Menghapus Label Anak Bermasalah

10 Juni, 2016 at 6:06 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Ketika proses belajar-mengajar sedang berlangsung, guru melihat Tanu membuat ulah. Sehingga guru merasa terganggu, dan dikhawatirkan anak-anak yang lainpun akan terganggu. Lalu guru menegur Tanu dengan mengatakan bahwa dia anak bermasalah dan anak nakal. Pulang dari sekolah Tanu bercerita kepada orangtuanya bahwa ia disebut anak bermasalah dan anak nakal.

Pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, dengan materi puisi, Ratri diminta untuk membawakan hasil karyanya untuk dibacakan di depan kelas. Namun, Ratri tidak mau. Ia hanya geleng kepala, sambil menundukkan kepala. Lalu, guru menyebut Ratri sebagai anak pendiam dan sekaligus pemalu. Sama seperti Tanu, pulang dari sekolah Ratri menyampaikan pengalaman dirinya kepada orangtuanya bahwa ia disebut anak pendiam dan anak pemalu.

Dari ilustrasi tentang pengalaman Tanu dan Ratri, mari kita pelajari istilah : anak bermasalah, anak nakal, anak pendiam, dan akan pemalu. Kemudian, cara kita menyikapinya.

Menurut Ensiklopedia Populer untuk Orang Tua (1978), yang dimaksud dengan anak bermasalah, adalah anak yang belum mampu menampilkan potensi yang dimilikinya dengan baik. Jadi, sebutan yang dikenakan anak bahwa dia adalah anak bermasalah, bukan hanya semata-mata karena anak itu terlihat pada tingkah lakunya yang nakal, tidak pantas, bandel, dan sebagainya. Oleh karena itu, kurang bijaksana jika orangtua atau guru yang pikirannya terlalu fokus pada kesalahan yang dibuat oleh anak.

Tentang sebutan anak nakal, Singgih D Gunarsa (1980) menerangkan bahwa kenakalan anak merupakan tingkah laku anak yang menimbulkan persoalan bagi orang lain. Ada pemahaman tentang kenakalan anak, yaitu : ada kenakalan semu dan kenakalan sebenarnya. Kenakalan semu, yaitu kenakalan anak yang masih dalam batas-batas normal, dan masih sesuai dengan nolai-nilai moral. Kenakalan sebenarnya, yaitu tingkah laku atau perbuatan anak yang merugikan dirinya sendiri atau orang lain, dan melanggar nilai-nilai moral atau nilai-nilai sosial.

Pada kenakalan semu, tidak perlu menimbulkan kekhawatiran orangtua. Karena kekhawatiran yang tidak pada tempatnya, dan belebih-lebihan akan membawa hasil yang tidak menguntungkan bagi perkembangan anak secara keseluruhan. Kekhawatiran orangtua yang berlebih-lebihan sering diartikan oleh anak sebagai penekanan ataupun penolakan. Sebaliknya, pada kenakalan sebenarnya, orangtua perlu menunjukkan kekahwatiran.

Berkaitan dengan sebutan anak pemalu, tidak dapat dipungkiri bahwa guru merisaukan anak didiknya yang sulit diajak komunikasi, dan tidak mau bergaul dengan teman-teman di sekolah. Di rumah anak tidak mau bergaul dengan anak-anak tetangga. Sehingga anak tersebut merasa sendiri, atau bahkan menyendiri. Oleh karena perilakunya, kemudian guru atau orang tua menyebutnya sebagai anak pemalu.

Dalam Ensiklopedi Populer untuk Orang Tua (1978), diungkapkan bahwa malu adalah salah satu bentuk rasa takut. Banyak anak, bila bertemu dengan orang yang bukan anggota keluarganya menjadi sangat malu, jantung berdebar-debar, muka memerah, keringat bercucuran, dan tingkah laku serba kaku.

Selanjutnya, majalah Psikologi Populer-Anda (No.48, Desember 1980), menekankan bahwa anak pemalu adalah anak yang berusaha untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan.
Penyebab anak menyimpan rasa malu, antara lain : anak terlalu dilindungi; anak tidak diberi kesempatan untuk bergaul dengan anak lain; anak merasa dirinya luar biasa atau melebihi anak-anak lain.

Upaya agar anak tidak malu, peranan orangtua sangat dibutuhkan, antara lain : tanggapi perkataan anak secara sungguh-sungguh dan diperhatikan. Jangan memotong perkataan anak-anak, sebelum anak selesai mengatakan maksudnya. Beri kesempatan kepada anak agar berani mengutarakan pendapatnya. Beri kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan kawan-kawannya. Beri pujian ketika anak meraih prestasi, tetapi jangan menyanjung terlalu tinggi, sehingga anak menjadi sombong dan meremehkan orang lain. Jika anak secara jasmani memiliki kekhususan, lebih-lebih yang dapat dianggap sebagai kekurangan, maka ia membutuhkan support dari orangtua atau guru.

Masih tentang sebutan anak pemalu dan anak pendiam, seperti yang diungkapkan dalam Tantangan Membina Kepribadian (1989), bahwa masih ada yang mencampuradukkan pengertian pada sebutan anak pemalu dengan anak pendiam. Sebaiknya, dibedakan antara pengertian pemalu dan pendiam. Sifat pendiam merupakan sifat pembawaan, sedangkan sifat pemalu tidak.

Tampilan anak pemalu, adalah mudah gelisah, dan mudah tersipu-sipu. Sedangkan tampilan anak pendiam, adalah tak banyak bicara, tetapi yakin pada diri sendiri; tidak takut pada orang lain, tetapi membatasi pada orang yang bisa dipercaya saja; sewaktu-waktu lebih senang sendiri, supaya dapat menekuni hobi dan minatnya; bisa bekerjasama dengan orang-orang yang lebih tua.

Dari pembelajaran seperti tersebut di atas, maka kita semakin mampu dan bijaksana untuk tidak begitu mudah memberi label kepada anak-anak sebagai anak bermasalah, anak nakal, anak pemalu, dan anak pendiam. Mengingat bahwa label negatif yang kita berikan kepada anak, ternyata tertanam dalam pikiran dan perasaan mereka.

Referensi:

  • Tantangan Membina Kepribadian, Yayasan Cipta Loka Cara, Cetakan Kesepuluh, Jakarta, 1989.
  • Singgih D Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cetakan Keempat, 1980.
  • Ensiklopedi Populer untuk Orangtua, Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka dan Yayasan Kanisius, Yogkakarta, Cetakan Kedua, 1978.
  • Majalah Psikologi Populer-Anda, No. 48, Desember 1980

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Gerakan Literasi Sekolah Menghadapi Anak Takut, Khawatir, dan Cemas


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: