Sepinya Peran Keluarga dalam Tema Hardiknas

7 Mei, 2016 at 12:00 am

JidiOleh Drs Jidi MSi
Pengelola Sekolah Lembaga Pendidikan Al Falah Surabaya

 

Sesuai dengan surat Mendikbud Nomor 19180/MPK.A/MS/2016, Hari Pendidikan National (Hardiknas) telah dihelat sebulan penuh. Tema pokok yang dicanangkan Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita. Ada pula empat tema pekanan yang digelar: kembali ke sekolah, ekspresi merdeka, anak adalah bintang, dan semua murid, semua guru. Upacara pun telah digelar di berbagai instansi di seluruh Indonesia.

Undangan yang hadir bukan hanya guru. Hadir dalam hajatan tahunan pendidikan itu Mendikbud Anies Baswedan. Meskipun demikian, terasa benar bahwa gegap gempita peringatan Hardiknas belum terisi dengan tema revitalisasi peran keluarga (orangtua) dalam pendidikan. Ada kesan, pendidikan terpotong uratnya menjadi pengajaran dan kurang memberi tempat pendidikan budi yang seharusnya banyak menjadi tugas keluarga.

Pergeseran Peran
Hardiknas identik dengan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, yang telah memancangkuatkan konsep ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Terjemahan ringkasnya adalah teladan, inspirator, dan motivator. Dalam konteks pendidikan, seorang guru hendaknya dapat memenuhi ketiga fungsi itu. Sementara tutwuri handayani (motivasi) telah terinternalisasi dalam pendidikan nasional kita, malahan secara resmi menjadi bagian dari lambang Kemdikbud yang dikukuhkan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977, tanggal 6 September 1977.

Dalam pendidikan, peran keluarga, terutama ayah dan ibu secara natural sebenarnya sudah cerdas, trampil, dan berperan besar sebelum melibatkan guru. Namun , pada era industri dan zaman yang orientasinya serba materi terus terjadi pergeseran. Fenomena mengindikasikan, semakin banyak anak yang terlantar meski tercukupi kebutuhan materi, oleh kedua orangtuanya yang juga masih hidup.

Mereka semakin minim merasakan belaian kasih sayang ayah ibunya. Mereka juga dalam resiko besar terdidik habis oleh ganasnya guru berupa mesin-mesin: TV, game, internet, gadget, dan sebagainya yang cenderung tak terkelola oleh keluarga. Akibatnya anak-anak semakin terkungkung oleh dunianya sendiri, egois, dan kuper atau kurang pergaulan.

Kondisi seperti itu masih ditambah, keluarga yang selalu sibuk dan banyak duitnya akan mudah pasrah secara bulat kepada pembantu rumah tangga dan sekolah untuk mengurus pendidikan anak-anaknya. Pendidikan yang seharusnya terpancang kuat dalam basis keluarga akan cepat tercerabut sampai akar-akarnya.

Tidakkah Tuhan telah menakdirkan pendidikan sebagai amanah orangtua? Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. …” (Q.S. An Nisa’:9). Dalam pekerjaan pendidikan, sekolah sifatnya membantu atau menjadi mitra penting orangtua. Pekerjaan pendidikan akademik oleh tua masih dapat didelegasikan kepada sekolah tetapi tanggung jawab pendidikan budi tetap melekat hingga terbawa mati.

Revitalisasi Peran Keluarga
Sudah saatnya ada revitalisasi peran keuarga dalam pendidikan. Sesat arah jika para penanggung jawab pendidikan berbagi kaveling. Misalnya sekolah didaulat sebagai pihak yang mendidik, orangtua dipatok sebagai pihak yang membiayai saja. Sama sesatnya jika ada pengavelingan tugas dalam keluarga, ayah cukup mencari biaya, sementara ibu yang mendidik putra-putrinya. Konyol sekali pengkotak-kotakan tugas seperti itu.

Jika perlu, revitalisasi peran keluarga diadopsi menjadi gerakan nasional. Mengapa? Karena dalam keluarga yang tangguh mutlak diperlukan seorang laki-laki andal yang jadi ayah sekaligus suami, perempuan yang tangguh sebagai ibu sekaligus istri. Diperlukan pula komitmen kuat keluarga untuk melahirkan generasi yang kelak kualitasnya lebih baik daripada ayah dan ibunya sendiri. Memang berat, sebab selama ini relatif belum ada sekolah untuk menjadi orangtua. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa tiba-tiba saja menjadi ibu, tiba-tiba saja menjadi ayah.

Kenaikan kelas kualitas generasi layak untuk dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan. Sudahkah kualitas generasi lebih baik dari pada orangtuanya? Jika sudah, berhasillah orangtua, dan sebaliknya. Sehingga para generasi itu tidak akan menjadi lagi beban orang lain atau negara. Mereka benar-benar menjadi generasi pemecah masalah dan bukan bagian dari masalah.

Beberapa Terobosan oleh Sekolah
Secara praktis dan teknis, revitalisasi peran keluarga dalam pendidikan anak dapat dilakukan di sekolah melalui beberapa cara. Misalnya pelibatan orang tua untuk memberi cerita pengalam atau semacam ceramah profesi. Forumnya dapat melalui parenting school atau apalah namanya.

Jika diperlukan, sekolah perlu menambah satu Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Urusan Orangtua. Tidakkah di kemendikbud sekarang juga sudah ada Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga? Tidakkah jika peran keluarga semakin minim makin berat pula pekerjaan sekolah?

Selain itu, upaya revitalisasi juga dapat melalui pemanfaatan buku penghubung yang setiap kali harus dicek dan ditandangi orangtua dan sekolah. Pola pengisiannya cukup dengan memberi tanda centang pada kolom yang ada.

Ada juga yang melalui pemanfaatan telepon. Bisa SMS, WA, twitter dan sebagainya. Bayangkan saja bila orangtua dari seorang siswa ditelepon guru, ditanyakan perkembangan belajarnya, ketaatan kepada orangtuanya, dan sebagainya, betapa besar dampak positifnya. Tidak ada alasan susah untuk cara yang satu ini karena hampir semua orangtua memiliki telepon.

Cara yang lain bisa juga mengadopsi model konferensi tiga jalur. Praktiknya, secara berkala sekolah mengundang siswa beserta orangtuanya ke sekolah untuk bertemu satu persatu dengan wali kelas dan kepala sekolahnya. Di forum konferensi itu disampaikan berbagai nasihat dan pembuatan komitmen bersama untuk budaya disiplin, berprestasi, zero sampah di sekolah, termasuk membuat target prestasi bersama. Siswa dibebaskan untuk membuat jadwal sendiri untuk belajar di rumah, untuk dipatuhi sendiri, untuk mencapai target yang telah dicanangkan.

Cara lain yang sekarang mulai banyak dilakukan sekolah adalah aplikasi telepon berantai. Operasinya, wali kelas menelepon satu siswa atau orang tua, kemudian siswa atau orangtua itu menelepon siswa atau orangtua lainnya sesuai dengan urutan mata rantainya yang sudah disepakati. Isi pembicaraan dapat ditentukan. Dalam praktiknya ini tidak telalu sulit atau banyak biaya karena satu orang hanya menelepon satu orang.

Dengan berbagai terobosan, semoga peran orangtua dalam pendidikan dapat direvitalisasi. Jika tidak, jangan-jangan malam-malam orangtua ditelepon polisi gara-gara anaknya terlibat tawuran, kebut-kebutan liar, judi, miras, apalagi narkoba. Kalau sudah begitu, tidakkah sebenarnya orangtua sudah masuk neraka sebelum mati? Padahal kelak di dalam kubur para orangtua masih harus menjawab pertanyaan malaikat tentang bagaimana menjalankan amanah pendidikan terhadap anaknya. Setelah itu giliran guru, kepala sekolah, kepala dinas, mendiknas, dan presidennya. (Kontak person: 081216338666. Email: jidisjb@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Tergadainya Peran Keluarga (Orangtua) UN, Sonya, dan Urgensi Keluarga


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: