Stagnasi “Budaya Baca”

21 Mei, 2016 at 12:00 am

Oleh Nurul Yaqin Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat

 

Realita kehidupan memperlihatkan akan tantangan bangsa yang begitu kompleks dalam mengahadapi ledakan informasi yang begitu pesat. Pergaulan antar negara tanpa sekat. Persaingan yang sangat ketat menuntut manusia yang cerdas dalam menghadapi kenyataan di depan mata. Dan “budaya membaca” masih menjadi tolok ukur utama kecerdasan masyarakat dan bangsa.

Namun, ledakan teknologi yang menjadikan masyarakat lebih mudah dalam segala hal (termasuk akses membaca), tak membuat masyarakat kita lebih sadar akan pentingnya budaya membaca. Masyakat metropolis dan hedonis lebih suka jalan-jalan di mall dan shoping dari pada ke toko-toko buku.

Bahkan, mahasiswa yang merupakan manusia paling dekat dengan dunia pendidikan lebih doyan mendaki gunung dari pada hanya berkutat dengan lembaran buku di ruang perpustakaan. Ini adalah penyakit kronis yang tak kunjung sembuh. Seolah buku menjelma menjadi barang “angker” dalam lini kehidupan masyarakat kita. Padahal, Joseph Alexandrovitch Brodsky (1940-1996) pernah berujar “Ada kejahatan yang lebih buruk dari membakar buku. Salah satunya ialah tidak membaca buku”.

Buku, dewasa ini, adalah seperti tokek; ia termasuk jenis makhluk yang terancam punah. Terutama di Indonesia, di sebuah masyarakat yang dengan cepat, bahkan langsung, bergerak dari suatu keadaan pra-literer, dari suatu lingkungan yang tak pernah membaca ke dalam suatu lingkungan yang tak hendak membaca, di mana media televisi mengisi hampir, setidaknya dalam dugaan saya, 50% dari waktu senggang malam hari orang Indonesia yang berpendidikan sekolah menengah.

Tetapi di Indonesia, telenovela dengan wajah-wajah yang rupawan, film silat dengan pukulan-pukulan yang ajaib, dan puluhan kuis yang tidak menginginkan kecerdasan, semuanya begitu gilang-gemilang, dan orang-orang bisa duduk di depannya, bersama-sama, rukun dan terpukau. Lagipula di rumah kelas menengah kita, mana ada sebuah kamar yang menyediakan buku? (Goenawan Mohamad, 2003)

Punahnya “Budaya Baca”
Membaca menjadi syarat mutlak dalam membangun bangsa yang berkemajuan. Semakin tinggi minat baca dalam suatu bangsa semakin tinggi pula tingkat kemajuan dan tingkat kecerdasannnya. Sebaliknya, jika minat baca rendah, maka semakin rendah pula tingkat kemajuan dan kecerdasan suatu bangsa. Berharap bangsa yang maju dengan tingkat membaca masyarakat yang rendah sungguh ibarat punguk merindukan rembulan.

Jika kita lirik minat baca masyarakat saat ini masih saja menyayat hati. Budaya baca masyarakat kita sangat memprihatinkan jika dibandingkan Negara lain. Terlalu tinggi rasanya jika kita mengintip ke Negara-negara Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Prancis. Di kawasan Negara tetangga (ASEAN) saja bangsa kita menduduki peringkat ketiga terbawah (berada di atas Kamboja dan Laos).

Berdasarkan Indeks Nasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01. Sedangkat indeks tingkat membaca di Negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62. Merujuk pada hasil survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih “mau” membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). (Republika, 26 Mei 2015)

Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk harga-harga, membaca untuk lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekedar hiburan (Seno Gumira Ajidarma, 1997). Bagi masyarakat kita, membaca masih diletakkan dalam kerangka aktivitas yang sederhana yang manfaatnya kurang berjangka panjang. Adagium arab “khoiru jaliisin fizzamaani kitaabun” (sebaik-baik teman duduk dalam setiap waktu adalah buku) kini telah usang.

Jika kita semua “tuli” tentu akan menjadi permasalahan internal yang akan menggoroti Negara ini perlahan tapi pasti. Problem internal (minimnya minat baca) memang seperti “musuh dalam selimut” yang selalu menyerang tapi kita tidak sadar bahwa mereka datang.

Bung Karno pernah mengatakan “suatu bangsa besar tidak akan runtuh, tidak akan tenggelam, kecuali dirobek-robek, atau pecah dari dalam. Jatuhnya suatu bangsa bukan perbuatan musuh dari luar. Musuh apa pun, kalau menghadapi bangsa yang kuat, tidak akan menghancurkan bangsa itu, kecuali jika bangsa itu sendiri merusak dirinya sendiri”. Tentu kita tidak mau dilabeli sebagai penghancur bangsa karena tidak membaca, bukan?

Padahal, bagi bangsa ini “tradisi membaca” memiliki legitimasi historis. Para tokoh pendiri negeri ini merupakan sosok-sosok yang memiliki kegandrungan yang luar biasa terhadap buku. Seperti, Soekarno, Soepomo, Agus Salim dan lain sebagainya merupakan tokoh-tokoh yang “kutu buku”. Alangkah bijaknya jika kita meneruskan warisan dan cita-cita para founding fathers tersebut.

Di momentum Hari Buku Nasional 17 Mei kemarin, menjadi refleksi kolektif untuk selalu berupaya menumbuhkan budaya baca di kalangan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jadikan budaya membaca sebagai “kebutuhan” agar tercipta Negara yang cerdas dan jauh dari kobodohan. Ingat, kita dijajah bukan karena kita miskin, tapi lantaran kita bodoh. (Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

UN, Sonya, dan Urgensi Keluarga Menghargai Sebuah Perpisahan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: