UN, Sonya, dan Urgensi Keluarga

15 Mei, 2016 at 12:00 am

Oleh Nurul Yaqin Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat

 

Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK Sederajat telah dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 7 April kemarin. Seperti sebelum-sebelumnya, pelaksanaan UN kali ini tak semulus harapan. Masih menyisakan cerita luka mendalam. Dan pasti luka menganga bagi dunia pendidikan. Ritual tahunan seperti konvoi, corat-coret seragam, tawuran dan pesta minuman keras seakan-akan telah mendarah daging. Anak didik kita telah terbius dengan kebiasan buruk yang saling berkelindan dari tahun ke tahun.

Masih jamak ditemukan aksi tak beradab yang dilakukan pelajar kita pasca UN kemarin. Pada Rabu (6/4/2016) tim Patiukan Polres Minahasa membekuk lima pelajar yang sedang berpesta miras (minuman keras) usai menjalani Ujian Nasional di Kota Tondano, Minahasa. Ketika digrebek, kelima pelajar laki-laki ini masih mengenakan seragam dan meneguk miras oplosan.

Di hari yang sama, polisi wanita (Polwan) sempat membekuk aksi konvoi di kota Medan setelah pelaksanaan UN. Polwan memberhentikan mobil yang di dalamnya terdapat beberapa orang siswi. Namun, salah seorang siswi (Sonya Depari Sembiring) yang akan ditilang oleh Ipda Perida Panjaitan melakukan tindakan arogan. Bahkan, siswi SMA Methodist I Medan ini mengaku sebagai anak Irjen Arman Depari yang kini menjabat sebagai Deputi Bidang Pemberantasan BNN (Badan Narkotika Nasional).

Aksi Sonya kali ini bisa dibilang nekat. Dengan ulahnya, pelajar ini ramai di perbincangkan di media sosial. Siswi berparas cantik ini telah melakukan tindakan yang sangat amoral. Tindakan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang terpelajar.

Perilaku tak berpendidikan yang ditampilkan Sonya dengan melawan dan memarahi Polwan ketika hendak ditilang, tak pelak menjadi sorotan publik. Apalagi tindakan arogansi murahannya yang mencatut nama salah seorang jendral, sempat menjadi perbincangan hangat di media-media massa.
Dilihat dari berbagai aspek, tindakan Sonya ini sangat tidak bisa dibenarkan. Jika kita buka kembali salah satu kriteria kelulusan peserta didik dalam UN, yaitu memperoleh sikap atau perilaku minimal baik, tentu tindakan yang dilakukan oleh Sonya merupakan perilaku yang jauh dari kategori baik. Perilaku Sonya yang jauh dari kata baik ini sangat pantas untuk tidak diluluskan dalam UN kali ini. Karena sangat menyimpang dari aturan tertulis yang telah ditentukan.

Peran Keluarga

Menurut para ahli pendidikan dalam buku Ayah Edy Punya Cerita (2013), ada tiga pihak yang paling berperan dalam merancang perilaku anak. Pertama, orangtua yang pada umumnya memegang lebih dari 60 persen. Kedua, guru yang pada umumnya memegang peran 20 persen. Dan sisanya, lingkungan dan pergaulan anak sehari-hari.
Mayoritas sikap anak di sekolah merupakan duplikasi sikap anak di rumah. Dan sikap anak di rumah ditentukan oleh peran keluarga, khususnya orangtua. Orangtua yang merupakan lingkungan paling dekat dengan anak, pasti akan membawa pengaruh dan semangat belajar yang tinggi, termasuk dalam menghadapi Ujian Nasional.

Peran orangtua di sini sangat dominan. Orangtua harus berada di garda terdepan dalam membimbing anak menyikapi UN, baik persiapan dalam menghadapinya maupun setelah melaksanakannya.
Orangtua yang baik, pasti mempunyai perhatian kuat terhadap pendidikan anaknya. Orangtua akan mengarahkan anaknya pada kebiasaan sabar dan berjuang dalam menghadapi UN. Mereka akan mengajarkan bahwa UN adalah wadah untuk menjadikan anak didik lebih mengerti arti kejujuran.

Maka dari itu, kedekatan orangtua dengan anak harus terjalin sejak dini. Orangtua harus membentuk keterikatan emosi antara dirinya dengan anaknya (attachment) agar pembentukan karakter pada diri anak bisa dibangun dengan mudah. Menciptakan komunikasi yang baik, membangun kebersamaan dengan anak, menciptakan suasana yang santai dan ceria, menjadikannya teman belajar dan memecahkan masalah, memberikan penghargaan ketika berhasil melakukan sesuatu yang positif, dan sentuhan seperti mencium kening anak akan menciptakan kedekatan emosi positif antara keduanya.

Apabila kedekatan emosi yang aman (scure attachment) telah terpatri, dengan sendirinya anak akan merasa tenang dan nyaman berada di samping orangtuanya. Sehingga anak berkembang secara sehat, lebih kreatif, berani menjadi pemimpin, bisa bergaul baik dengan teman, selalu menunjukkan emosi positif, semangat belajar tinggi sehingga cenderung mudah dalam meraih prestasi.
Selain itu, penanaman sikap dan akhlak yang baik (uswah hasanah) dari orangtua selalu menjadi nutrisi bagi anak agar bisa menjauhkannya dari sikap yang tak terpuji dalam mensyukuri kelulusan, seperti yang telah dilakukan Sonya. Siraman rohani yang baik dari orangtua bisa menjadi cambuk dalam menghadapi dan menyikapi UN dengan baik dan benar.

Jadi, intervensi orangtua dalam menghadapi UN tidak bisa terbantahkan. Orangtua menjadi kunci utama dalam menyelesaikan segala persoalan anak. Sehebat apapun aksi (menyimpang) yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam rangka meluluskan anak didiknya dalam UN, tidak akan berpengaruh jika anak telah ditanamkan kebenaran dan kejujuran sejak dini dari orangtua.

Menyongsong pelaksanaan UN untuk tingkat SMP/MTs dan SD/MI kali ini, peran aktif orangtua sangat diharapkan agar anak didik lebih bisa menyiapkan diri (lahir dan batin) dalam menghadapi UN. Campur tangan orangtua yang maksimal dan optimal menjadikan anak didik lebih sadar dan paham akan esensi UN. Sehingga tidak muncul lagi cacat tahunan yang berulang dan tidak lahir kembali Sonya-Sonya di masa mendatang. (Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Sepinya Peran Keluarga dalam Tema Hardiknas Stagnasi “Budaya Baca”


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: