Wisanggeni, Analogi Generasi Anarki

2 Juni, 2016 at 7:36 am

Sri SupartiOleh Sri Suparti SPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh, Sragen, Jawa Tengah

 

Alkisah, di Kahyangan Argadahana, Brahma Sang Dewa Api secara halus mengusir Arjuna untuk kembali ke bumi. Tak terkira sedihnya Dresanala, putri Batara Brahma, karena harus berpisah dengan Arjuna, suaminya tercinta. Namun, apalah hendak dikata, Arjuna harus patuh dan meninggalkan istri bidadarinya itu, walau pada saat itu sang istri tengah mengandung tujuh bulan.

Sekembalinya Arjuna ke bumi, datanglah Durga menemui Dresanala yang ingin menikahkan Dresanala dengan anaknya yang bernama Dewasrani. Namun, Dresanala tetap setia dengan Arjuna, suaminya,. Cinta ditolak, ibu bertindak. Begitu rupanya semboyan Dewasrani. Durga yang sudah kehilangan kesabaran, menghajar Dresanala hingga bayi yang dikandungnya lahir.

Salah apakah si jabang bayi? Durga dan para dewa menghajar bayi tersebut. Tak puas sekedar menghantam dan memukul, mereka melemparkan si jabang bayi ke Kawah Candradimuka. Namun atas kehendak Sang Mahakuasa, si jabang bayi tidak mati, malah tumbuh menjadi remaja dan keluar dari dalam kawah.

Beruntunglah, saat itu Semar mengetahui semua yang telah terjadi. Didekatilah si remaja dan diberinya nama Wisanggeni, yang berarti racun api. Wisanggeni ingin mengetahui orang tuanya. Semar mengarahkan agar Wisanggeni bertanya kepada para dewa. Jika para dewa tidak mampu menjawab, Semar mengarahkan Wisanggeni untuk menghajar mereka.

Wisanggeni pun patuh. Bertanyalah dia kepada para dewa, siapa orang tuanya tapi tak satupun dewa yang bisa menjawab sehingga Wisanggeni pun menghajar mereka. Para dewa kewalahan dan turun ke bumi untuk mencari bantuan. Bertemulah mereka dengan Arjuna dan mereka minta bantuan kepada Arjuna.

Demikianlah, akhirnya Wisanggeni dapat bertemu dengan orang tuanya. Arjuna dapat menerima Wisanggeni dan membebaskan para dewa.

Cerita di atas hanyalah cerita fiktif belaka. Bahkan, cerita tersebut tidak muncul dalam cerita asli di kitab Mahabharata. Namun, marilah kita analogikan Wisanggeni dengan anak-anak bangsa kita.

Digambarkan sejak masih dalam kandungan, Dresanala telah mengalami kekerasan dari keluarganya, yaitu bangsa dewa. Demikian pula anak-anak kita. Berapa banyak anak yang menjadi korban KDRT, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sungguh miris memang, ketika anak-anak kecil harus menyaksikan penyiksaan dan kekerasan di lingkungan dekatnya. Lebih miris lagi, tindakan kekerasan itu dilakukan oleh orang di dekat mereka, yang seharusnya melindungi dan menyayangi mereka.

Ketika Wisanggeni dilahirkan, dia telah belajar tentang tindakan anarkis dari perilaku para dewa yang menghajarnya. Begitu pula anak-anak kita yang sangat lekat dengan tindakan kekerasan. Entah berapa anak yang menjadi korban bullying di sekolah, di lingkungan bermain, bahkan di keluarganya sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban kekerasan fisik maupun verbal, ataupun kekerasan seksual. Mereka akan mengalami trauma dan memendam dendam dalam diri mereka, yang suatu saat nanti bisa jadi mereka lampiaskan ke orang lain.

Wisanggeni yang menjadi korban kekerasan para dewa, belajar tentang perbuatan anarkis. Bagaimana dengan anak-anak di lingkungan kita? Di sekitar kita banyak terdapat “dewa” yang mengajarkan kekerasan kepada anak-anak kita, yaitu televisi. Tidak dapat dipungkiri, berapa banyak siaran yang mengajarkan tindakan kekerasan dan anarkisme kepada anak-anak. Mulai dari kartun, komedi, kontes-kontes bakat, hingga sinetron, semua menayangkan tindakan kekerasan, perkelahian, saling hina, saling mencaci, dan saling merendahkan sesama pemain, ataupun pembawa acara. Ironisnya, tayangan-tayangan tersebut disiarkan pada waktu senggang, si mana anak-anak berada di rumah (tidak di sekolah, di sore hari).

Sedangkan siaran-siaran yang “agak” mendidik justru disiarkan ketika anak-anak masih di jam sekolah dan para orang tua sedang bekerja sehingga siaran-siaran tersebut tidak dapat dinikmati bersama keluarga. Sebaliknya, yang menjadi “hidangan” di waktu senggang keluarga adalah siaran yang kurang bermutu, sarat dengan kekerasan dan bullying; dan siaran-siaran seperti itu telah menjadi “dewa” yang sangat digandrungi oleh anak-anak kita.

Dikisahkan, Wisanggeni selanjutnya dibuang ke Kawah Candradimuka. Dibuang! Diterlantarkan! Seberapa seringkah kita mendengar berita tentang bayi yang dibuang, baik yang diketemukan dalam keadaan hidup maupun mati? Seberapa seringkah kita melihat berita tentang anak-anak kecil yang diterlantarkan? Hampir setiap hari media massa kita memberitakan tentang penelantaran anak.

Anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan dan kasih sayang ternyata dibiarkan berkeliaran dan terlantar di jalanan. Tak jarang, hak-hak mereka terhadap pendidikan yang layak pun terenggut. Mereka lebih banyak belajar dari lingkungan mereka, yang tak sedikit mengajarkan mereka tentang kekerasan dan perilaku anarkis.

Syahdan, ketika Wisanggeni keluar dari kawah sebagai seorang remaja, Semar mengarahkan Wisanggeni untuk menghajar para dewa jika tidak mampu menjawab pertanyaannya. Dihajar sejak dalam kandungan, hingga dia dilahirkan, dan akhirnya dibuang, Wisanggeni dengan mudahnya terprovokasi ucapan Semar untuk menghajar para dewa. Demikian pula keadaan para remaja kita. Sejak kecil mereka terpapar dengan kekerasan, bahkan mereka menjadi korban kekerasan, mereka tumbuh menjadi remaja yang mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan anarkis. Mereka cenderung menyerang, menerjang. Tindakan anarkis seakan menjadi suatu kewajaran bagi mereka.

Jahatkah Wisanggeni? Ternyata, Wisanggeni dewasa merupakan sosok yang cerdas dan dapat diandalkan, walaupun dia terkesan tidak punya sopan-santun. Hal tersebut karena Wisanggeni pada akhirnya diasuh oleh Sang Hyang Wenang, dewa tertinggi yang sangat bijaksana. Bagaimana dengan anak-anak kita? Sebenarnya mereka sangat potensial. Mereka bisa menjadi cerdas dan mampu menyelesaikan berbagai masalah sebagaimana Wisanggeni.

Mungkin, kita adalah Dresanala, ibu yang lemah dan tidak kuasa melawan keadaan. Atau mungkin, kita adalah Arjuna, ayah yang sibuk dengan tugas-tugas pekerjaannya sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengajari anak-anak kita tentang nilai-nilai kebaikan. Namun kita seharusnya berusaha untuk membawa Wisanggeni (anak-anak kita) kepada dewa (lingkungan dan pergaulan) yang lebih baik.

Sebagaimana Sang Hyang Wenang yang mengajarkan kepada Wisanggeni tentang kebijaksanaan, kita pun selayaknya menyelamatkan anak-anak kita dengan menciptakan lingkungan yang baik, yang bebas dari tindakan kekerasan dan anarkisme sehingga seperti Wisanggeni dewasa, di masa depan, anak-anak kita bisa menjadi generasi tangguh yang dapat diandalkan. (Kontak person: 085 229 055 073. Email: suparti_sri@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Belajar Mengenal Perasaan Anak Melihat, Mendengar, dan Mengerti


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: