Menekan Angka Kekerasan Seksual Melalui Keluarga

27 Mei, 2016 at 1:03 pm

Hasan TriyakfiOleh Hasan Triyakfi SPd Gr
Guru SD Negeri 3 Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

 

Kejahatan seksual terhadap anak di republik ini berada pada titik nadir. Beberapa pekan ini kita seolah disuguhi pemandangan miris mengenai maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di beberapa daerah. Lebih miris ketika pelaku dan korban tindak kejahatan tersebut didominasi anak di bawah umur.

Sikap tegas Presiden Jokowi menunjukkan bahwa pemerintah serius menangani persoalan ini. Keseriusan tersebut tercermin dari sikap pemerintah yang menetapkan kekerasan seksual terhadap anak sebagai kategori kejahatan luar biasa. Penetapan itu juga ditindaklanjuti dengan penerbitan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada Rabu (25/5).

Persoalan kekerasan seksual terhadap anak di republik ini memang sudah begitu mengkhawatirkan. KPAI mencatat dalam kurun waktu 2010-2014 terjadi sebanyak 21.869.797 kasus pelanggaran terhadap anak di Indonesia. Dimana 42-58% dari jumlah tersebut merupakan kasus kekerasan seksual. Data tersebut belum termasuk data tahun 2015 hingga 2016, dimana KPAI mencatat pada kurun waktu Januari-25 April 2016 saja ada 298 kasus anak berhadapan hukum. Angka ini meningkat 15 persen dibandingkan dengan 2015.

Sikap dan upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini patut diapresiasi. Tindakan tegas dalam bentuk pembuatan regulasi baik itu Perppu maupun merevisi Undang-undang tentang Perlindungan Anak memang begitu mendesak untuk segera direalisasikan. Hal ini diupayakan dalam rangka memberikan efek jera bagi pelaku.

Namun, satu hal yang juga wajib diupayakan adalah bagaimana mengurai persoalan ini dari akarnya. Kita tentu tak boleh terjebak hanya dalam ihwal penindakan saja. Melacak faktor penyebab terjadinya perilaku kekerasan seksual terhadap anak dan mencari solusi untuk memutus rantai masalah merupakan hal terpenting. Maka dari itu, mengupayakan pencegahan sebagai solusi jangka panjang merupakan sebuah keniscayaan.

Akar masalah
Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak adalah lemahnya kontrol sosial, baik itu keluarga maupun masyarakat terhadap perilaku anak-anak kita. Dan, faktor keluarga merupakan salah satu faktor kunci yang bertanggung jawab akan lahirnya perilaku kekerasan seksual terhadap anak.

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki tanggung jawab pertama untuk mengawal proses tumbuh kembang anak. Seorang anak akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal jika kebutuhan dasarnya terpenuhi, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikologis. Namun yang terjadi selama ini keluarga justru menjadi sumber ancaman dan ketidaktentraman anak, karena pola asuh orang tua dalam mendidik dan membesarkan anaknya dan perlakuan salah yang sering diterima anak dari keluarga.

Iklim keluarga yang tak kondusif dan penuh dengan perselisihan serta konflik menyebarkan atmosfir rumah yang membuat suasana antaranggota keluarga tidak nyaman dapat menyebabkan anak merasakan stress, ketidakamanan dan ketidaknyamanan (Izzaty, 2008). Anak dalam lingkungan seperti itu berada dalam resiko yang tinggi dalam perkembangan perilaku yang bermasalah, seperti agresif, berperilaku kasar, dan depresi. Hal ini dikuatkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Chang, Lansford,Scwartz, Farver (Izzaty, 2008) yang mengatakan bahwa adanya korelasi positif antara pengasuhan yang negatif dengan munculnya tingkah laku bermasalah pada anak.

Dalam kajian psikologi, teori kelekatan emosi (attachment theory) menjelaskan bahwa gangguan yang terjadi di dalam hubungan individu dengan orang tuanya pada masa kanak-kanak dapat menyebabkan gangguan kejiwaan pada saat individu tersebut menginjak usia dewasa. Hubungan kelekatan emosi antara orang tua dan anak yang tidak sehat sejak dini mendorong individu untuk tumbuh dan berkembang dengan kondisi jiwa yang tidak sehat pula (Bowley dalam Hadiyanti,1992).

Kondisi jiwa anak yang sering kali terluka tersebut akan mendorong proses hilangnya rasa percaya anak terhadap orang terdekatnya akan kemampuan mereka sebagai orang tua dalam menciptakan zona aman dan nyaman bagi anak. Maka itu, anak tersebut akan berkembang menjadi individu dewasa dengan beberapa masalah kepribadian yang mendorongnya untuk tidak segan melakukan tindakan kekerasan-termasuk kekerasan seksual- kepada orang lain termasuk terhadap anak di bawah umur sekalipun.

Peran Keluarga
Besarnya peran dan tanggung jawab orangtua inilah yang harusnya disadari betul oleh kita semua. Para orangtua haruslah paham betul mengenai begitu masifnya peran lingkungan keluarga dalam membentuk perilaku individu. Sehingga pembentukan keluarga yang harmonis, pemilihan tipe pengasuhan anak yang tepat, dan pemahaman akan pendidikan seks usia dini wajib dimiliki setiap keluarga.

Setiap orangtua diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat baik fisik maupun mental. Seyogianya kita juga dapat menghindarkan anak-anak kita dari pengaruh negatif lingkungan sosial di sekitar dengan memberikan penjagaan dan kontrol yang terukur kepada anak kita.

Kontrol orangtua terhadap tumbuh kembang anak juga mutlak hukumnya. Bola salju globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat tak lagi bisa dibendung. Kemudahan anak memperoleh informasi-termasuk di dalamnya konten negatif- harus menjadi concern bagi tiap orangtua. Pemberian pemahaman mengenai bahaya pornografi, minuman keras, dan penanaman budi pekerti luhur haruslah jadi bidang garapan orangtua.

Selain itu, penerapan metode pengasuhan yang bersifat hangat, mengayomi, dan menghindari penggunaan kekerasan baik fisik dan mental juga diharapkan mampu untuk membentuk ikatan emosional yang sehat antara orangtua dan anak yang dapat menciptakan karakter individu yang sehat secara emosional. Harapannya, karakter individu yang memiliki jiwa sehat dapat terbentuk dan berkembang di masyarakat, sehingga perilaku kekerasan seksual yang melibatkan anak dapat ditekan dalam level yang paling rendah dalam lingkungan sosial masyarakat kita. (kontak person: 085640645252. Email : triyakfi.hasan@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Ujian Akhir, Awal Perubahan Mendambakan Pendidikan Ideal


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: