraga, dapat dipastikan Brata mengikutinya, dan berupaya agar meraih kemenangan.

Sementara, Dahana dianggap oleh teman-temannya mempunyai bentuk fisik yang ideal. Tetapi, Dahana merasa tidak percaya diri bila menghadapi kegiatan yang bersifat lomba atau pertandingan, baik di bidang akademika maupun olahraga. Ia lebih senang menjadi penonton saja.

Ilustrasi di atas, mau menunjukkan bahwa ada anggapan dari orang lain tentang gambaran diri Brata dan Dahana. Sekaligus Brata dan Dahana sendiri mau menunjukkan gambaran diri yang dilihat oleh dirinya sendiri. Hal tersebut, oleh Ria Hilmiati Drajat dan Elizabeth B. Hurlock, disebut konsep diri.

Apa yang dimaksud dengan konsep diri ?
Yang dimaksud dengan konsep diri, adalah pandangan dan penghargaan terhadap diri sendiri (Ria Hilmiati Drajat, 1982).

Selanjutnya, Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Anak-Jilid 2, mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki orang tentang diri sendiri, yang mencakup citra fisik diri dan citra psikologis diri. Citra fisik diri berkaitan dengan penampilan fisik dan daya tariknya. Citra psikologis diri didasarkan atas pikirtan, perasaan, dan emosi.

Apabila anak melihat gambaran diri dan menghargai dirinya secara positif, maka pengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan sosialnya, antara lain : membuat anak bangga; memingkatkan motivasi untuk berhasil di masa mendatang; membuat anak mau membantu orang lain; mendorong anak untuk mencari tantangan baru; mendorong anak untuk menjadi mandiri; membuat anak gembira dan bahagia.

Berikutnya, apabila anak melihat gambaran diri dan mengharghai dirinya secara negatif, maka poengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan sosialnya, antara lain : membuat anak tidak yakin akan kemampuannnya; membuat anak malu dan canggung; melemahkan motivasi untuk berusaha; membuat anak murung dan tidak bahagia.

Berdasarkan pembelajaran di atas, maka peran orangtua dan guru dalam mendampingi anak sangat diperlukan, agar anak semakin mengenal benar tentang konsep dirinya secara positif, kepribadiannya, dan sikap sosialnya semakin berkembang.

Referensi:

• Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak-Jilid 2, Penerbit Erlangga, Edisi Keenam, Jakarta.
• Ria Hilmiati Drajat, Tanya Jawab Psikologi Sosial, penerbit Armico, cetakan Pertama, Bandung, 1982.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Belajar Mencerna Kata-kata Pendidikan Sebagai Media Pengembangan Dialog Integral


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: