Mendambakan Pendidikan Ideal

1 Juni, 2016 at 8:46 am

Nurul YaqinOleh Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat.

 

 

Sebagai agama perdana di Indonesia, pada tahun 687 masehi seorang pendeta Budha menjelaskan bahwa Palembang merupakan pusat agama Budha dan di sana berkumpul para pemikir dan cendikiawan dari berbagai negara. Ketika itu pendidikan hanya terfokus kepada ajaran Budha. Baru pada tahun 1950 pemerintah mengatur pelaksanaan pendidikan melalui UU wajib belajar pendidikan dasar 6 tahun yang kemudian tahun 1980an pada zama Presiden Soeharto didirikan 40.000 Sekolah Dasar.

Berbagai macam cara yang dilakukan oleh para penjajah untuk memperkenalkan ajarannya kepada bangsa kita. Portugis yang awalnya bertujuan berdagang kemudian mendidirikan sekolah yang mengajarkan Calistung (Baca Tulis Hitung) agar misi menyebarkan agama katolik bisa di terima dengan mudah. Kegiatan sekolah yang didirikan Portugis berhenti ketik amasuknya penjajah Belanda. Belanda melanjutkan apa yang dirintis oleh Portugis dan bertujuan untuk mengajarkan ajaran Protestan. Untuk memperlancar misinya, Belanda juga mendirikan sekolah yang berbasis keagamaan. Belanda memperkenalkan pendidikan formal di Indonesia pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20.

Setali tiga uang, pendidikan Belanda terhenti setelah masuknya komunis Jepang. Pada masa penjajahan Jepang didirikan Sekolah Rakyat (untuk Sekolah Dasar), Sekolah Menengah (untuk tingkat menengah) dan Sekolah Kejuruan (bagi guru).

Setelahkemerdekaan, pendidikan berkembang secara signifikan. Ini terbukti karena pada waktu itu Badan Pekerja Komitenasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) mengusulkan adanya pembaruan pendidikan. Ki Hajar Dewantara yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan membentuk panitia untuk menyediakan struktur, bahan ajar dan rencana belajar yang kemudian disusunlah kurikulum SR 1947 (kurikulum pertama) yang terdiri dari 15 mata pelajaran.

Tahun 1965 pendidikan mempunyai misi yang sesuai nilai-nilai Pancasila yang kemudian pemerintah menyusun kurikulum yang mencakup prinsip dasar Pancasila. Sistem pendidikan mengalami perubahan pada masa Presiden Megawati dengan kurikulum berbasis kompetensi yaitu Afektif, Kognitif dan Psikotorik. Kemudian pada masa presiden Susilo BambangYudhoyono berubah menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Upaya untuk mendukung kurikulum tersebut presiden mengeluarkan Instruksi No. 5 pada 09 Juni 2006. Memasuk iera Jokowi pendidikan belum tersentuh sepenuhnya untuk mengadakan transformasi besar-besaran dan tetap berjalan namundengan adanya perbaikan dan penyesuaian.

Jika dilihat dari trade record pendidikan Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Angka partisipasi mengalami peningkatan yang pesat. Dengan adanya program penggalakan wajib belajar 9 tahun angka partisipasi pendidikan dasar mencapai 118 persen dan pendidikan menengah mencapai 77 persen. Walaupun angka partisipasi meningkat, jika diukur dari kualitas pelajar pendidikan kita masih tertinggal. Ibarat orang berdandan kita masih sekedar memperhalus bedak di pipi sedangkan negara tetangga telah berdandan lebih cantik dan seksi.

Historis panjang pendidikan bangsa tak kunjung menemukan titik temu yang nyata. Dari awal munculnya pendidikan sampai dewasa ini metode penilaian di sekolah-sekolah tidak pernah berubah hanya mengedepankan aspek kognitif. Hal ini terbukti, anak didik kita hanya ditransfer materi kedalam otak dengan posisi duduk tegak dan tangan dilipat mendengarkan ceramah guru. Metode hafalans udah menjadi habitat yang tak bisa ditinggalkan. Tugas yang menggunung menyebabkan anak didik semakin tertekan. Ditambah ambisi orang tua yang hanya menginginkan nilai dan prestasi yang tinggi.

Sungguh, hal itu akan berpengaruh pada fisik dan psikis anak. Beban kognitif telah menjauhkan saraf otak anak dari keterlibatan emosinya. Padahal, dalam pembelajaran peran emosi sangat urgent untuk membawa pengalaman belajar masuk ke memori jangka panjang (Long Term Memory). Menurut Dr. Paul Maclean, Dr. Josep LeDoux, dan Dr. Daniel Goelman, ketika otak menerima tekanan atau ancaman, kapasitas otak untuk berfikir rasional mengecil (downshiftting). Jika ini berkelanjutan maka anak akan mengalami “matiberfikir” atau “cognitive shutdown”.

Pola pembelajaran yang tak salah namun kurang benar hanya menambah derertan kasus-kasus pendidikan. Beragam problematika menimpa pendidikan bangsa. Kasus pencurian soal UN yang dilakukan oleh oknum guru dengan melakukan konspirasi penipuan terhadap para polisi petugas keamanan. Pesta bikini setelah melaksanakan Ujian Nasional. Nasib para siswa yang harus melewati jembatan gantung yang hanya terbuat dari tali tambang dengan aliran sungai deras di bawahnya untuk memperjuangkan hak belajar. Masuknya ajaran radikal ke dalam buku pelajaran di salah satu lembaga SMA di Jombang. Meninggalnya para siswa akibat gulingnya truk yang membawa ke sekolah lantaran tidak ada transportasi lain. Peristiwa di atas menjadi tamparan keras ke wajah pendidikan bangsa.

Masalah pendidikan, kiranya tak salah jika mengintip ke negara Finlandia. Berdasarkan survey PISA yang dilakukan OECD tahun 2003 bahwa negara paling tidak korup di dunia ini menempati urutan pertama dalam pendidikan terbaik dengan mengalahkan 40 negara. Negara ini mahir dalam mendidik anak, baik anak normal maupun anak yang lemah mental. Remedial bukan merupakan suatu kegagalan akan tetapi jalan untuk perbaikan.

Ujian dianggap sebagai penghancur mental siswa. Sejak dini anak-anak diajarkan bertanggungjawab dan mengevaluasi dirinya. Guru di negara ini merupakan profesi yang paling bergengsi disbanding profesi lain, karena guru dipilih dengan kualitas terbaik dan harus mengikuti persaingan ketat. Maka, bukan hal yang aneh jika seorang guru di negara ini berkata “kalau saya gagal dalam mengajar seorangmurid, itu berarti saya tidak beres dalam mengajar”.

Tidak bermaksud untuk meremehkan peran pemerintah yang telah dengan susah payah merombak pendidikan demi kemajuan. Namun, banyaknya cacat yang menyebabkan masyarakat menuntut bukti nyata adanya perbaikan pendidikan.

Tak benar jika hanya pemerintah dijadikan kambing hitam. Jika pemerintah telah dengan segala upaya mengadakan perbaikan pendidikan. Sistem dan kurikulum sudah dipersiapakan dengan matang.

Anggaran telah dikucurkan kepada pemangku kepentingan. Namun, pelaksana pendidikan tidak mempunyai ghiroh atau semangat untuk memajukannya, maka tak mustahil pendidikan akan berjalan di tempat bahkan lebih terpuruk dari sebelumnya. Salah juga jika guru selalu disudutkan. Dan tak benar pula jika hanya orang tua mati-matian berjuang sendirian. Maka dari itu, semua pihak harus bergandeng tangan dalam menentukan arah pendidikan dari kasta terkecil (keluarga), pendidik, hingga kasta tertinggi (pemerintah), untuk memperbaiki mutu pendidikan agar melahirkan lulusan yang berkualitas dan bermanfaat. (Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Menekan Angka Kekerasan Seksual Melalui Keluarga Belajar Mengenal Perasaan Anak


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: