Krisis Film Pendidikan Anak

19 April, 2016 at 12:00 am

Nurul YaqinOleh Nurul Yaqin
Guru Madrasah Ibtidaiyah Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat

 

Tanggal 17 Maret kemarin, salah satu stasiun televisi tanah air telah menghelat acara akbar Box Movie Award Indonesia tahun 2016. Salah satu ajang yang mengevaluasi dunia perfilman bangsa. Film merupakan seni yang bisa dibilang memiliki derajat paling tinggi di antara seni lainnya. Karena hanya seni perfilman yang mempunyai undang-undang sendiri, sedangkan cabang seni lainya tidak. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengucurkan dana sebesar 1,9 miliar dalam rangka memperingati Hari Film Nasional tahun ini.

Sepak terjang perfilman di Indonesia mengalami pasang-surut. Film yang pertama kali dirilis adalah film bisu dengan judul “Loetoeng Kasaroeng (1926)” yang disutradai oleh orang belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp. Saat itu bangsa ini belum bernama Indonesia tetapi Hindia-Belanda (Wilayah Jajahan Kerajaan Belanda). Sedangkan awal perfilman di Indonesia ditandai dengan berdirinya bioskop pada 5 Desember 1900 di Tanah Abang, Batavia yang masih menayangkan berbagai film bisu yang bernama Gambar Idoep.

Seiring kemajuan teknologi, dunia film pun mulai merangkak naik sekitar tahun 2000-an. Kita masih ingat, pada tahun 2008 dunia perfilman nasional dikejutkan oleh munculnya film fenomenal “Laskar Pelangi”. Film yang penontonnya menduduki peringkat teratas dalam kancah perfilman tanah air, mencapai 4.631.841 penonoton. Terbitnya film ini patut diapresiasi karena termasuk kategori film Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Tentu ini menjadi angin segar dalam produksi film dalam negeri di tengah lesunya dunia perfilman.

Produksi perfilman nasional saat ini telah bermetamorfosis. Baik film di bioskop maupun televisi. Munculnya film seperti Laskar Pelangi, Habibie Ainun, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, The Raid bahkan yang paling anyar Comic 8 adalah sinyal akan kemajuan industri perfilman saat ini. Namun, yang penulis sayangkan, majunya dunia perfilman kita lebih dominan bergenre drama percintaan, komedi, dan horor bahkan kekerasan. Hanya sedikit dari industri film tanah air yang mengangkat tema pendidikan, khususnya film pendidikan untuk anak.

Hari ini anak kita disuguhi dengan film-film yang tidak mendidik dan melanggar norma. Pada 11 Januari lalu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melayangkan belasan teguran dan aturan tertulis kepada hampir seluruh stasiun televisi Indonesia. Sebelumnya pada tanggal 26, 27, 28, 29, 31 Desember 2015 dan 3 Januari 2016, berdasarkan UU Penyiran dan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) KPI tahun 2012, KPI juga menjatuhkan sanksi administrati teguran tertulis kepada salah satu sinetron yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi. (Muvila.com 15/1/2016)

Hal ini dilakukan oleh KPI karena adegan yang ditayangkan mengandung unsur kekerasan seperti perkelahian, pengeroyokan sampai pingsan dan juga terdapat narasi negatif seperti kata “tolol ” dan “bego”. Selain itu, sinetron ini mempertontonkan adegan seorang remaja wanita mencium pipi pasangannya. Pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas norma kesopanan dan perlindungan anak dan remaja.

Tentu, setiap film mempunyai pesan yang akan disampaikan kepada publik. Pesan yang disampaikan dalam sebuah pertunjukan film bisa jadi lebih menyentuh hati dan bahkan membius penonton dengan alur dan kemasan yang menarik. Menurut Devito (1996) dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia, fungsi membius (narcotization) bisa diartikan ketika media menyajikan tayangan atau informasi tentang sesuatu, maka penerima memiliki kepercayaan mutlak untuk menerima. Sebagai akibatnya pemirsa atau penerima terbius ke dalam keadaan pasif, seolah-olah dipengaruhi narkotika.

Jika anak dan remaja telah dipengaruhi oleh film yang tak pantas, bukan hal yang mustahil mereka akan mudah melakukan tindakan yang amoral dan diskriminasi. Seperti kasus seorang anak kelas 1 SD di Pekanbaru akhir bulan April 2015 lalu yang meninggal lantaran dikeroyok oleh teman-temannya Karena meniru adegan salah satu sinetron di televisi.

Untuk membentengi semua itu, peran sentral orang tua sangat dibutuhkan. Orang tua harus lebih proaktif dalam melakukan kontroling terhadap keseharian anak. Memberikan pemahaman dalam memilih film yang positif. Menjadi tauladan (uswatun hasanah) bagi anak dengan meminimalisir tontonan yang jauh dari batas kewajaran.

Selain itu, KPI juga harus lebih aktif dalam mengawasi tayangan di televisi agar masyarakat terjamin memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan pasal 8 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran.

Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang ke-66 pada tanggal 30 Maret kemarin, menjadi harapan kolektif publik kepada para pemangku kepentingan (stakeholder) agar selalu meramaikan khazanah perfilman tanah air dengan tayangan film yang berkualitas, baik, penuh pesan moral, dan memicu semangat anak dan remaja di tengah krisinya film pendidikan anak hari ini. Semisal Joshua oh Joshua, Petualangan Sherina, dan Laskar Pelangi agar anak kita memperoleh haknya dalam menikmati tayangan film.

Dengan demikian, tujuan perfilman yang tercantum dalam pasal 3 UU No. 33 Tahun 2009 tentang perfilman bisa terwujud yaitu, terbinanya akhlak mulia, terwujudnya kecerdasan kehidupan bangsa, terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatnya harkat dan martabat bangsa, dikenalnya budaya bangsa oleh dunia internasional, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, dan berkembangnya film berbasis budaya bangsa yang hidup dan berkelanjutan. Amien. (Sumber: Koran Kabar Madura, 19 April 2016). Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com.

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Kristalisasi Hasil Belajar Menjadi Diri Sendiri


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: