Menjadi Diri Sendiri

24 April, 2016 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

Kata yang begitu sering kita dengar, karena memang seringnya dijadikan sebagai penyemangat oleh setiap motivator dalam setiap kesempatan agar orang lain atau yang menjadi audiens dalam suatu pertemuan itu menjadi penuh semangat dalam menghadapi apapun kondisi hidup. Menjadi tak heran hingga setiap orang selalu bilang ikuti kata hati jadilah dirimu sendiri. Lalu bagaimana caranya untuk menjadi diri sendiri tersebut sedangkan kita melihat ribuan kepribadian yang selalu mewarnai perjalanan kita dalam kehidupan sehari-hari, yang tentunya akan ikut memberi warna pada pembentukan sikap kita di masa yang akan datang maupun dalam mengambil keputusan apapun dimasa sekarang, yang jelas sangat menentukan langkah kita ke depan, yang pada akhirnya akan menjadi suatu identitas yang melekat pada diri kita.

Watak manusia atau karakter merupakan pembawaan sejak lahir sehingga ia tidak bisa berubah-ubah, namun sebagai individi yang sekian waktu bergaul dengan banyak orang kita harus bisa menutupi kekurangan dari watak kita yang kadang kasar, keras kepala dan berbagai watak lain yang kurang baik dengan sikap yang bisa kita bentuk dari berbagai masukan misalnya dari ilmu yang kita dapat selama menjalani pendidikan, masukan dari para senior yang berpengalaman diberbagai bidang. Kebanyakan kita peroleh dari lingkungan sosial kita selama bergaul dan melihat berbagai masyarakat dan tetangga kanan-kiri menyelesaikan masalah adalah guru yang sangat mumpuni, jangan menilai jelek ketika suatu saat ada permasalahan yang tak terselesaikan, sebaiknya kita ambil hikmah mengapa suatu permasalan bisa tidak dapat terselesaikan, tentu ada hal-hal yang sengaja tidak diungkap sehingga tak pernah ada penyelesaian. Persoalan apapun kalau adanya keterbukaan dari semua pihak pasti akan dapat diselesaikan.

Kadang watak tidak dapat kita kuasai, baik oleh pengaruh emosi kita sendiri maupun oleh faktor luar berupa kondisi yang memicu kita untuk berbuat di luar sadar sehingga sebuah perubahan yang tiba-tiba terjadi tersebut hanya dapat kita sesali karena sudah terlanjur terjadi dan baru kita sadari setelah kita menyadari bahwa itu adalah kesalahan, apalagi jika efeknya fatal. Manusia mempunyai pergaulan sosial yang sangat luas, bahkan tak dibatasi oleh waktu dan ruang karena mudahnya sarana teknologi. Pergaulan tersebut turut membentuk karakter yang beranekawarna sesuai dengan kemampuan dan daya serap dari masing-masing individu yang kemudian mengalami penyesuaian sesuai dengan watak asli seseorang.

Lalu bagaimana untuk menjadi diri sendiri, adalah suatu hal yang mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan. Marilah kita sedikit demi sedikit mulai menyadari apa kekurangan dan kelebihan kita, tetapi hendaklah kita selalu mawas diri, alangkah baiknya kita lebih mengakui banyak kekurangan kita daripada selalu membanggakan sedikit kelebihan kita. Setelah menyadari dan mengintrospeksi kekurangan tak ada salahnya dengan bertanya kepada teman terdekat kita bagaimana sikap kita selama ini dan mungkin dari teman tersebut ada saran terbaik demi kebaikan kita. Dengan menyadari kekurangan tersebut selanjutnya tutuplah sikap kita yang kurang baik dengan sikap yang telah kita pelajari dan menurut orang lain memang baik, bukan baik menurut diri sendiri.

Beberapa sikap kita yang kurang baik dan sangat sulit kita ubah, misalnya tidak sabaran, cerewet, keras kepala, harus kita tutup dengan sikap-sikap optimis agar kemudian muncul penilaian dari orang lain yang baik-baik, sikap yang kurang baik lainnya misalnya terlalu mementingkan diri sendiri atau terkesan cuek bisa kita tutup dengan mencoba sedikit-sedikit aktif dalam kegiatan sosial. Hal yang menjadi point penting adalah perlahan-lahan sedikit demi sedikit berusaha menghilangkannya walau belum mungkin seratus persen.

Jadi menjadi diri sendiri membutuhkan proses yang tak sebentar, butuh waktu dan perubahan sedikit demi sedikit untuk menyadari potensi diri dan memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk kepentingan diri dan orang lain. Kemudian menyadari kalau kekurangan kita terkadang menimbulkan perasaaan tidak senang dari orang lain ke kita serta berusaha menyadari bahwa orang lain adalah mitra yang harusnya menjadi partner dalam segala hal sesuai dengan kemampuan skill dan kemampuan pergaulan sosialnya.

Menjadi diri sendiri bukan menyombongkan apa yang ada pada diri kita agar orang lain tahu atau “inilah aku”, bukan pula membanggakan sikap dan sifat apapun dalam diri sendiri dengan tujuan menunjukan identitas kita yang terbaik. Menjadi diri sendiri berarti seutuhnya mengenali diri sendiri dengan berbagai kekurangan maupun kelebihan kemudian menggunakan kelebihan kita dalam lingkungan pergaulan sosial dan lingkungan kerja kita sehingga orang lain merasa kita patut diperlukan dalam kegiatan mereka untuk berbagai hal sesuai dengan kemampuan kita.

Dengan demikian maka tanpa kita harus meminta penilaian maka pasti orang akan mengenal dan mengetahui sosok dan pribadi kita sesuai yang mereka lihat dan amati, hingga pada akhirnya mereka dengan sendirinya mengetahui siapa diri kita melalui berbagai hal yang bermanfaat buat mereka dan orang banyak, itulah identitas kita yang sebenarnya yang melekat dengan sendirinya karena adanya proses alami . Mari menjadi diri sendiri dengan bermanfaat sebesar-besarnya untuk lingkungan dan orang lain.(Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Krisis Film Pendidikan Anak Tergadainya Peran Keluarga (Orangtua)


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: