Menghadapi Anak Takut, Khawatir, dan Cemas

12 Juni, 2016 at 2:55 pm

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah.

 

Pagi hari, biasanya Clara sudah bangun lebih awal. Ibunya mulai curiga atas diri Clara, yang tidak segera bangun pagi seperti biasanya. Lalu ibunya membangunkan Clara. Ibunya ingin agar Clara segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Namun, Clara tetap tidak mau bangun, dan ibunya melihat bahwa Clara seperti anak yang sedang dilanda rasa takut, khawatir, dan cemas. Ibunya ingin tahu, apa yang membuat Clara takut, khawatir, dan cemas ?

“Clara, apa yang kamu rasakan ?” tanya ibu Clara dengan lembut.

“Ibu, saya takut. Saya khawatir. Saya cemas ?” jawab Clara, sambi mengatupkan kedua telapak tangannya, dan memainkan jari-jemari kedua tangannya.

“Mengapa kamu harus takut, khawatir, dan cemas ?” tanya ibu Clara, sambil duduk di tempat tidur, di samping Clara.

“Saya takut bertemu dengan teman dan guru !” jawab Clara, sambil menundukkan kepala.

“Ada apa dengan teman dan guru ?” tanya ibu Clara, dengan sabar.

“Saya merasa bodoh dibanding teman-teman. Dan takut dikatakan bodoh oleh guru !” jawab Clara, yang kemudian disusul dengan tangisan.

Dari gambaran pengalaman Clara seperti tersebut di atas, mari kita dalami apa yang dimaksud dengan takut, khawatir, dan cemas ?

Menurut M.Huasaini B.A dan M.Noor Hs (1981), takut adalah perasaan yang mendorong individu untuk menjahui sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ekstrim dari takut adalah takut yang patologis, disebut phobia.

Lalu, Singgih D Gunarsa (1980) menguraikan bahwa takut merupakan bentuk emosi yang menyadarkan orang akan bahaya dan usaha-usaha untuk menjaga diri terhadap bahaya. Kadang ketakutan sering dikaitkan dengan situasi-stuasi yang sama sekali tidak berbahaya dan sebenarnya biasa saja. Misalnya, takut kepada orang yang tidak dikenal, takut melihat tikus. Sehingga orang itu pun tidak mengerti, mengapa hal yang biasa dapat menimbulkan suatu rasa takut yang begitu hebatnya.

Lebih lanjut dalam buku Tantangan Membina Kepribadian (1989), takut dapat diartikan sebagai suatu perasaan yang ditimbulkan oleh ancaman tertentu yang sudah diketahui, sehingga mendorong orang entah bijaksana atau tidak untuk melarikan diri jika mungkin. Takut adalah suatu perasaan atau emosi. Seperti perasaan yang lain, rasa takut dapat beralasan, tetapi dapat juga tak beralasan.

Tentang cemas, Majalah Psikologi Populer-Anda (No.52, Maret 1981), mengartikan bahwa cemas adalah rasa takut yang tidak mempunyai obyek yang jelas atau tidak ada obyeknya sama sekali. Kecemasan menyebabkan rasa tidak senang, gelisah, tegang, tidak aman, dan tidak tenang.

Dalam buku Tantangan Membina Kepribadian (1989), dikatakan bahwa cemas adalah perasaan khawatir yang terus-menerus dan berlebih-lebihan. Oleh Singgih D Gunarsa (1980), disebutkan bahwa cemas merupakan suatu perubahan suasana hati yang terjadi di dalam diri.

Apa penyebab takut, khawatir, dan Cemas ?
Penyebab takut, khawatir, dan cemas, menurut buku Tantangan Membina Kepribadian (1989), antara lain : anak bertemu dengan seseorang, tempat, atau situasi yang dianggapnya sebagai ancaman; tahu akan mendapat kecelakaan; melihat darah atau ulat; mendengar suara melengking tanpa mengerti sebabnya.

Menurut Singgih D Gunarsa (1980), penyebab takut, khawatir, dan cemas, antara lain : orangtua mendidik anak secara ketat; orangtua terlalu menekan anak agar bisa mencapai tujuan di luar batas kemampuannya; keluarga yang tegang; keluarga yang tidak stabil; kepribadian orangtua yang mudah cemas.
Apa gejala takut, khawatir, dan cemas ?

Menurut Singgih D Gunarsa (1980), antara lain : tiba-tiba wajah menjadi merah; membesarnya pupil mata; perubahan gerak-gerik tubuh; otot-otot terasa kaku; mengunyah-ngunyah benda; menggigit-nggigit bagian tubuh; menggigit orang lain; ngompol; muntah; kehilangan nafsu makan; gangguan tidur; tingkah laku agresif; mudah menangis; ketergantungan yang berlebihan.

Apa akibat takut, khawatir, dan cemas ?
Akibat takut, khawatir, dan cemas, menurut Majalah Psikologi Populer-Anda (No.52, Maret 1981), antara lain : menarik nafas dalam-dalam; jantung berdenyut lebih cepat; berkeringat dingin; kerongkongan jadi kering; tegang; gemetar; peresaan tertekan; pkiran jadi kacau; gelisah; gugup; cepat marah; suka menggigit kuku; merokok terus-menerus; berjalan mondar-mandir; bertingkah yang aneh-aneh; panik.

Dalam buku Tantangan Membina Kepribadian (1989), disebutkan akibatnya, antara lain : susah tidur; menganggu pencernaan; menghabiskan tenaga; mengacaukan akal sehat; mematikan usaha yang sudah jalan; tidak tenang; tidak bisa fokus; merasa rendah diri; menganggap diri sendiri bodoh; tak merasa berguna tanpa alasan.

Dari pembelajaran tentang pengertian, penyebab, gejala, dan akibat seperti yang diuraikan di atas, maka orangtua atau guru perlu mengatahui bagaimana cara mengatasi atau mengurangi rasa takut, khawatir, dan cemas pada anak-anak ?

Caranya, seperti yang diungkapkan oleh Majalah Psikologi Populer-Anda (No.52, Maret 1981), antara lain : sebaiknya otoritas sekolah menghargai anak; anak diberi tempat yang wajar dan diterima sebagai pribadi yang mau berkembang; anak dilatih bagaimana seharusnya berbicara; anak mendapat bimbingan dalam banyak hal; anak diangkat rasa percaya dirinya; anak tak perlu takut bila tak ada alasan untuk takut; jangan menunda usaha untuk mengatasi rasa takut atau rasa cemas pada anak; mintalah bimbingan Tuhan untuk perkembangan pribadi anak.

Referensi :

  • M Huasaini BA dan M Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Sumadi Suryabrata Drs Ba MA EDS Phd, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Edisi Kelima, Jakarta, 2007.
  • Tantangan Membina Kepribadian, Yayasan Cipta Loka Cara, Cetakan Kesepuluh, Jakarta, 1989.
  • Majalah Psikologi Populer-Anda, No 52, Maret 1981.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menghapus Label Anak Bermasalah Belajar Mencerna Kata-kata


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: