Belajar Mengenal Perasaan Anak

2 Juni, 2016 at 7:09 am

Lucas FormiatnoOleh Lucas Formiatno
Educator di SOS Children’s Village Semarang, Jawa Tengah

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah bertemu dengan anak-anak yang begitu mudahnya terbuka kepada orang lain. Artinya mereka mampu mengungkapkan perasaan mereka. Entah anak-anak itu dalam keadaan senang atau sedih. Mereka begitu lancarnya mengungkapkan perasaan mereka. Tetapi, ada juga anak-anak yang begitu sulitnya untuk mengungkapkan perasaan mereka. Kita tidak tahu persis, apa perasaan mereka pada saat itu.

Oleh karena warna perasaan pada anak-anak kadang sulit ditangkap, alangkah baiknya kita mengenal lebih dahulu, apa pengertian perasaan. Dengan demikian kita tidak hanya menuntut agar anak-anak tahu perasaan kita saja, tetapi kita juga perlu mengenal perasaan mereka.

Menurut M Huasaini BA dan M Noor Hs (1981), perasaan adalah pernyataan jiwa yang dihayati secara suka maupun tidak suka. Selanjutnya, Sumadi Suryabrata (2007) mengatakan bahwa perasaan biasanya didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat subyektif dan dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang. Sehingga perasaan menjadi dasar aktivitas manusia.

Ada beberapa jenis perasaan, menurut M Huasaini BA dan M Noor Hs (1981), yaitu:
Pertama, perasaan intelektuil, perasaan yang mempunyai sangkut-paut dengan ruang lingkup kebenaran. Dalam ha lini perasaan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk sikap ragu-ragu, pasti, yakin, atau tak yakin dalam ruang lingkup berpikir ilmiah.

Kedua, perasaan keindahan, perasaan yang berhubungan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun bersifat kerohanian.

Ketiga, perasaan ketuhanan, perasaan yang menyertai penghayatan, bila seseorang menghadapi masalah yang kemudian menyertakan atau melibatkan campur-tangan Tuhan.

Keempat, perasaan pribadi, perasaan yang berhubungan harga diri.

Kelima, perasaan psikis, perasaan yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti gembira, sedih, dan sebagainya.

Keenam, perasaan sensoris, perasaan yang ditimbulkan karena rangsang dari luar terhadap tubuh, seperti sakit, panas, dan sebagainya.

Ketujuh, perasaan sosial, perasaan yang mempunyai sangkut-paut dengan orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, seperti solider, persaudaraan, simpati, dan sebagainya.

Kedelapan, perasaan susila, perasaan yang ada hubungannya dengan nilai-nilai baik dan buruk, nilai-nilai etika, atau moral. Perasaan ini dapat terlihat ketika menyesal karena melanggar nlai-nilai etika, atau rasa tenteram karena taat kepada norma-norma agama, dan sebagainya.

Kesembilan, perasaan vital, perasaan hidup yang bersuasana hati, seperti perasaan segar, lelah, kuat, dan sebaginya. Perasaan pada tingkat ini bergantung pada keadaan jasmaniah.

Daya guna perasaan, dalam bukuTantangan Membina Kepribadian (1989), disebutkan, antara lain:

Pertama, perasaan itu baik, karena karunia dari Tuhan.

Kedua, perasaan membuat hidup bergairah.

Ketiga, peraan menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu.

Keempat, perasaan dapa tmembantu kita untuk berbuat sesuatu dengan mudah, karena tanpa perasaan hal itu akan sulit dihadapi.

Kelima, perasaan dapat membantu dalam mengembangkan kepribadian secara lebih sempurna.

Masih dalam buku Tantangan MembinaKepribadian (1989), diuraikan tentang cara mengatur perasaan, antara lain:

Pertama, belajar mengendalikan beraneka perasaan kita.

Kedua, menyalurkan perasaan kedalam jalur yang baik, jika perasaan disalurkan dengan baik, maka segi-segi lemah dalam hidup akan hilang, dan muncullah kekuatan hebat yang dapat diperlukan kapan saja.

Ketiga, membangun kebiasaan berperasaan yang baik.

Dengan kita mengenal perasaan anak, maka dalam mengajar, guru hendaknya menyampaikan pelajaran dengan penuh kegembiraan, agar dapat diterima oleh anak-anak dengan gembira pula. Sebaliknya, anak-anak menjadi tidak bergairah dalam belajar, jika guru cara menyampaikan pelajaran dengan tampil letih-lesu. Di rumah, dalam berkomunikasi, orangtua hendaknya berbicara dengan cara yang “enak”, agar anak-anak dapat menangkap pesan dan mempunyai perasaan yang nyaman. Apabila orangtua cara berkomunikasi dengan nada yang tidak “enak”, maka pesan tidak akan ditangkap oleh anak-anak dengan “pas” dan dikhawatirkan mereka tidak peduli.

Referensi:

  • M. Huasaini B.A dan M.Noor Hs, Psikologi-Himpunan Istilah, Penerbit Mutiara, Cetakan Kedua, Jakarta, 1981.
  • Sumadi Suryabrata, Drs, B.a, M.A, ED.S, Ph.d, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Edisi Kelima, Jakarta, 2007.
  • Tantangan Membina Kepribadian, Yayasan Cipta Loka Cara, Cetakan Kesepuluh, Jakarta, 1989.

(Kontak person: 08179224953. Email: lucas.formiatno@sos.or.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mendambakan Pendidikan Ideal Wisanggeni, Analogi Generasi Anarki


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: