Belajar Mencerna Kata-kata

14 Juni, 2016 at 9:51 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dengan kegiatan, yaitu bicara. Berbicara berarti kita menyampaikan kata-kata. Kata-kata yang kita sampaikan tentu mengandung pesan. Hal tersebut, juga berlaku bagi orangtua dan guru. Yang menjadi permasalahan, sebelum kata-kata itu kita sampaikan kepada anak-anak, apakah kata-kata itu telah kita cerna lebih dahulu dengan baik ?

Yang dimaksud dengan mencerna kata-kata dengan baik di sini, adalah memahami pengertian kata-kata dan cara menyampaikan kata-kata. Tentang pengertian kata, hendaknya kata-kata yang akan disampaikan itu telah dipahami dengan benar, dan perlu dipertimbangkan juga dengan daya tangkap anak-anak ketika akan memahami pengertian kata-kata itu. begitu juga tentang cara menyampaikan kata-kata, hendaknya dengan tenang.

Tenang, artinya tidak mengedepankan emosi kemarahan (marah berlebihan- suara kencang dan meledak-ledak), sehingga pesan yang disampaikan akan diterima oleh anak-anak dengan baik pula. Sebaliknya, jika kata-kata yang kita ucapkan belum dicerna dengan baik, hendaknya kita tidak tergesa-gesa untuk menyampaikan kata-kata tersebut kepada anak-anak.

Sebagai contoh, kata-kata yang sering diucapkan oleh orang tua atau guru yang berhubungan dengan kapasitas intelegensia pada anak-anak :

“Pakai akalmu!”.

“Ah, kamu tidak logis!”.

“Lho, pikiranmu kemana?”.

“Rasiomu, mana?”.

Dari kata-kata tersebut, kita bisa uji, apakah kita paham benar dengan kata-kata “akal”, “logis”, “pikiran”, dan “rasio” ? seandainya kata-kata itu telah dipahami dengan benar, apakah anak-anak paham dengan kata-kata itu ? Lebih parah lagi, jika kita tidak paham dengan kata-kata itu, dan anak-anak pun tidak paham dengan kata-kata itu. Atau, jika kita paham dengan kata-kata itu, tetapi cara menyampaikannya kepada anak-anak dengan nada emosional, maka pesan tidak akan bisa ditangkap oleh anak-anak.

Lalu, baiamana cara agar kata-kata yang kita ucapkan, yang berhubungan dengan kapasitas inlegensia pada anak-anak, dapat diterima dengan baik dan pesan bisa ditangkap oleh mereka ? Kita coba seperti contoh berikut :

“Ayo, coba kamu katakan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan!”.

“Nah, masalah yang kamu pikirkan itu, coba kamu sampaikan dengan tertib!”.

“Coba, kamu tenang dan konsentrasi. Saya percaya, yang kamu sampaikan akan menjadi jelas!”.

“Coba, kamu ulang kembali, dan lebih teliti lagi. Pasti, kamu menemukan hasil yang tepat!”.

Mengapa kita perlu mencerna kata-kata dengan baik, sebelum menyampaikan kepada anak-anak ? Beberapa alasan yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran, yaitu :

Pertama, ucapan yang bernada emosional kepada anak-anak, sangat berbahaya dan dapat menjadikan frustasi (Majalah Psikologi Populer-Anda, No. 50, Januari 1981).

Kedua, kebencian terhadap anak menjadi nyata dalam kekerasan suara dan tajamnya kata-kata yang dipakai (M.A.W. Brouwer, 1979).

Ketiga, kata yang “berkualitas”, adalah kata yang mewakili perasaan atau pikiran kita, dan kata itu ada di setiap tarikan nafas kita (Suara Merdeka, 18 Januari 2009).

Keempat, orang bijak mengatakan bahwa ajarkan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak dalam kata-kata (Kompas, 3 Maret 2008).

Kelima, kata-kata adalah doa. Dan, orang bisa dinilai kualitasnya dari kata-kata yang keluar dari mulutnya. Jadi, apa yang kita katakan kepada anak, itulah yang akan terpatri atau tertanam pada anak (Seminar : Smart Teaching With Hypnoteaching, 10 Januari 2010).

Keenam, Socrates, seorang filsuf, mengatakan,”Bukan aku, tetapi katalah yang mengajar”.

Berdasarkan pengalaman, bahwa hasil kata-kata yang telah dicerna dengan baik, dan ketika disampaikan kepada anak-anak, ternyata mereka siap menerima. Perasaan yang mucul dalam diri mereka, antara lain : nyaman, tidak stres, senang, gembira, bahagia, terbangun, diperkuat, didukung, menjadi mau, termotivasi, menang, berguna, bisa melakukan sesuatu, dan sukses.

Sebaliknya, hasil kata-kata yang belum dicerna dengan baik, dan tergesa-gesa disampaikan kepada anak-anak, apalagi jika disertai dengan emosi kemarahan, ternyata mereka tidak siap menerima. Perasaan yang muncul dalam diri anak-anak, antara lain : tidak nyaman, stres, sedih, kecewa, tertekan, dijatuhkan, tidak berguna, tidak berdaya, menjadi tertinggal, muncur, kalah, tidak bisa berbuat apa-apa, gagal, bencil dendam, dan acuh.

Referensi:

• Brouwer, M.A.W.,Kepribadian dan Perubahannya, Penerbit Gramedia,1979.
• Kompas, 3 Maret 2008.
• Majalah Psikologi Populer-Anda, No.50, Januari 1981.
• Suara Merdeka, 18 Januari, 2009.
• Seminar “Smart Teaching With Hypnoteaching, 10 Oktober 2010.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menghadapi Anak Takut, Khawatir, dan Cemas Mengenal Konsep Diri Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: