Melihat, Mendengar, dan Mengerti

7 Juni, 2016 at 10:27 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah.

 

Setiap pelajaran berlangsung, sebentar-sebentar Narni maju ke depan mendekati papan tulis. Setelah ia membaca sebentar tulisan yang ada di papan tulis, ia segera kembali ke tempat duduknya. Hal itu berulang-ulang ia lakukan.

“Narni, mengapa kamu musti melihat tulisan di papan tulis dari jarak dekat ? Apakah tulisan saya kurang gede ?” tegur guru, dengan nada tinggi.

Tarno juga mempunyai pengalaman pada saat mengikuti pelajaran. Dia kelihatan sedang tekun mengikuti pelajaran. Cirinya adalah dia duduk dengan sikap tenang, sambil menundukkan kepala sedikit, dan memalingkan wajahnya ke kiri sedikit. Ternyata sikap belajar Tarno yang demikian itu, ditangkap oleh guru.

”Tarno, mengapa gayamu seperti orang yang kurang pendengarannya ? Apakah kamu suara saya masih ?” tegur guru dengan nada agak sinis.

Lama-kelamaan Narni dan Tarno tidak tahan dengan teguran yang disampaikan oleh guru. Mereka pun bercerita kepada orangtuanya masing-masing. Setelah mendengar cerita dari anaknya masing-masing, lalu orangtua Narni membawa anaknya ke dokter ahli mata, dan orangtua Tarno membawa anaknya ke dokter ahli THT.

Dari kedua contoh peristiwa tersebut di atas, apa yang sebenarnya terjadi pada diri anak dan guru ?
Senyatanya, dalam keseharian, orangtua atau guru sering menggunakan kata melihat, “mendengar”, dan “mengerti”, kepada anak-anaknya, baik dengan nada positif atau negatif. Yang menjadi permasalahan, adalah sejauhmana pemahaman orangtua dan guru tentang arti kata “melihat”, “mendengar”, dan “mengerti” ?

Apa yang dimaksud dengan kata “melihat”, “mendengar”, dan “mengerti” ?Melihat, menurut Sumadi Suryabrata (2007), adalah menangkap obyek dengan indera mata. Menurut obyeknya, masalah melihat dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :

Pertama, melihat bentuk, adalah melihat obyek yang berdimensi dua.

Kedua, melihat dalam, ialah melihat obyek berdimensi tiga.

Ketiga, melihat warna, adalah melihat nilai afektif dan nilai lambang warna. Warna sangat berpengaruh juga pada tingkah laku orang.

H Koestoer Partowisastro dan A Hadisuparto (1984) memberi catatan, yang penting bagi orangtua dan guru, bahwa alat indera terpenting bagi anak untuk belajar ialah penglihatan dan pendengaran. Apabila mekanisme mata atau telinga kurang berfungsi, maka kesan yang diperoleh seorang anak akan menyimpang, atau bahkan tidak memperolehnya. Jadi, setelah guru menyajikan pelajaran, ada siswa yang mengalami kesulitan untuk menangkap, maka mungkin mata atau telinganya mengalami gangguan.

Anak tidak pernah menerima dalam otaknya suatu “image” yang benar mengenai penglihatan-penglihatan dan suara-suara sewaktu guru mengajar. Oleh karena itu, pada waktu guru mendapatkan hasil yang kurang atau tidak memuaskan dari anak, maka kesalahan itu mungkin terletak pada alat indera anak. Jadi, orangtua atau guru hendaknya mengecek kesehatan mata dan telinga anak.

Setelah “image” itu diterima dengan baik oleh mata dan telinga, langkah berikutnya dalam proses belajar ialah pengiriman “image” tersebut ke otak, sehingga “image” itu dapat ditafsirkan. Langkah ini disebut persepsi. Apa yang sebenarnya terjadi dalam persepsi ini ialah bahwa siswa itu membandingkan “image” yang diterimanya melalui indera itu dengan ingatannya tentang “image” waktu lampau. Dengan perkataan lain ia memiliki sebuah gudang ingatan-ingatan tentang pengalaman masa lampau yang digunakannya untuk menetukan dalam hal apa “image” yang baru itu sama atau berbeda dengan “image” yang sudah dimilikinya. Proses membandingkan dan penafsiran ini “memberi arti” kepada pengalaman.

Apa yang dimasud dengan mengerti ? Elizabeth B.Hurlock, dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Anak-2, mengurai dengan apik tentang “mengerti”, seperti berikut :

Mengerti adalah kemampuan untuk menangkap sifat, arti, atau keterangan tentang sesuatu dan mempunyai gambaran yang jelas atau lengkap tentang hal tersebut. Pendeknya, ialah kemampuan untuk memahami. Pengertian dicapai dengan menerapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya ke pengalaman dan situasi yang baru.

Dari pengertian melihat, mendengar, dan mengerti, maka sangatlah bijak yang dilakukan oleh orangtua Narni untuk membawa anaknya ke dokter ahli mata, dan orangtua Tarno membawa anaknya ke dokter ahli THT. Dimungkinkan Narni mengalami gangguan indera matanya, dan Tarno mengalami gangguan indera telinganya. Sehingga mereka mengalami hambatan dalam melihat tulisan di papan tulis, dan mendengar penjelasan guru. Selanjutnya, hambatan itu merambat juga ke kemampuannya dalam mengolah persepsi dan penafsiran bahan ajar yang diberikan oleh guru.

Dari pihak guru, seharusnya sejak awal belajar peka atau mampu menangkap gejala-gejala yang ada dalam diri Narni dan Tarno. Mulai dari seringnya ia maju ke depan kelas dan membaca tulisan guru di papan tulis dari jarak dekat. Pun seringnya Tarno menundukkan kepala dan memalingkan wajahnya ke kiri. Jadi, guru hendaknya tidak cepat-cepat mengedapankan ketersinggungannya, karena tulisannya tidak terbaca atau tidak didengar dengan baik oleh muridnya.

Jikalau benar ditemukan bahwa Narni dan tarno mengalami gangguan alat inderanya, dan oleh dokter mata disarankan untuk memakai kaca mata atau alat bantu dengar, maka permasalahan yang sebenarnya telah teratasi. Dengan demikian, Narni bisa membaca tulisan di papan tulis dengan jarak normal, dan Tarno berani menatap ke depan, untuk mampu mengolah persepsi, mudah mengadakan penafsiran, dan akhirnya mereka pun mudah untuk mengerti.

Referensi:

  • Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Edisi Kelima, Jakarta, 2007.
  • H Koestoer Partowisastro dan A Hadisuparto, Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar-Jilid 2, Penerbit Erlanggan, Jakarta, Cetakan Kedua, 1982.
  • Elizabeth B.Hurlock, Perkembangan Anak-Jilid 2, Penerbit Erlangga, Edisi Keenam, Jakarta.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Wisanggeni, Analogi Generasi Anarki Menghadapi Anak Marah atau “Ngadat”


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: