Menghadapi Anak Marah atau “Ngadat”

8 Juni, 2016 at 12:00 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah.

 

Ketika ada anak yang marah, entah ditujukan kepada kita atau orang lain, kadang kita terpancing untuk membalas dengan kemarahan. Nah, ketika kita sedang marah, kadang kita juga lepas kendali dengan mengucapkan kata-kata yang semakin menambah kemarahan anak, dan akhirnya kemarahan di kedua belah pihak tidak kunjung reda.

Sebenarnya, marah adalah bagian dari ungkapan perasaan. Oleh karena itu kita harus bisa menerima munculnya rasa marah dari dalam diri kita, dan kemarahan dari orang lain.

Sumber utama dari kemarahan adalah adanya masalah yang menganggu aktivitas diri kita dalam mencapai tujuan. Ketika kita beraktivitas terjadi ketegangan yang tidak kunjung mereda, dan bahkan semakin bertambah. Untuk menyalurkan ketegangan itu individu menjadi marah (M Huasaini dan M Noor Hs, 1981).

Masih ada hubungan dengan kemarahan adalah “ngadat”. “Ngadat” adalah tingkah laku sebagai luapan kemarahan dengan tujuan untuk memaksa atau menguasai orang lain untuk memenuhi keinginannya, mengikuti kehendaknya, bahkan acapkali anak melakukan perbuatan seolah-olah menyakiti orang lain atau menyakiti diri sendiri. Jika anak merasa berhasil dengan cara “ngadat”, maka ia akan menggunakan terus cara ini sampai orangtua tidak bisa menolak permintaan anak (Singgih D Gunarsa, 1980).
Mengapa anak marah atau “ngadat” ? Menurut Singgih D Gunarsa (1980), anak marah atau “ngadat”, karena beberapa alasan, antara lain :

Pertama, anak semasa kecil sering sakit-sakitan. Anak yang semasa kecil sering sakit-sakitan da terus mendapat perhatian atau pengawasan yang khusus, membuat anak merasa dilindungi. Dalam perjalanan waktu, ketika anak itu sembuh dan mulai berkurang perhatian atau pengawasan, amak anak itu tidak bisa menerima perlakuan yang berkurang, ia tetap minta lebih seperti ketika sakit.

Kedua, kemanjaan yang diterima oleh anak di rumah, belum tentu sama ketika anak berada di sekolah. Akibatnya anak berusaha keras untuk menyesuaikan dirinya dengan perlakuan teman-temannya yang berbeda dengan keinginannya. Apalagi sampai anak merasa tidak diterima oleh teman-teman sekolahnya, lalu anak itu menjadi segan sekolah.

Ketiga, anak menerima cara kerja atau cara belajar dengan tata-tertib atau disiplin yang tidak tetap atau berubah-ubah, membuat anak menjadi terpancing kemarahannya.

Keempat, orangtua sering memberi kritikan yang pedas kepada anak-anak. Setiap perbuatan anak yang selalu dinilai bahwa dirinya ada kekurangan, karena tidak teliti atau tidak cermat, dan langsung dilontarkan kepada anak-anak, membuat anak-anak kesal dan kemudian marah.

Bagaimana cara menanggapi atau mengatasi kemarahan pada anak ? Menurut Singgih D Gunarsa (1980), cara menanggapi atau mengatasi kemarahan pada anak, antara lain :

Pertama, sebaiknya orangtua dan guru menangani dengan sikap yang tenang, santai, suasana hati baik, dan penuh pengertian.

Kedua, jangan langsung atau seketika menghentikan kemarahan anak, ketika anak masih melangsungkan kemarahannya.

Ketiga, jangan langsung menginginkan penyesalan anak atas perbuatannya, apalagi masih dalam keadaan marah.

Keempat, sesudah semua reda, dan anak sudah berada dalam suasana hati tenang, anak dapat diajak bicara, ditunjukkan kesalahannya, dan diarahkan ke tingkah laku yang baik.

Dari pembelajaran di atas, maka kita sebagai orang tua atau guru perlu belajar memampukan diri untuk mengelola kemarahan, agar kita tetap terjaga hubungan pribadi dengan orang lain, dan lebih-lebih dengan anak-anak kita. Jadi ketika kita marah kepada anak-anak, kita harus dengan sadar, dan tetap sadar ketika marah. Yang dimaksud kesadaran adalah kita mampu mempertimbangkan akibat dari kemarahan kita.

Referensi:

  • M Huasaini dan M Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Singgih D Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cetakan Keempat, 1980.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Melihat, Mendengar, dan Mengerti Gerakan Literasi Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: