Tergadainya Peran Keluarga (Orangtua)

25 April, 2016 at 12:00 am

Nurul YaqinOleh Nurul Yaqin SPdI
Guru MI Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat

 

Dalam sebuah buku parenting berjudul “Ayah Edy Punya Cerita” penulis menemukan sebuah kisah yang cukup mengharukan. Ceritanya begini. Seorang anak TK membuat gambar tentang my sweet home (keluargaku tercinta) yang disuruh oleh gurunya. Ketika tiba di rumah, dengan girang anak itu memperlihatkan hasil gambarnya kepada kedua orang tuanya. Ibu dan bapaknya tersentak kaget dan meneteskan air mata melihat gambar hasil anaknya. Bukan karena gambar itu tidak bagus, melainkan di sana hanya ada gambar anak, kakak, dan susternya. Ketika orang tuanya bertanya mengapa tidak ada gambar mereka. Dengan polosnya anak menjawab bahwa ibu dan bapaknya tidak pernah berada di rumah.

Terlepas cerita di atas fiksi atau tidak, setidaknya menjadi sindiran satir terhadap esensi keluarga saat ini. Bahkan bagi penulis cerita di atas bukan hanya hisapan jempol belaka tetapi benar adanya. Karena penulis pernah menemukan kisah serupa walaupun dalam pola yang berbeda, tetapi substansinya sama. Memang seperti itu potret keluarga masa kini, terlebih di kota-kota besar.

Bukan menjadi rahasia umum bahwa keluarga mempunyai peran sentral dalam kemajuan peradaban. Bahkan untuk menciptakan revolusi besar pun ada keterlibatan organisasi terkecil keluarga. Antara peran keluarga dan kemajuan tentunya tidak bisa dipisahkan. Hal ini telah dibuktikan oleh tokoh penting dalam sejarah yaitu Thomas Alva Edison. Nancy Alliot (ibunya) telah mendidik Tommy (nama panggilan Thomas Alva Edison kecil) dengan penuh cinta ketika tidak ada satu pun lembaga pendidikan yang bisa menerinya lantaran keterbelakangannya. Nancy selalu memotivasi dan mendorong Tommy melakukan apa yang disukainya. Sehingga Tomy menemukan sesuatu yang tidak pernah ada di zamannya yaitu lampu pijar yang manfaatnya kita gunakan sampai sekarang. Yang menjadi aktor utama dalam kisah kesuksesan Tommy tentu adalah keluarganya yaitu ibunya.

Televisi Ibu Kedua
Anak memang lahir dari seorang ibu. Tapi yang mendidik anak kita banyak sekali dan mayoritas kita tidak menyadari. Nah, saat ini televisi telah menggantikan peran keluarga dalam dunia anak. Televisi telah menjelma menjadi anggota keluarga bagi sang anak. Karena televisi telah menjadi pemeran paling konsisten dalam mendampingi anak kita saat ini. Tanpa sadar, televisi dengan racikan tayangan yang menarik dan tampilan yang selalu baru telah menjadi ibu kedua bagi anak-anak kita.

Mungkin orang tua lupa memberitahu anaknya bahwa pulang terlambat dari kerjanya, tapi televisi tidak pernah lupa menginformasikan perubahan tayangan film. Kesibukan orang tua dari pagi sampai sore menyebabkan tidak ada waktu untuk bersama anak. Tapi televisi selalu menemani anak kita kapan pun diminta. Televisi telah sukses mendidik anak kita dengan polanya. Dan orang tua terlena dengan kesibukannya. Makin jauh pula tenggat pengaruhnya.

Jika peran keluarga dalam hal ini orang tua telah terampas, maka tak jarang akan menimbulkan side effect bagi perkembangan anak. Anak menjadi malas belajar dan masuk sekolah lantaran tidak ada atensi dari orang tua. Sehingga prestasi anak rendah. Bahkan, anak juga bisa berperangai buruk dan amoral.

Menurut Munif Chatib dalam bukunya “Orangtuanya Manusia”, apabila tujuh tahun pertama dilewati oleh orangtua dengan cara yang salah, maka pada tujuh tahun kedua, orangtua akan banyak mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan anak. Akhirnya pada tahun tujuh ketiga, si anak tumbuh menjadi pribadi yang kehilangan kepercayaan dan moral.

Orangtua harus berada di garda terdepan dalam mendidik anak. Orangtua harus merebut perannya dan tidak boleh tersalip dengan pihak lain (televisi). Ada beberapa langkah yang harus dimiliki orang tua agar menjadi pihak terdepan dalam mendidik anak.

Pertama, orang tua harus menjadi yang pertama bagi anak dalam segala hal. Baik berupa informasi maupun tauladan yang baik. Prinsip psikologisnya siapa yang mengajarkan pertama kali, kemungkinan besar anak didik menjadikannya sebagai acuan kebenaran utama. Kedua, orangtua harus menjadi orang yang lebih dipercaya dari yang lain. Dalam psikologi pendidikan, 70 persen perilaku anak merupakan mirroring atau cerminan langsung dari perilaku orang tua. Hindari kebohongan kecil yang menyebabkan hilangnya kepercayaan anak. Semakin anak percaya kepada orang tuanya semakin bertambah pula kepatuhannya.

Ketiga, hindari pola asuh otoriter. Nabi SAW pernah berpesan yang isinya seperti ini “wahai sahabatku, kita hidup di zamannya, dan anak kita hidup di zamannya, maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya”. Jadi, semakin tidak menyenangkan pola asuh yang diterapkan kepada anak, akan semakin tidak mau anak menerima apa yang orang tua sampaikan. Sebaliknya, semakin menyenangkan pola asuh orangtua semakin besar anak akan menuruti orang tuanya. Keempat, tatap muka dan masukan terus-menerus kepada anak. Karena kesibukan orangtua, jangan sampai anak kita lebih dulu menerima hal-hal baru yang tak mendidik tanpa tahu akibat dan risikonya.

Jika orangtua telah merebut perannya dengan menerapkan cara-cara di atas, maka dengan sendirinya anak akan menjadikan orangtua sebagai dasar ataupun pijakan utama dalam mengatasi segala problematikanya. Sehingga anak lebih terarah, jauh dari perangai buruk, dan prestasi bisa diraih dengan mudah. Tidak akan ada lagi pihak ketiga. (Sumber : Koran Madura, 25 April 2016). Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Menjadi Diri Sendiri Sepinya Peran Keluarga dalam Tema Hardiknas


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: