Menghargai Sebuah Perpisahan

21 Mei, 2016 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Tahun ajaran hampir dan telah berakhir, dari masing-masing tingkatan sekolah akan melepas siswa-siswinya ke sekolah lanjutan berikutnya atau berlanjut ke bangku kuliah maupun ke dunia kerja. Bagi sebagian anak-anak dengan keberadaan ekonomi orangtuanya yang mapan tentu tak ada kata putus untuk menuntut ilmu, tetapi bagi anak-anak yang kurang beruntung, nampaknya harus melepaskan keinginan belajar ke tingkat berikutnya karena alasan biaya. Tak bisa dipungkiri dunia pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tuntutan biaya yangs semakin melambung tinggi, meski berbagai bantuan dari pemerintah cukup banyak namun nampaknya belum bisa mengentaskan masalah pendidikan, karena bantuan pendidikan yang digulirkan pemerintah tersebut kadang disalahartikan oleh orangtua untuk biaya hidup.

Masa pendidikan akan berlanjut atau berakhir adalah tergantung dari keberuntungan yang diterima oleh siswa dari orangtua masing-masing. Walaupun ada sedikit keberuntungan yang diciptakan oleh siswa tersebut yaitu jika ada seorang siswa yang memiliki mental pahlawan untuk terus berjuang dan pantang menyerah meneruskan sekolah dengan mencari biaya sendiri. Beberapa anak misalnya belajar sambil bekerja untuk mendapatkan tambahan biaya agar belajar terus berlanjut. Namun mental seperti itu hanya terdapat sedikit sekali karena memang tak mudah dilaksanakan, mengingat usia mereka memang belum memasuki usia kerja, seharusnya mereka memang tidak bekerja tetapi belajar selagi usia muda dan pikiran belum tercemar oleh berbagai permasalahan dunia sehingga apa yang dihasilkan nantinya adalah sesuatu pemikiran baru yang jernih.

Masa belajar akan berakhir dan perpisahan segera menjelang, haru biru perpisahan meneteskan airmata siapa saja yang larut dalam kesedihan, berbagai romantika selama bertahun-tahun melewati waktu bersama-sama tak akan begitu saja terlewatkan tanpa tetesan airmata kesedihan. Para guru seperti melepaskan sang anak menuju medan laga kehidupan yang sesungguhnya, berbagai kekwatiran hinggap dihati setiap guru mengenai langkah anak-anak itu kedepan. Para guru telah tahu jalan yang akan mereka tempuh tidak akan mudah, namun terjal dan berliku. Bagi yang hendak melanjutkan tentu akan mengalami perjalanan panjang dalam mencari sekolan/bangku kuliah selanjutnya menghadapi persaingan yang sangat sulit jika ingin masuk ke sekolah negeri. Apalagi bagi yang setelah lulus dan melanjutkan didunia kerja, mereka akan mengahadapi persaingan yang sangat luar biasa disamping karena bekal belajar mereka yang belum cukup juga karena membludaknya para pencari kerja di seluruh negeri.

Sementara bagi siswa dengan berpisah dengan para guru, teman-teman akan muncul dihati mereka rasa kehilangan yang mendalam dari kebersamaan mereka selama ini. Dunia sekolah adalah dunia ketiga setelah keluarga dan lingkungan sosial tempat tinggal mereka. Dunia yang sudah banyak memberi warna, kegotongroyongan, kerjasama, saling menghargai, saling menghormati, saling membantu dan lain sebagainya yang telah tercipta demikian indah dengan sentuhan tangan lembut dan halus bapak dan ibu guru. Guru yang setiap harinya bagai tangan dewa-dewi yang tak pernah marah meski kita nakal, yang tak pernah membenci meski kita sulit diatasi, yang selalu sabar setiap kali kita bersalah, yang tak mempunyai kata jemu menuntun kita meski otak kita bebal, yang tak mempunyai batas kesabaran meski kita selalu bilang tak bisa, dan yang selalu membuka hati dan pengabdiannya hanya untuk kita para siswanya.

Hilangnya rasa kebersamaan tersebut begitu mendalam, terutama dari hati siswa yang selama ini dekat baik dalam berbagai kegiatan belajar maupun dalam kegiatan ekstra. Apalagi bagi anak-anak yang selama ini begitu luar biasa sulit diatasi akan meninggalkan perasaan berterima kasih yang luar biasa karena selama ini merasa telah menjadi beban bagi bapak ibu guru. Semakin dekat masa berpisah akan semakin berat beban dalam hati dan jiwa, terbayang nun jauh di masa yang akan datang betapa mereka merindukan suasana yang ada sekarang. Bayangan berpisah hinggap bagai kupu-kupu yang tak mau pergi dari sang bunga yang sedang penuh madu. Perlahan-lahan mereka seperti melambaikan tangan namun tubuh mereka tak mau beranjak pergi, masih enggan dan sayang melepaskannya berlalu.

Dalam hati setiap siswa berkecamuk berbagai perasaan, sedih, senang, sementara sang guru melepaskan kepergian mereka dengan satu harapan mereka tidak akan pernah mengalami situasi yang berat. Kehidupan di luar sekolah jauh lebih sulit dengan berbagai macam tantangan yang tak dapat diprediksi kedatangannya maupun direncanakan solusinya jauh-jauh hari. Berbagai permasalahan yang muncul meskipun sama membutuhkan penanganan yang berbeda tergantung dari diri pribadi yang mengalaminya dan situasi yang mendukungnya serta faktor-faktor lain yang akan sulit diatasi. Begitu juga yang akan terjadi pada diri masing-masing siswa yang akan meninggalkan bangku sekolah/kuliah, ribuan tantangan menghadang. Namun para guru selama puluhan tahun telah menanamkan dalam diri siswa untuk selalu bangkit dan penuh semangat mengahapi setiap tantangan.

Semakin semakin besar dan sulit tantangan mampu kita hadapi akan semakin besar pelajaran yang kita ambil, dan semakin membuat kedewasaan dan kebijaksanaan kita bertambah. Tak ada manusia hidup yang tak punya masalah, kadang kita hanya melihat kehidupan seseorang dari sisi luarnya saja sepanjang yang mampu kita lihat dengan kasat mata, sesungguhnya dalam diri seseorang berkecamuk berbagai permasalahan yang tak mungkin diungkapkan kepada semua orang. Maka sang guru juga tak bosan selalu mengingatkan para siswanya untuk jangan mati karena masalah. Sang guru adalah ibarat seorang pujangga yang syair dan petuahnya adalah tuntunan karena tercipta dari selaksa pengalaman kehidupan manusia yang terjadi spanjang masa, tak mungkin lapuk nasehatnya, tak mungkin lekang oleh perjalanan sang waktu, tak mungkin hilang oleh peradaban jaman. Sang guru adalah citra ketulusan dan pengabdian yang menuntun perjalanan anak-anak manusia kearah yang lebih baik.

Maka ketika perpisahan telah datang, dengan berurai airmata sang guru menghantarkan siswa dan siswinya ke masa depan yang cemerlang. Dalam hati setiap guru itulah harap yang selalu dipanjatkan. Ketika anak-anak berpamitan menyalami dan mencium tangannya, sang guru turut meneteskan airmata yang tak dapat mengatakan sejuta perasaan yang tersimpan antara bahagia telah menuntaskan tugas memberi bekal untuk masa depan mereka dan sejuta kecemasan akan tantangan dunia yang akan mereka hadapi diluar sana. Hanya seuntai doa semoga segala ilmu yang telah diajarkan membawa manfaat bagi mereka agar mereka menjadi insan-insan tangguh dengan segudang pengabdian kepada masyarakat, siapapun mereka kelak dan apapun yang bisa dilakukannya adalah semata-mata semoga menjadi rohmatan lil’ Alamin, meskipun sang guru kelak tak akan pernah disebut-sebut sang guru tetap bangga pernah melukiskan setitik pena dihati mereka. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Stagnasi “Budaya Baca” Pengaruh Gadget dalam Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: